Angkutan mudik lebaran nasional di Indonesia, selalu menjadi periode transportasi paling kolosal sedunia. Melibatkan sekitar 144 juta jiwa orang berlalulintas di darat, laut, dan udara. Juga menggunakan kereta-api. Sampai Pemerintah (pusat dan daerah) perlu memfasiltasi penyelenggaraan sistem mudik lebaran gratis. Sekitar 300 ribu orang akan mengikuti program mudik gratis selama cuti panjang lebaran 1447 Hijriyah (2026). Khususnya masyarakat kalangan buruh dan pekerja. Pendaftaran mudik gratis sudah dibuka.
Pemerintah daerah DKI Jakarta, serta Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, juga menyediakan fasilitasi angkutan mudik gratis. Terutama dari pos pemberangkatan Jakarta, terdapat 661 bus, dengan kuota 26.500 orang, tujuan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Begitu pula Pemprov Jawa Barat menyediakan “jemputan khusus” ke seantero tanah Sunda. Begitu pula Pemprop Jawa Tengah, menyediakan angkutan mudik dari pos Semarang, ke berbagai daerah.
Pemprop Jawa Timur, juga menyediakan serratus unit armada bus mudik gratis. Dari pos Surabaya, dengan tujuan 20 kabupaten dan kota. Arah timur sampai Banyuwangi (dan Jember). Serta ke arah barat sampai Ponorogo, Pacitan, dan Magetan. Termasuk “jemputan khusus” dari pos Jakarta ke arah Jawa Timur. Kuota mudik gratis Jawa Timur diperkirakan mencapai 8 ribu tempat duduk. Juga angkutan sepedamotor sebanyak 200 unit. Serta armada kapal laut dengan 12 kali pelayaran, dari pelabuhan Jangkar (Situbondo) tujuan pulau Raas, dan Sapudi.
Pemerintah pusat menyediakan (melalui BUMN, dan Kementerian) menyediakan armada bus mudik gratis sebanyak 401 unit bus pariwisata (cukup mewah). Dengan kapasitas hampir 15.830 ribu kursi. Juga terdapat tambahan kapal laut, khusus ke Sumatera, dan Kalimantan. Puncak arus mudik diprediksi akan terjadi pada tanggal 16-18 Maret (H-1-2). Bahkan Pemprop Sumatera Barat, juga menyediakan menyediakan 250 armada bus, dalam program “Pulang Basamo.”
Sehingga seluruh masyarakat (yang tidak mampu) dijamin bisa mengikuti program mudik gratis. Tinggal warga beberapa pulau di Jawa Timur belum bisa menikmati fasilitasi mudik gratis. Antara lain ke kepulauan pulau Masalembu yang terletak di pulau Jawa (antara pulau Kalimantan dengan pulau Madura). Serta pulau Kangean, paling ujung Jawa Timur, sejauh 168 kilometer dari Kalianget, Sumenep timur.
Walau fasilitasi mudik gratis sangat massif, namun tetap tidak mengurangi “panen raya” angkutan seluruh moda transportasi. Bus antar-propinsi (AKAP), kereta-api, kapal laut, dan maskapai penerbangan, semuanya tetap full booking. Padahal harga tiket telah dinaikkan. Pemandangan di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makasar, dan Pelabuhan Gorontalo, sudah menurunkan ribuan penumpang dari Jawa. Begitu pula Pelabuhan Parepare, Donggala (di Silawesi Tengah), Kendari, dan Buton (di Sulawesi Tengah), sudah tiba dari Jawa.
Pada akhir pekan, bertepatan Nuzulul Quran (17 Ramadhan) seluruh pelabuhan di Kalimantan, serta Sumatera bagian utara, sudah dipenuhi arus mudik. Begitu pula pelabuhan Jayapura di teluk Yos Sudarso, dan Pelabuhan Merauke (Papua Selatan) sudah diantre penumpang menuju Jawa. Juga Pelabuhan di seantero Nusa Tenggara Barat (NTB), dan NTT, sudah melabuhkan penumpang dengan kapasitas penuh. Termasuk membawa mobil pribadi, bus, sepedamotor, dan truk.
Secara adat, mudik pulang kampung bagai wajib. Bahkan tidak mudik dianggap mengingkari adat tradisi, dihukum pengucilan sosial. Kecuali yang sakit, serta “apes” (secara ekonomi, dan terkena musibah) boleh tidak pulang kampung. Mudik, tidak lupa membawa rezeki hasil bekerja selama setahun. Dengan berbagai cerita merantau, ditunggu sanak keluarga dan tetangga. Menjadi berkah kemakmuraan di kampung.
——— 000 ———


