29 C
Sidoarjo
Wednesday, April 1, 2026
spot_img

Membangun Resiliensi Guru untuk Masa Depan Pendidikan

Oleh:
Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd.
Mahasiswa S3/Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar

Pendidikan Indonesia sering dipuji karena berhasil memperluas akses sekolah bagi hampir seluruh anak usia belajar. Sekolah kini hadir hingga ke pelosok desa. Angka partisipasi sekolah pada jenjang pendidikan dasar bahkan sudah melampaui 95%. Secara statistik, ini menunjukkan kemajuan yang besar dibandingkan beberapa dekade lalu ketika masih banyak anak Indonesia yang tidak sempat merasakan bangku sekolah.

Namun keberhasilan memperluas akses pendidikan tidak selalu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Ketika kualitas pendidikan diukur melalui kemampuan literasi, numerasi, dan penalaran siswa, gambaran yang muncul justru cukup mengkhawatirkan. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menunjukkan skor literasi membaca siswa Indonesia berada di kisaran 359, matematika sekitar 366, dan sains sekitar 383. Angka ini masih jauh tertinggal dibandingkan rata-rata negara maju yang berada di kisaran 470 poin.

Angka tersebut memberi pesan yang jelas: sekolah memang semakin banyak, tetapi proses belajar belum sepenuhnya menghasilkan kemampuan berpikir yang kuat. Banyak siswa yang mampu menghafal materi pelajaran, tetapi belum terbiasa menganalisis masalah, menafsirkan informasi, atau menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

Dalam situasi seperti ini, perhatian terhadap kualitas guru menjadi sangat penting. Pendidikan pada akhirnya berlangsung di ruang kelas melalui interaksi antara guru dan peserta didik. Di situlah masa depan pendidikan sebuah bangsa sebenarnya dibentuk.

Indonesia memiliki jumlah guru yang sangat besar. Data statistik pendidikan menunjukkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 3,3 juta guru yang mengajar di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Secara kuantitatif, jumlah ini terlihat cukup untuk melayani puluhan juta siswa di seluruh Indonesia.

Berita Terkait :  Antisipasi Musim Tanam Ketiga DKPP Ajukan Tambahan Pupuk Subsidi

Namun jumlah yang besar tidak otomatis menjamin kualitas pembelajaran yang baik. Persoalan pendidikan kita sering kali justru berkaitan dengan kemampuan sistem pendidikan untuk mendukung guru menjalankan peran profesionalnya secara optimal.

Guru saat ini menghadapi situasi yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Mereka tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu mengembangkan metode pembelajaran kreatif, memanfaatkan teknologi digital, serta memahami karakter peserta didik yang semakin beragam.

Pada saat yang sama, guru juga harus berhadapan dengan berbagai tuntutan administratif yang sering kali menyita waktu dan energi. Laporan pembelajaran, penilaian kurikulum, dokumen administrasi sekolah, hingga berbagai kewajiban birokratis membuat ruang refleksi pedagogis guru menjadi semakin sempit.

Di banyak sekolah, guru juga harus mengajar kelas dengan jumlah siswa yang cukup besar dan latar belakang kemampuan yang sangat beragam. Dalam situasi seperti itu, menerapkan pembelajaran yang benar-benar berpusat pada peserta didik tentu bukan pekerjaan yang mudah.

Selain itu, persoalan distribusi guru juga masih menjadi tantangan. Di beberapa daerah perkotaan, jumlah guru relatif cukup bahkan berlebih. Namun di wilayah terpencil, masih banyak sekolah yang kekurangan tenaga pendidik.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah perubahan karakter generasi peserta didik. Anak-anak yang sekarang duduk di bangku sekolah tumbuh dalam lingkungan digital yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka terbiasa memperoleh informasi secara cepat melalui internet dan media sosial.

Kondisi ini menuntut pendekatan pembelajaran yang lebih dialogis, partisipatif, dan kreatif. Guru tidak lagi cukup hanya menyampaikan materi pelajaran. Mereka harus mampu membangun pengalaman belajar yang bermakna.

Ironisnya, ketika tuntutan terhadap kreativitas guru semakin besar, sistem pendidikan sering kali masih berjalan dalam pola yang kaku dan birokratis.

