Oleh:
Luthfi J Kurniawan
Sekretaris II PDM Kota Malang
Agama Islam tidak pernah memisahkan antara keimanan dan tanggung jawab terhadap alam. Sebagai khalifah, manusia memikul amanah besar untuk menjaga keseimbangan jagat raya. Ekoteologi menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian integral dari iman. Menjaga bumi bukan sekadar urusan dunia, melainkan bekal untuk akhirat.
Rasulullah SAW telah memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa jika seseorang menanam pohon, lalu buah atau daunnya dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, maka hal itu dihitung sebagai sedekah. Bahkan dalam situasi perang yang genting sekalipun, Nabi melarang perusakan pohon dan lingkungan. Jika dalam kondisi perang saja alam harus dihormati, betapa berdosanya kita jika merusak alam di masa damai demi ego dan ketamakan.
Allah SWT telah menciptakan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan, namun manusia diperintahkan untuk berusaha merawatnya. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Yasin ayat 34-35:
“Dan Kami jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur, dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?”
Ayat ini mengingatkan bahwa hasil bumi adalah sinergi antara karunia Tuhan dan ikhtiar tangan manusia. Tanpa campur tangan manusia yang bijak, bibit unggul sekalipun tidak akan membuahkan hasil yang maksimal.
Langkah kecil kita hari ini-seperti menghemat air, menanam pohon di halaman rumah, atau memilah sampah-mungkin terasa sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten, dampaknya akan sangat besar bagi keberlangsungan generasi mendatang. Keimanan yang sejati tidak hanya terpancar dari doa yang kita panjatkan di atas sajadah, tetapi juga dari jejak manfaat yang kita tinggalkan untuk bumi yang kita pijak. Semoga kita menjadi hamba yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara ekologis. [*]


