Oleh:
Aliza Zhafarina
Guru Sosiologi SMAN 2 Bondowoso dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Airlangga
Beberapa waktu lalu, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur bersama Detasemen Khusus 88 gencar mendatangi sekolah SMA/SMK di kabupaten/kota di Jawa Timur untuk melakukan penguatan terkait bahaya intoleransi, radikalisme, terorisme. Hal ini dilakukan sejak mencuatnya kasus radikalisme di Indonesia, di mana setidaknya 11 pelajar Jawa Timur terpapar paham ekstrim. Angka tersebut sekaligus merupakan angka nomor 3 kasus terbanyak di Indonesia, di belakang DKI Jakarta dengan 15 orang dan provinsi Jawa Barat dengan 12 orang. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman radikalisme terasa dekat dan nyata.
Keikutsertaan pelajar pada radikalisme di era saat ini dimulai dari penggunaan ruang digital yang sangat dekat dengan mereka. Proses penjaringan anggota bukan lagi door to door seperti metode lampau, melainkan melalui media yang melekat pada setiap insan sejak bangun tidur, hingga kembali tertidur: internet.Pelajar tidak bisa dipisahkan dengan dunia digital. Ruang digital saat ini menjadi “ruang kelas kedua” bagi anak-anak. Melalui algoritma, anak-anak terpapar pada frekuensi, durasi, dan intensitas konten radikal secara konsisten sehingga nilai tersebut dianggap sebagai kebenaran baru. Di sisi lain, tingginya frekuensi penggunaan ruang digital tidak sebanding dengan pengawasan yang dapat dilakukan.
Mengapa konten-konten ini begitu mudah merasuk ke dalam kognisi pelajar? Dalam kacamata sosiologi, Jean Baudrillard menyebut fenomena ini sebagai hiper realitas. Konten radikal saat ini tidak lagi tampil kaku, melainkan dikemas dengan narasi kepahlawanan tentang perjuangan dan dunia ideal (utopia) yang estetik. Bagi seorang pelajar, citra digital ini sering kali terasa jauh lebih nyata dan menggairahkan daripada realitas harian mereka di sekolah yang mungkin terasa membosankan. Terjadi semacam jebakan simulasi. Anak-anak kita sulit membedakan mana video propaganda yang telah melalui proses penyuntingan sinematik dengan realitas kekerasan yang sesungguhnya di lapangan. Di mata mereka, terpapar paham ekstrem bisa saja dianggap terlihat keren atau terasa seperti sedang menjalankan misi penyelamatan dalam sebuah video game. Realitas digital yang semu ini perlahan mengaburkan batas moralitas dan empati di dunia nyata.
Namun, sihir hiper-realitas digital ini tidak akan mempan jika ikatan sosial pelajar di dunia nyata masih berdiri kokoh. Pembahasan Teori Ikatan Sosial dari Travis Hirschi mengingatkan bahwa seseorang cenderung menyimpang ketika ikatan mereka dengan masyarakat melemah. Dalam konteks pelajar di Jawa Timur, kita perlu jujur mengevaluasi tiga elemen penting:
Pertama, pudarnya kelekatan (attachment). Hubungan emosional antara anak dengan guru di sekolah atau orang tua di rumah mungkin sedang merenggang. Ketika seorang anak merasa tidak lagi didengar atau kehilangan figur teladan di ruang fisik, mereka akan mencari pelarian ke komunitas digital. Di sanalah, kelompok radikal hadir menawarkan penerimaan dan pengakuan tanpa syarat yang selama ini mereka rindukan.
Kedua, adanya kekosongan keterlibatan (involvement). Kita perlu bertanya, apakah kurikulum dan kegiatan di sekolah sudah cukup bermakna untuk menyerap energi serta kreativitas mereka? Jika pelajar tidak merasa sibuk atau terlibat dalam nilai-nilai positif, mereka memiliki waktu luang yang sangat besar untuk bertualang di belantara informasi yang salah. Tanpa kesibukan yang membangun karakter, narasi radikal akan dengan mudah mengisi ruang kosong tersebut.
Ketiga, terjadinya krisis keyakinan (belief). Saat nilai-nilai moderasi, toleransi, hingga demokrasi dianggap hanya sebagai jargon yang tidak mampu menjawab persoalan hidup mereka, anak-anak akan mencari alternatif. Narasi radikal sering kali menawarkan sistem keyakinan baru yang terlihat lebih solid dan menjanjikan kepastian, meskipun di baliknya terdapat kehancuran.
Melihat fenomena ini, sekolah harus berani melakukan redefinisi peran. Di era digital, tugas transfer ilmu kini jauh lebih mudah dan bisa diambil alih oleh YouTube, AI, atau berbagai platform belajar online lainnya. Jika sekolah hanya bertahan sebagai tempat memindahkan informasi dari buku ke kepala siswa, maka kita akan kalah telak oleh kecepatan algoritma.
Yang tidak bisa digantikan oleh teknologi adalah restorasi ikatan sosial melalui kurasi emosional. Sekolah harus bertransformasi menjadi ruang di mana emosi siswa dirawat dan diarahkan. Di sinilah pentingnya memperkuat elemen attachment (kelekatan) antara guru dan murid sebagai pagar emosional yang kokoh. Ketika pagar ini kuat, narasi radikal dari luar tidak akan mudah menembus masuk.
Salah satu kunci utamanya terletak pada peran Guru Wali. Tugas Guru Wali yang terpisah dari Wali Kelas tidak lagi terjebak pada urusan administratif semata, seperti mengisi rapor atau mengecek kehadiran, melainkan untuk mendampingi siswa secara intensif dalam hal akademik dan karakter sejak siswa masuk hingga lulus sesuai dengan Permendikdasmen No. 11 tahun 2025.
Guru Wali adalah garda terdepan yang mendampingi siswa secara personal. Supaya maksimal, pembagian guru wali dibuat dengan perhitungan jumlah murid yang tersedia dibagi jumlah guru mata pelajaran kecuali kepala sekolah. Karena siswa yang dibimbing tidak terlalu banyak, maka sejatinya mereka harus menjadi sosok yang pertama kali menyadari jika ada perubahan perilaku, kegelisahan, atau kekosongan makna dalam diri siswanya. Lebih dari sekedar pendampingan akademik, pendampingan yang lebih personal adalah bentuk nyata dari kehadiran negara dan masyarakat di hidup para pelajar. Dengan hadir sebagai pendengar yang baik dan mentor yang empatik, guru wali membentuk murid tangguh. Murid yang merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan gurunya akan memiliki rasa memiliki (sense of belonging) terhadap nilai-nilai yang diajarkan di sekolah, sehingga mereka tidak perlu mencari validasi di ruang-ruang digital yang gelap.
Pada akhirnya, menangkal radikalisme pada pelajar bukan tentang seberapa canggih pemerintah, sekolah, atau pihak terkait dalam memblokir situs web maupun aplikasi melainkan seberapa hangat kita merangkul dan menyapa anak didik kita di ruang kelas.
———— *** ————–