Berita Terkait :  Selama 2024, Jumlah PMI Jatim Ditempatkan Sebanyak 79.001 orang

Dalam situasi seperti ini, gagasan tentang pendidikan yang berpusat pada peserta didik menjadi semakin relevan. Menariknya, konsep ini sebenarnya bukan hal baru dalam tradisi pendidikan Indonesia.

Sejak awal abad ke-20, tokoh pendidikan nasional telah menekankan pentingnya pendidikan yang memerdekakan potensi manusia. Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak.

Bagi Ki Hadjar Dewantara, pendidikan bukan sekadar proses mengisi kepala siswa dengan pengetahuan. Pendidikan adalah proses membantu anak mengembangkan potensi yang sudah ada dalam dirinya.

Pandangan ini tercermin dalam semboyan pendidikan yang sangat terkenal: Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Makna semboyan ini sangat mendalam. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga teladan, penggerak semangat, dan pendamping dalam perjalanan belajar siswa.

Sayangnya, filosofi pendidikan yang sangat humanistik ini sering kali tidak sepenuhnya tercermin dalam praktik pendidikan sehari-hari. Pembelajaran di banyak sekolah masih didominasi metode ceramah yang membuat siswa menjadi pasif. Padahal dalam dunia yang berubah sangat cepat, kemampuan menghafal tidak lagi cukup. Dunia modern justru membutuhkan individu yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan adaptif.

Dalam diskursus pendidikan global, gagasan yang memiliki kesamaan dengan pemikiran tersebut muncul melalui konsep pola pikir bertumbuh atau growth mindset. Konsep ini menekankan bahwa kecerdasan dan kemampuan manusia bukan sesuatu yang tetap. Kemampuan dapat berkembang melalui latihan, usaha, dan pengalaman belajar yang berkelanjutan.

Pola pikir bertumbuh mengubah cara pandang terhadap kegagalan. Kesalahan tidak lagi dianggap sebagai bukti ketidakmampuan, tetapi sebagai bagian dari proses belajar. Jika konsep ini dipadukan dengan filosofi pendidikan nasional, terlihat bahwa keduanya memiliki titik temu yang sangat kuat. Keduanya sama-sama menempatkan pendidikan sebagai proses pertumbuhan manusia. Namun gagasan pendidikan yang ideal tidak akan terwujud tanpa guru yang memiliki ketahanan profesional yang kuat. Di sinilah pentingnya membangun resiliensi guru.

Berita Terkait :  Polres Sampang Ungkap 23 Kasus Narkoba

Resiliensi guru berarti kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan terus berkembang di tengah berbagai tekanan dan perubahan. Guru yang resilien tidak mudah menyerah ketika menghadapi kelas yang sulit. Ia tidak cepat menyalahkan siswa ketika pembelajaran tidak berjalan sesuai harapan. Sebaliknya, ia akan mencoba mencari cara baru untuk memperbaiki proses belajar. Resiliensi juga berkaitan dengan keberanian untuk terus belajar. Guru yang memiliki pola pikir bertumbuh tidak takut mencoba metode baru, memanfaatkan teknologi, atau mengevaluasi praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan.

Namun membangun resiliensi guru tidak bisa hanya dibebankan pada individu guru semata. Sistem pendidikan juga harus berubah. Sekolah perlu menjadi komunitas belajar bagi para guru. Guru harus memiliki ruang untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, dan melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran yang mereka jalankan. Kebijakan pendidikan juga perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi kreativitas guru. Terlalu banyak regulasi yang kaku justru dapat mematikan inovasi pembelajaran.

Pada akhirnya, kualitas pendidikan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau teknologi yang digunakan di sekolah. Pendidikan adalah proses manusiawi yang sangat bergantung pada kualitas interaksi antara guru dan peserta didik.

Karena itu, masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar di tingkat nasional. Ia juga ditentukan oleh kualitas manusia yang berdiri di depan kelas setiap hari. Di ruang kelas yang sederhana sekalipun, masa depan bangsa sebenarnya sedang dibentuk, yakni melalui guru yang sabar menuntun, menginspirasi, dan menyalakan semangat belajar pada generasi muda.

————– *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!