Oleh :
Dr Alfian Dj. M.H
Staf Pengajar Madr. Muallimin Muhammadiyah Yogya. Sekretaris Majelis Hukum HAM PP Muhammadiyah
Ramadan hadir sebagai madrasah spiritual bagi setiap mukmin. Bulan Ramadan dipenuhi limpahan rahmat, setiap amal kebajikan telahAllah janjikan pahala yang berlipat ganda, bahkan bila dilakukan dengan dasar keimanan serta kesungguhan maka diampuni segala dosa yang terdahulu, Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa dosanya yang telah lalu (HR Bukhari dan Muslim)
Di tengah upaya mengejar pahala besar,kadang kala tanpa sadar membiarkan “celah-celah kecil” menjadi lubang yang menguras habis kumpulan pahalapuasa yang dikumpulkan. Saat Ramadan petuah banyak petuah yang disampaikan oleh para pemuka agama untuk menjaga lisan dari ghibah dan fitnah.
Perjuangan menjaga lisan dari ghibah dan fitnah bukan perkara mudah terlebih saat ini telahkedua hal tersebut bisa lebih mudah dilakukan karena telah berpindah ke dalam genggaman, penghapus pahala tidak lagi melalui lisan semata, akan tetapi bisa menyelinap dari perangkat ponsel pintar/Gawai yang ada disaku serta dibawa ke mana mana.
Celah penghapus pahala bisa hadir hanya melaluigawai layar sentuh dan aplikasi media sosial yang tertanan didalamnya. Dibulan Ramadan perlu kiranya melakukan refleksi secara mendalam, apakah puasa tahun ini sudah benar benar dipersiapkan agar berkualitas, ataukah masih terjebak rutinitas menahan lapar dan haus dan melelahkan yang hadir tanpa makna?.
Puasa sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga semata. Rasulullah SAW dalam hadits yang di riwayat Imam Ahmad memberikan peringatan, yang artinya :”Banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan haus saja”. Rasulullah mengamanahkan bahwa puasa fisik tanpa diiringi puasa batin dan anggota tubuh lainnya hanay berujung sia-sia.
Di era disrupsi informasi, makna menahan lisan telah bermigrasi ke jemari, semua begitu mudah untuk mengetik/menulis komentar baik atau buruk. ghibah lewat media sosial begitu mudah tanpa harus beranjak dari tempat duduk, begitu juga halnya dengan perkara menghujat. Baik mengunggah postingan atau menulisnya di kolom komentar media sosial, bahkan untukorang orang yang belum dikenal dan bertemu sebelumnya. Sejatinya hal tersebut memiliki bobot dosa yang setara dengan mengucapkannya secara langsun, bahkan efek destruktifnya bisa jauh lebih masif.Bila diucapkan secara lisan, ucapkan hanya didengar oleh segelintir orang, lalu menguap, beda halnya dengan “lisan digital” jejaknya akan permanenbahkan kelak saat kita telah dipanggil yang kuasa, konten tersebut tetap bisa beredar dan terus memproduksi dosa yang mengalir tanpa henti kepada pengunggahnya.
Sebelum tekhologi digital datang dalam kehidupan manuia, Allah telah mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, prinsip Tabayyun (cek dan ricek) harus selalu dikedepankan dan menjadi harga mati yang tak bisa ditawar. Prinsip “Saring sebelum Sharing” harus dijalankan terlebih dahulu, sebelum jemari menekan tombol kirim, bertanyalah pada nurani, apakah berita ini benar?,jika benar, apakah ada manfaatnya jika disebarkan?.
Pertanyaan sederhana tersebut adalah benteng diri, bukan hanya agar terhindar dari konsekuensi hukum yang khawatir melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), tetapi juga agar tidak mengurangi nilai ibadah. Hal penting yang selalu diingat ruang digital bukan ruang tanpa batas, jejak digital akan menjadi saksi, baik di hadapan hukum maupun di hadapan Allah Swt.
Harapan
Kesucian bulan Ramadan harusdigunakan untuk berbenah, aktivitas scrolling media sosial yang memicu kedengkian harus dihindari. Ramadan harus menjadi momentum untuk melakukan “detoksifikasi digital”. Mari mengubah fungsi perangkat pintar menjadi ladang amal, bukan ladang dosa.
Menahan diri dari makan dan minum adalah pencapaian, menahan jempol dari mengetik hal yang tidak bermanfaat adalah wujud ketakwaan yang nyata di era modern. jemari harus selalu dijaga, agar saat Idulfitri tiba benar benar kembali fitrah dengan tabungan pahala yang utuh, bukan kantong amal yang bocor akibat ketikan jari sendiri.
Jika mampu menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, seharusnya juga mampu menahan jempol dari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, menuliskan komentar yang melukai, atau terlibat dalam perdebatan yang sia-sia. Setiap gerak jari di media sosial adalah cerminan hati dan akal. Prinsip “Saring sebelum Sharing” bukan hanya sekadar slogan, tetapi wujud nyata dari ajaran Al-Qur’an. Semoga upaya menjaga “lisan digital” menjadi saranamendapatkan predikat takwa yang dijanjikan Allah untuk mukmin yang menjalankan ibadah puasa.
————– *** ————–


