27 C
Sidoarjo
Tuesday, March 24, 2026
spot_img

Menjaga “Fitrah” di Luar Bulan Syawal

Gema takbir yang beberapa waktu lalu memenuhi angkasa kini telah meluruh, digantikan oleh deru mesin kendaraan dan keriuhan aktivitas harian yang kembali normal. Lebaran, dengan segala kemeriahan dan ritual mudiknya, telah kita lalui. Namun, saat tumpukan kaleng biskuit mulai kosong dan silaturahmi fisik mulai mereda, sebuah pertanyaan besar tertinggal di benak kita: apa yang sebenarnya tersisa dari madrasah Ramadan dan kemenangan Idulfitri?

Secara sosiologis, Lebaran di Indonesia adalah fenomena luar biasa. Kita menyaksikan jutaan orang bergerak membelah pulau demi sebuah kata bernama “maaf”. Kita melihat kedermawanan memuncak melalui zakat dan sedekah. Namun, seringkali kita terjebak dalam euforia musiman. Kita seolah-olah “pensiun” dari kesalehan begitu hilal Syawal tampak.

Pesan pertama yang ingin saya sampaikan adalah mengenai konsistensi moral. Selama Ramadan, kita dilatih untuk menahan diri-bukan hanya dari lapar, tapi dari amarah, ghibah, dan keserakahan. Pasca-Lebaran adalah ujian sesungguhnya. Apakah kejujuran yang kita pupuk saat berpuasa akan tetap bertahan saat kita kembali berhadapan dengan target pekerjaan, birokrasi, atau godaan materi? Sangat disayangkan jika kesalehan kita hanya bersifat “kontrak satu bulan”.

Kedua, mari kita soroti makna silaturahmi. Lebaran memang berhasil mencairkan kekakuan antar-keluarga dan tetangga. Namun, jangan sampai semangat persaudaraan ini menguap begitu saja. Di era digital ini, sangat mudah untuk terhubung namun sulit untuk benar-benar “hadir”. Pesan pasca-Lebaran yang paling kuat adalah bagaimana kita menjaga jembatan yang telah dibangun kembali saat Idulfitri agar tidak terputus lagi oleh ego dan kesibukan semu. Jangan biarkan maaf yang kita ucapkan hanya menjadi formalitas di ujung lidah tanpa bekas di hati.

Berita Terkait :  Menanamkan Sejuknya Toleransi di Tengah Ibadah Puasa

Ketiga, aspek lingkungan dan gaya hidup. Pasca-Lebaran, kita sering melihat sisa-sisa konsumerisme yang tinggi-mulai dari sampah plastik yang melonjak hingga pola makan yang kembali tak terkendali. Fitrah seharusnya bermakna kembali ke asal, kembali ke kesederhanaan. Mengendalikan nafsu konsumtif setelah sebulan berpuasa adalah bentuk kemenangan yang lebih nyata daripada sekadar pamer baju baru.

Anindita Putri
Kedurus, Surabaya

Berita Terkait

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!