Kota Malang, Bhirawa
Eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kini tidak lagi sekadar konflik regional di Timur Tengah. Posisi Indonesia yang baru-baru ini bergabung dalam Board of Peace (BoP)-di bawah kepemimpinan AS-dinilai menempatkan Tanah Air dalam zona rawan tekanan geopolitik yang kompleks.
Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya (UB), Abdullah SSos MHub Int mengungkapkan, posisi Indonesia saat ini berada dalam konfigurasi yang tidak sepenuhnya menguntungkan. Keberadaan AS sebagai pemimpin utama dalam BoP membuat Indonesia rentan terhadap tarikan kepentingan besar.
”Indonesia berada dalam konfigurasi yang rawan tekanan. Kita bisa menghadapi tekanan diplomatik, ekonomi, bahkan keamanan untuk menunjukkan keberpihakan,” ujar Abdullah saat memberikan analisisnya di kampus UB, kemarin.
Menurut Abdullah, jika Indonesia dipersepsikan condong pada salah satu blok, risiko friksi dengan blok kekuatan lain menjadi nyata. Dampaknya tidak main-main: mulai dari hambatan perdagangan, penurunan investasi, hingga gangguan kerja sama pertahanan.
Namun, sikap terlalu defensif atau ambigu pun menyimpan bom waktu. ”Jika terlalu ambigu, kredibilitas Indonesia sebagai middle power yang konsisten dengan politik luar negeri bebas aktif bisa dipertanyakan. Kita berisiko dinilai kurang berperan dalam menegakkan hukum internasional,” tegasnya.
Abdullah mengingatkan, ketegangan global ini akan ‘mampir’ ke dapur masyarakat hingga bangku perkuliahan. Gangguan stabilitas energi global dipastikan memicu lonjakan harga BBM dan kebutuhan pokok.
”Bagi mahasiswa, dampaknya nyata. Biaya transportasi naik, harga kebutuhan pokok meningkat. Dalam jangka menengah, jika subsidi energi membengkak, anggaran publik untuk pendidikan dan beasiswa bisa ikut terimbas,” tambahnya.
Publik diminta jeli melihat bahwa konflik ini adalah murni urusan politik dan kedaulatan (sesuai Pasal 51 Piagam PBB), bukan konflik internal dunia Islam antara Iran dan negara Teluk.
Edukasi Kampus Universitas berperan membendung narasi ideologis simplistik yang berpotensi memicu sel radikal di dalam negeri. Stabilitas Nasional: Perlunya menjaga keseimbangan agar polarisasi global tidak merembet menjadi polarisasi domestik.
Waspadai Polarisasi IdeologisMenyikapi hal ini, Universitas Brawijaya melalui forum akademik seperti Iran Corner terus berupaya menghadirkan perspektif berbasis data. Abdullah menekankan pentingnya tokoh masyarakat dan akademisi memberikan pemahaman komprehensif agar konflik ini tidak digeser menjadi isu ideologis yang sensitif.
”Penting bagi kampus menjelaskan bahwa ini persoalan politik internasional. Edukasi publik harus bijaksana agar tidak mengaktifkan kembali pemikiran ekstrem atau polarisasi di tengah masyarakat,” tandasnya. [mut.fen]


