32 C
Sidoarjo
Wednesday, February 4, 2026
spot_img

Mewaspadai Ancaman Penyebaran Super Flu

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

Memasuki tahun 2026, ancaman kesehatan terutama penularan virus melalui perantara udara (airborne respiratory diseases) terus menghantui publik tanah air. Di tengah berbagai bencana akibat deforestasi yang kian masif, muncul permasalahan kesehatan baru yang sedikit banyak akan berdampak pada ancaman Kesehatan minimal produktivitas masyarakat. Meski tidak sedasyat pnemunia, TBC, flu burung, SARS (Severe acute respiratory syndrome) atau Covid-19 namun keberadaan virus influenza A H3N2 subclade K atau Super Flu dapat menjadi pemicu penyakit ikutan lainnya dengan laju penyebaran yang cepat. Selain itu, meski dikenal mirip dengan flu biasa namun sekecil apapun penyakit tentu berdampak pada Kesehatan terutama pada kelompok rentan seperti bayi, balita, anak-anak, ibu hamil dan menyusui serta kelompok usia lanjut. Tercatat, virus yang berasal dari Influenza A (H2N3) subclade K telah ditemukan 62 kasus di Indonesia yang tersebar di 8 provinsi dengan jumlah tertinggi di Jawa Timur yakni sebanyak 23 pasien positif superflu (Harian Bhirawa,12 Januari 2026).

Karakteristik
Dalam memahami karakteristik virus, tingkat penularan, spektrum gejala klinis, kelompok risiko, potensi komplikasi serta efektivitas langkah-langkah pencegahan dan pengobatan, termasuk vaksinasi atau imunisasi. Selain itu sejauhmana potensi dan dampak atas penularan super flu harus menguji beberapa aspek antara lain, epidemiologi. Seberapa cepat penyebarannya dan di wilayah mana saja kasus ini muncul. Virologi dimana pola mutasi atau subklade spesifik yang membuat varian ini berbeda dari flu musiman biasa, pengembangan klinis dimana perbandingan gejala dengan flu biasa (gejala “super flu” dilaporkan lebih berat, seperti demam tinggi dan nyeri otot parah) serta upaya manajemen kesehatan masyarakat, termasuk strategi, mitigasi, diagnosis cepat, dan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat.

Berita Terkait :  Saatnya Wujudkan Program Makan Bergizi Gratis

Penularan yang relatif sangat cepat, terutama di musim tertentu, seperti musim hujan dimana kondisi udara yang relatif lembab memungkinkan penyebaran virus menjadi lebih cepat, di sisi lain tren kasus musiman influenza terasa lebih intens di beberapa wilayah serta terjadi peningkatan kasus di banyak negara secara bersamaan. Meskipun demikian, berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi, varian ini tidak terbukti memiliki tingkat keparahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan influenza musiman yang sudah ada sebelumnya. Setidaknya terdapat faktor-faktor lingkungan dan perilaku yang berkontribusi terhadap penyebaran cepat pada musim-musim ini meliputi pertama, suhu dingin dan kelembapan rendah. Terdapat studi yang menunjukkan virus influenza bertahan lebih lama di udara dan di permukaan benda pada kondisi udara yang dingin dan kering sehingga kondisi ini diperkiraan berkembang cepat pada bulan-bulan ini. Kedua, perilaku berkumpul di dalam ruangan dan disertai dengan kontak erat serta kepadatan di ruangan. Secara perilaku, orang akan cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan yang berventilasi buruk saat cuaca dingin atau hujan sehingga meningkatkan kontak dekat dan risiko penularan dari orang ke orang.

Ketiga, sistem kekebalan (imunitas) tubuh. Paparan terhadap suhu dingin yang ekstrem dapat memengaruhi respons kekebalan tubuh terhadap virus pernafasan. Meksi demikian secara medis, tindakan diagnosis penyakit superflu, perlu adanya uji lanjut dengan pengujian di laboratorium. Pengujian tersebut disebut dengan WGS (Whole Genome Sequencing) untuk mendeteksi DNA virus H2N3 pada manusia. Selain itu, superflu juga memiliki penularan yang lebih cepat dari flu biasa. Berkaca pengalaman kasus Covid-19 yang menyebar sangat cepat antar wilayah bahkan antar negara sehingga dinyatakan pandemi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Oleh karena itu setiap potensi ancaman penyakit harus diwaspadai meski tidak panik. Potensi penularan dan penyebaran ke depan sangat bergantung pada tiga faktor utama, yakni apakah terjadi mutasi besar yang membuat virus menjadi benar-benar baru, apakah tingkat penularan dan keparahan meningkat tajam, serta apakah penularan antarnegara terjadi secara luas. Perilaku pencegahan dan antisipatif menjadi kunci terutama ketika berada dalam kerumunan dan diruang tertutup.

Berita Terkait :  Memaknai Liburan, Mereduksi Ekses Kemacetan

Strategi Pencegahan
Sebenarnya Super Flu adalah istilah populer, bukan istilah medis resmi, yang digunakan untuk menggambarkan strain atau varian influenza yang masih dimungkinkan menyebabkan gejala lebih parah atau bertahan lebih lama dari flu biasa. Namun demikian hingga saat ini tingkat kefatalan (fatality rate) dan kematian sangat rendah sehingga diyakini tidak sampai membuat masyarakat panik dan cemas namun perlu wqspada dan tindakan antisipatif (mitigasi resiko penularan). Dalam konteks pencegahan terdapat dua strategi pencegahan yang efektif yaitu Pertama, menerapkan Pola Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) misalnya mencuci tangan dengan sabun secara rutin, menjaga etika batuk dan bersin, menggunakan masker saat gejala muncul, menghindari menyentuh wajah dengan tangan kotor dan cukup istirahat dan konsumsi gizi seimbang serta olahraga teratur. Kedua, adalah melakukan tindakan protektor dari dalam tubuh dalam rangka mengurangi resiko terjangkit dengan memunculkan daya tahan (antibody) melalui mekanisme metabolisme dalam tubuh yakni melakukan imunisasi tahunan vaksin influenza, sehingga tetap direkomendasikan, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit penyerta (komorbid) dimana daya vaksin ini bisa mengurangi risiko sakit berat dan rawat inap.

————– *** —————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru