Oleh
Dr Nurul Humaidi, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang
Ramadan bukan sekadar jeda dari rutinitas makan dan minum. Ia adalah momentum koreksi diri, bahkan kritik terhadap cara manusia memaknai ambisi, kuasa, dan hasratnya sendiri.
Secara semantik, Ramadan berasal dari kata ar-ramadh yang berarti panas membakar. Namun, yang seharusnya terbakar bukan hanya tumpukan dosa, melainkan juga “kerak” keserakahan manusia. Jika kita menilik sejarah awal penciptaan, jatuhnya Nabi Adam AS bukan disebabkan oleh kurangnya ilmu, melainkan karena godaan keabadian dan kekuasaan (syajaratul khuldi). Dalam perspektif ini, puasa hadir sebagai pendidikan spiritual tahunan agar manusia belajar menahan diri dari kecenderungan yang sama.
Pengendalian Diri sebagai Inti
Inti puasa adalah pengendalian diri, bukan sekadar menahan lapar dan haus. Hal ini dibuktikan secara fikih: orang yang makan atau minum karena lupa, puasanya tetap sah. Artinya, esensi puasa bukan terletak pada rasa lapar di perut, melainkan pada kemampuan kognitif dan spiritual untuk mengontrol diri. Siapa pun yang gagal menahan diri-apakah ia pejabat, orang kaya, maupun rakyat biasa-pasti akan jatuh ke dalam kenistaan.
Dalam mencapai kemajuan, umat Islam dituntut memiliki keberanian intelektual. Perubahan metode, seperti transformasi dari rukyat menuju hisab hingga gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal, bukanlah sebuah inkonsistensi. Sebaliknya, itu adalah keberanian membaca realitas dengan pendekatan ilmiah. Pembaruan hanya berlaku pada instrumen, sementara substansi ibadah tetap merujuk pada tuntunan Rasulullah SAW.
Tiga Tingkatan Puasa
Untuk mencapai derajat takwa yang paripurna, setidaknya ada tiga tingkatan puasa yang harus dilalui:
Puasa Jasmani: Pengendalian fisik dari hal-hal yang membatalkan.
Puasa Nafsani: Disiplin lisan dan perilaku sosial untuk tidak menyakiti sesama.
Puasa Ruhani: Orientasi total dan kedekatan spiritual kepada Allah SWT.
Jika seseorang masih gemar berdusta dan menyakiti orang lain, maka Allah tidak memiliki kepentingan terhadap lapar dan dahaganya. Pesan ini sangat relevan bagi dunia akademik dan profesional yang kerap terjebak di antara dua ekstrem: spiritualitas tanpa intelektualitas yang berujung ritualisme kering, atau intelektualitas tanpa kepedulian sosial yang melahirkan kesombongan.
Pada akhirnya, Ramadan harus diposisikan sebagai laboratorium etika, bukan sekadar tradisi yang berakhir bersama gema takbir Idulfitri. Kampus dan institusi sosial lainnya harus menjadi ruang pembentukan karakter untuk belajar menahan diri dari penyalahgunaan kuasa dan kerakusan jabatan. Kemajuan sejati tidak hanya diukur dari capaian intelektual, tetapi dari keberhasilan manusia menundukkan dirinya sendiri. [*]


