25 C
Sidoarjo
Wednesday, February 4, 2026
spot_img

Mengapa Penyakit Jantung Jadi Pembunuh Utama?

Oleh :
Prima Trisna Aji
Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

Di era serba cepat saat ini, waktu terasa menjadi barang yang sangat mewah. Sarapan disambar di jalan, makan siang dikejar oleh deadline, sedangkan makan malam ditemani layar gawai atau handphone. Pola ini seakan menjadi wajah keseharian masyarakat urban saat ini. Ironisnya, di balik efisiensi semu itu, tersimpan bahaya besar yaitu penyakit jantung yang perlahan menjelma menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2023), penyakit kardiovaskular terutama jantung koroner, menyebabkan 17,9 juta kematian setiap tahun di dunia. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat penyakit jantung sebagai penyebab kematian tertinggi dengan lebih dari 650 ribu kasus pada 2022. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga melaporkan prevalensi penyakit jantung sebesar 0,85 persen dari seluruh penduduk, yang berarti jutaan orang Indonesia hidup dengan gangguan kardiovaskular. Pada kelompok usia lanjut, prevalensinya bahkan melonjak sebesar 2,65 persen pada usia 55 – 64 tahun dan 4,6 persen pada usia di atas 75 tahun.

Makan cepat, yang sering dianggap sepele, ternyata berhubungan erat dengan risiko ini. Kebiasaan tersebut membuat tubuh gagal mengontrol asupan, meningkatkan risiko obesitas, hipertensi, dan kolesterol tinggi menjadi tiga faktor utama pemicu serangan jantung.

Jantung, Mesin yang Rentan
Jantung sendiri merupakan mesin utama kehidupan. Ia bekerja tanpa henti, bahkan saat kita tidur. Namun, mesin sekokoh apa pun akan rusak jika terus dipaksa tanpa perawatan.

Berita Terkait :  Kabupaten Sidoarjo Butuh Dana dari Pusat dan Provinsi untuk Membangun

Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan garam, diperparah dengan pola makan terburu-buru, membuat tubuh tidak sempat merespons sinyal kenyang. Akibatnya, kalori berlebih menumpuk, beban kerja jantung meningkat, dan pembuluh darah perlahan tersumbat oleh plak aterosklerosis.

Kini fenomena serangan jantung di usia muda semakin sering terdengar. Banyak pekerja 30-an tahun tiba-tiba tumbang di kantor atau rumah, padahal sebelumnya terlihat sehat. Budaya kerja panjang, stres tinggi, kurang olahraga, dan pola makan instan mempercepat risiko. Sebuah studi di Journal of the American Heart Association (2022) menyebutkan, orang yang terbiasa makan cepat memiliki risiko sindrom metabolik hampir dua kali lipat dibanding mereka yang makan perlahan.

Kisah Nyata
Kasus publik figur di Indonesia menunjukkan betapa nyata ancaman ini. Haerul Amri, anggota DPR, meninggal akibat serangan jantung pada Mei 2024 di usia 51 tahun. Hanya delapan tahun sebelumnya, dunia hiburan dikejutkan oleh kabar wafatnya Irena Justine, artis muda berusia 22 tahun, saat syuting karena serangan jantung mendadak.

Dua kisah berbeda generasi ini memperlihatkan bahwa penyakit jantung tidak lagi hanya milik lansia. Ia bisa datang kapan saja, bahkan pada mereka yang masih muda dan terlihat sehat.

Pencegahan yang Terlupakan
Meski ancamannya sangat besar, pencegahan sebenarnya sangatlah sederhana. Mengunyah makanan perlahan membantu tubuh mengenali sinyal kenyang, sehingga asupan tidak berlebihan. Mengurangi gorengan, daging olahan, dan minuman manis, lalu memperbanyak buah, sayur, ikan, dan kacang-kacangan merupakan langkah mendasar yang sering diabaikan.

Berita Terkait :  Tinjau Penyaluran Bantuan Pangan, Wali Kota Kediri Vinanda Pastikan Tepat Sasaran

Aktivitas fisik harian seperti jalan kaki, bersepeda, atau sekadar naik tangga sudah cukup menjaga kebugaran bagi kesehatan jantung. Mengelola stres melalui doa, meditasi, atau istirahat dari layar gawai juga memberi waktu istirahat bagi jantung. Pemeriksaan kesehatan rutin seharusnya jadi gaya hidup, bukan sekadar tindakan saat sakit.

Namun, banyak orang justru lebih rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk obat dan operasi bypass daripada meluangkan 20 menit untuk makan dengan tenang. Inilah paradoks yang membuat penyakit jantung terus menempati peringkat teratas penyebab kematian.

Peran Edukasi dan Kebijakan
Tanggung jawab pencegahan tidak bisa dibebankan pada individu semata. Pemerintah, sekolah, perusahaan, dan tenaga kesehatan mempunyai peran yang sangat penting. Edukasi gizi harus dimulai sejak dini agar anak-anak terbiasa dengan pola makan sehat.

Di lingkungan kerja, perusahaan sebaiknya menyediakan waktu makan siang yang cukup, menu sehat di kantin, serta ruang untuk olahraga karyawan. Sementara itu, kebijakan publik perlu diperkuat: pelabelan gizi yang jelas, pembatasan iklan makanan cepat saji, hingga pajak pada minuman bergula bisa menjadi strategi nasional menekan beban penyakit jantung.

Penutup
Data terbaru dari SKI tahun 2023 dan kisah nyata para publik figur memberi pesan yang sangat jelas bahwa penyakit jantung bukan sekadar ancaman abstrak, tetapi bahaya nyata yang bisa menimpa siapa pun.

Penyakit ini bukan vonis takdir. Ia lahir dari kebiasaan yang tampak sepele, seperti makan cepat, memilih makanan instan, dan mengabaikan istirahat. Jika ingin mengubah masa depan, kita perlu mulai dari langkah kecil seperti memperlambat suapan, memilih makanan sehat, dan merawat jantung sejak dini.

Berita Terkait :  Bupati Banyuwangi Dukung Bupati HM Sanusi Tanam Tebu Varietas Cening di Kabupaten Malang

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita akankah kita akan terus hidup dalam budaya “makan cepat” yang mengantar pada “sakit cepat”, atau membangun budaya baru dengan makan sehat, hidup sehat, dan menjaga jantung berdetak lebih lama demi generasi mendatang.

———— *** —————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru