29 C
Sidoarjo
Wednesday, March 11, 2026
spot_img

Mengakhiri Ramadan, Pentingnya Sekolah Mengajarkan Refleksi Diri

Oleh:
Aisyah Anggraeni
Mahasiswa S3/Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar

Menjelang akhir Ramadan, suasana batin masyarakat biasanya berubah. Ibadah semakin khusyuk, doa semakin panjang, dan banyak orang mulai melakukan muhasabah alias refleksi diri. Puasa tidak hanya melatih menahan lapar dan haus, tapi juga mengajak manusia melihat ke dalam dirinya sendiri: apakah selama satu bulan ini kita menjadi pribadi yang lebih baik?

Pertanyaan semacam ini sebenarnya sangat penting dalam pendidikan. Ia menyentuh kemampuan dasar manusia untuk menilai dirinya sendiri. Namun jika pertanyaan itu kita tarik ke dunia sekolah, muncul kegelisahan yang tidak sederhana: apakah sekolah juga mengajarkan refleksi diri seperti yang diajarkan Ramadan?

Sekolah selama ini dipahami sebagai tempat membentuk manusia. Akan tetapi dalam praktiknya, pendidikan sering kali lebih sibuk mengukur prestasi akademik daripada menumbuhkan kesadaran moral. Nilai ujian, skor rapor, dan peringkat kelas menjadi ukuran utama keberhasilan. Sementara kemampuan yang lebih mendasar, yakni kemampuan memeriksa diri sendiri, sering kali tidak mendapat perhatian yang cukup.

Dalam situasi seperti ini, belajar mudah berubah menjadi sekadar perlombaan angka. Akibatnya, proses belajar kehilangan kedalaman. Siswa belajar bukan selalu untuk memahami, tapi untuk memperoleh nilai yang baik. Tekanan untuk mendapatkan skor tinggi sering kali membuat proses belajar menjadi pragmatis. Tidak sedikit siswa yang akhirnya memilih jalan pintas.

Berita Terkait :  Ada SE Kementrian Keuangan, Perbaikan Rehab Gedung Dewan Ditunda

Masalah integritas akademik pun masih menjadi persoalan serius dalam pendidikan Indonesia. Survei integritas pendidikan beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa praktik menyontek masih ditemukan di sebagian besar sekolah dan perguruan tinggi. Indeks integritas pendidikan nasional juga masih berada pada kategori korektif, yang menunjukkan bahwa budaya kejujuran akademik belum sepenuhnya kuat.

Angka-angka ini seharusnya menjadi peringatan penting. Menyontek bukan sekadar pelanggaran aturan sekolah. Ia mencerminkan lemahnya kesadaran moral dalam proses belajar. Siswa mungkin mengetahui bahwa tindakan itu salah, tapi sistem pendidikan yang terlalu menekankan hasil akhir sering membuat proses belajar dikorbankan. Dalam jangka panjang, budaya semacam ini berisiko menumbuhkan generasi yang terbiasa mencari jalan pintas.

Persoalan pendidikan Indonesia sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan integritas, tapi juga dengan kualitas akademik. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) terbaru menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia berada pada angka 359 poin, matematika 366 poin, dan sains 383 poin. Angka ini masih jauh di bawah rata-rata negara-negara maju yang berada di kisaran 470 hingga 480 poin.

Situasi ini menciptakan paradoks yang cukup tajam. Di satu sisi integritas akademik masih menjadi masalah. Di sisi lain kemampuan akademik juga belum optimal. Dengan kata lain, pendidikan kita menghadapi dua tantangan sekaligus: meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkuat karakter.

Sayangnya, dua agenda ini sering diperlakukan secara terpisah. Reformasi pendidikan biasanya berfokus pada peningkatan literasi dan numerasi. Sementara pendidikan karakter sering ditempatkan sebagai pelengkap melalui kegiatan seremonial atau slogan moral. Padahal karakter tidak tumbuh dari slogan.

Berita Terkait :  Pemkab Nganjuk Belum Membuka Wisata Bendungan Semantuk untuk Umum

Karakter lahir dari kebiasaan refleksi. Seseorang menjadi jujur bukan karena ia menghafal definisi kejujuran, tapi karena ia terbiasa menilai dirinya sendiri secara jujur. Seseorang menjadi bertanggung jawab bukan karena membaca teori moral, tapi karena ia berani mengakui kesalahannya. Di sinilah persoalan pendidikan kita.

Sekolah sering mengajarkan siswa untuk menjawab pertanyaan guru, tapi jarang mengajarkan siswa untuk mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri. Padahal pertanyaan semacam itu jauh lebih penting: apakah saya sudah belajar dengan jujur? Apakah saya sudah menghargai orang lain? Apakah saya menggunakan waktu dengan baik?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini adalah inti dari refleksi diri. Sayangnya, ritme kehidupan sekolah modern sering terlalu padat untuk menyediakan ruang refleksi. Jadwal pelajaran penuh, target kurikulum menumpuk, dan evaluasi datang silih berganti. Guru harus mengejar materi, sementara siswa mengejar nilai. Dalam situasi seperti ini, refleksi sering menjadi hal yang terabaikan.

Di sinilah Ramadan memberikan pelajaran yang menarik bagi dunia pendidikan. Puasa mengajarkan manusia untuk memperlambat ritme hidup. Ia melatih pengendalian diri, kesadaran batin, dan kejujuran terhadap diri sendiri.

Ramadan bukan sekadar ritual keagamaan. Ia adalah proses pendidikan moral yang sangat kuat. Jika nilai-nilai ini dapat dihadirkan dalam praktik pendidikan sehari-hari, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tapi juga ruang pembentukan karakter.

Langkahnya sebenarnya tidak selalu rumit. Sekolah dapat mulai dengan membiasakan praktik refleksi sederhana dalam proses belajar: memberi ruang bagi siswa untuk mengevaluasi pengalaman belajarnya, membuka diskusi tentang nilai dan tanggung jawab, serta memandang kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.

Berita Terkait :  Peduli Lingkungan, PWI Jombang - DLH Tanam Pohon di Desa Pakel

Yang tidak kalah penting, guru perlu menjadi teladan refleksi itu sendiri. Pendidikan karakter tidak akan efektif jika siswa melihat ketidaksesuaian antara nilai yang diajarkan dan praktik yang mereka saksikan.

Pada akhirnya, Ramadan selalu berakhir dengan satu pertanyaan sederhana: apakah kita berubah? Pertanyaan ini sesungguhnya juga merupakan pertanyaan pendidikan yang paling mendasar. Belajar seharusnya tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga memperbaiki diri.

Jika sekolah ingin benar-benar membentuk manusia, maka refleksi diri harus menjadi bagian dari budaya belajar. Ramadan mengajarkan refleksi selama satu bulan setiap tahun. Sekolah seharusnya mengajarkannya sepanjang waktu.

————- *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!