Kota Malang, Bhirawa
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang mempertegas komitmennya dalam menjaga stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah Malang Raya, Pasuruan, dan Probolinggo. Melalui Pertemuan Lembaga Jasa Keuangan Wilayah Kerja OJK Malang Tahun 2026, OJK menekankan pentingnya sinergi lintas sektoral untuk menghadapi volatilitas pasar global.
Kegiatan yang mengusung tema “Harmoni Sektor Keuangan: Menjaga Resiliensi, Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas dan Berkelanjutan” ini digelar pada Selasa (24/2) kemarin. Momentum ini menjadi ajang konsolidasi strategis antara regulator, akademisi, dan pelaku industri jasa keuangan.
Kepala OJK Malang, Farid Faletehan menyampaikan, di tengah dinamika ekonomi global sepanjang 2025, sektor jasa keuangan di wilayah kerja OJK Malang tetap menunjukkan kinerja yang solid. Hal ini tercermin dari profil risiko yang terjaga serta fungsi intermediasi yang berjalan optimal.
”Resiliensi sektor jasa keuangan merupakan hasil sinergi yang kuat antara regulator dan industri, serta komitmen bersama dalam menjaga tata kelola, manajemen risiko, dan kepercayaan masyarakat,” ujar Farid di hadapan pimpinan lembaga jasa keuangan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Malang.
Farid menyampaikan per 31 Desember 2025, penyaluran kredit perbankan tumbuh positif 5,03 persen (yoy) dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 4,55 persen (yoy). Lonjakan signifikan terjadi pada pembiayaan modal ventura yang mencapai 16,12 persen (yoy) serta industri pergadaian yang tumbuh 54,36 persen (yoy).
Sementara itu, Ketua FKIJK Malang yang juga Area Head Malang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Muhammad Mahrus, menekankan urgensi akselerasi transformasi digital. Menurutnya, inovasi teknologi harus disertai penguatan manajemen risiko guna menghadapi dinamika industri yang semakin kompleks.
Hadir pula dalam pertemuan tersebut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang, Indra Kuspriyadi yang menyampaikan sinergi kebijakan makroekonomi.
Dari sisi akademisi, Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, Prof Candra Fajri Ananda SE MSc PhD, mengingatkan bahwa kepercayaan publik adalah fondasi utama keberlangsungan sektor keuangan.
”OJK bersama industri jasa keuangan perlu terus menjaga fondasi utama, yaitu kepercayaan publik,” pesan Prof Candra.
Untuk tahun 2026, OJK menetapkan tiga kebijakan prioritas. Pertama, penguatan ketahanan sektor jasa keuangan melalui pemenuhan modal minimum dan penguatan infrastruktur pengawasan berbasis Artificial Intelligence (AI).
Kedua, pengembangan ekosistem yang kontributif dengan mendukung program prioritas pemerintah seperti pembiayaan Koperasi Desa (KDKMP) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ketiga, pendalaman pasar keuangan dan pengembangan keuangan berkelanjutan guna mendukung target Net Zero Emission (NZE) nasional. [mut.kt]


