Sebagai orang tua murid, saya menyambut positif inisiatif pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai digulirkan. Program ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesehatan anak-anak sekolah dan membantu perbaikan gizi nasional sejak dini. Saya meyakini, anak yang sehat adalah fondasi utama untuk mencetak generasi emas Indonesia yang berkualitas.
Namun, di balik semangat tersebut, saya menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap implementasi di lapangan. Berdasarkan beberapa informasi, isu mengenai transparansi anggaran, kualitas makanan, hingga potensi keracunan makanan di sekolah menjadi catatan kritis yang harus diperhatikan. Program ini jangan sampai hanya menjadi ajang pemborosan anggaran tanpa hasil nyata.
Penyusunan menu harus benar-benar berbasis pada nilai gizi, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Selain itu, pelibatan UMKM lokal dalam penyediaan makanan adalah langkah tepat, namun keamanan dan higienitas pangan wajib diprioritaskan. Saya berharap Badan Gizi Nasional dapat memastikan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bekerja sesuai standar operasional yang tinggi.
Lebih lanjut, koordinasi antara pihak sekolah, penyedia makanan, dan orang tua harus transparan. Jangan ada lagi ketakutan atau klausul yang memberatkan orang tua terkait risiko program ini, seperti yang pernah terjadi di beberapa daerah. Program ini harus memberikan ketenangan, bukan kecemasan.
Harapan saya, MBG dapat berjalan dengan konsisten, aman, dan tepat sasaran. Semoga ini menjadi investasi jangka panjang yang membawa berkah, bukan sekadar proyek sesaat.
Warga Peduli Pendidikan,
Tinggal di Pacet, Kabupaten Mojokerto

