Bulan Ramadhan sudah datang, sebagian umat sudah banyak yang menjalankan ibadah puasa. Bahkan ada yang lebih mendahului. Terdapat perbedaan di kalangan umat wajib diharapkan menjadi rahmat (berkah), sebagai ragam dakwah. Namun diyakini, Ramadhan tahun ini akan semakin ruah dengan jaminan konsumsi untuk berbuka puasa, dan sahur. Dipastikan tiada seorang umat yang kelaparan, karena tidak bisa makan. Di masjid, mushala, sampai di jalan-jalan raya, akan dibagikan makanan gratis untuk berbuka.
Di berbagai masjid, juga diselenggarakan makan sahur gratis. Walau sebenarnya perekonomian sedang dalam “ujian” ke-tidak pasti-an global.Berawal dari MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang membekukan saham-saham Indonesia dari portofolio miliknya. MSCI merupakan industri manajemen aset (dengan membuat indeks dan pemeringkat), meliputi saham senilai US$ 139 trilyun. Sehingga keputusannya sangat berpengaruh terhadap negara-negara di seluruh dunia.
MSCI menyorot transparansi dan akurasi data free float (jumlah saham yang tersedia untuk publik) di bursa Indonesia. Kekhawatiran transparansi bisa berpotensi penurunan status Indonesia. Berujung aksi jual makin masif. Diduga telah terjadi capital outflow (aliran modal keluar) sebesar lebih dari US$ 2 milyar (setara Rp 33,5 trilyun). Bahkan muncul lagi penilaian internastional, Moody’s, mengubah pringkat kredit Indonesia menjadi negatif.
Moody’s menyoroti meningkatnya ketidakpastian dan koherensi dalam pembuatan kebijakan. Serta komunikasi kebijakan yang dinilai lemah. Sampai Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran Kementerian Ekonomi menggelar sarasehan ekonomi bertajuk “Indonesia Ekonomic Outlook.” Namun tak lama lagi, bulan Ramadhan akan menjadi dewa penolong perekonomian Indonesia. Terutama menggairahkan pelaku UMKUM (Usaha Mikro, Kecil, dan Ultra Mikro).
Seluruh pelaku usaha, khususnya kalangan ritel, berpengharapan besar pada bulan Ramadhan. Bulan ketika umat Islam menjalankan ibadah puasa. Terasa bagai penglipur kegetiran. Karena selama dua bulan perekonomian global tidak menentu. Mendekati bulan Ramadhan, semakin besar potensi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Tetapi “bingkai” moralitas Ramadhanterbuktiberhasil mengalahkan keresahan ekonomi.
Bulan Ramadhan selama berabad-abad telah menjadi puncak belanja rumahtangga. Belanja bahan kuliner menjadi tumpuan pelaku restoran, dan warung makan. Karena setiap muslim yang tergolong “berada” akan menyelenggarakan jamuan makan, buka puasa bareng. Begitu pula mal, dan toko fesyen, penuh sesak dikunjungi pembeli. Produk pakaian lokal, dan impor, sama-sama laku keras. Setiap gerbang masuk mal, telah ditulis Marhaban Ya Ramadhan, SelamatIdul Fitri1447 H.
Kesalehan sosial, berupa hubungan sosial (kolaborasi) terjalin lebih baik. Begitu pual kesalehan di medsos (media sosial) semakin nampak. Berita hoaksberkurang. Tetapi informasi palu masih tetap ramai. Disebabkan “tukang konten” tidak beradab, dan orang-orang murtad, yang mencari penghasilan dengan informasi palsu. Sebagian tokoh Islam juga masih terjebak kebiasaan politik ghibah.
Sebagianumat Islam, tidakberhasil “menjaga puasa” dengan perilaku positif yang mengiringi kewajiban agama. Melainkan masih sukamemfitnah, danmenggunjing. Bahkanpadapergaulandigital (medsos) sangatbanyak posting (danshare) ujarankebencian. Ada pula remaja yang menebarterortawuransaatsahur, menyebabkankegaduhansosial di perkampungan. PadahalsesuaiparadigmabulanRamadhan, seharusnya”setanterbelenggu.”Perilaku”standar”Ramadhan,adalahtidakmerugikan orang lain, disiplin, jujur, sertaberucapdengan kata-kata yang menyejukkan.
Namun yang lebihmengkhawatirkanadalahefisiensi APBN dan APBD. Fasilitasipemerintahterhadapmasyarakatniscayaberkurang.Kinerja APBN juga APBD propinsi serta APBD Kabupaten dan Kota, akan terasa seret, mampat. Sehingga diperlukan kolaborasi, gotongroyong “rakyat membantu rakyat.” Tidak bergantung pada pemerintah.
——— 000 ———

