Kota Malang, Bhirawa
Kreativitas mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dalam menjawab tantangan krisis energi nasional kembali membuahkan prestasi membanggakan. Lewat inovasi pengolahan limbah sawit menjadi bioetanol, Tim ‘Perwira Agak Laen’ dari Departemen Teknik Kimia UB sukses menyabet Juara 3 dalam ajang bergengsi Chemical Engineering Universe (Cheverse) 2026.
Prestasi ini tergolong luar biasa lantaran dua punggawa tim, Ahmad Hisyam Shidqi dan Kevin Ainal Rizki Fadillah, harus beradu gagasan dengan tim-tim tangguh dari jajaran kampus papan atas Indonesia, seperti UI, ITB, dan UGM di babak Grand Final yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Pertamina, belum lama ini.
Di bawah bimbingan Ir Diah Agustina Puspitasari ST MT PhD, mereka mengusung karya ilmiah bertajuk “Pemanfaatan Limbah TKKS Menjadi Bioetanol: Evaluasi Metode Simultaneus Sacharification and Fermentation (SSF) dalam Skala Pabrik Sebagai Penunjang Keberlanjutan dan Pengoptimalan Sumber Energi”.
Menurut Kevin Ainal Rizki, fokus riset mereka adalah mencari jalan keluar yang paling realistis untuk diterapkan di dunia industri guna mendukung program mandatori E10 (pencampuran 10 persen bioetanol ke dalam bensin) di Indonesia.
“Kami berupaya mencari metode yang paling optimal secara teknis dan ekonomis. Tujuannya agar pemanfaatan limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) menjadi bioetanol ini tidak hanya berhenti di atas kertas, tapi dapat diimplementasikan secara nyata di industri,” terang Kevin.
Dalam simulasinya menggunakan perangkat lunak Aspen Plus V14, tim mengevaluasi perbandingan metode SSF dan Separate Hydrolysis and Fermentation (SHF). Evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari aspek perolehan hasil (yield), nilai ekonomi, hingga efisiensi energi yang dihasilkan.
Langkah nyata Hisyam dan Kevin ini dinilai selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs). Selain mendukung energi bersih (SDG 7) dan inovasi industri (SDG 9), karya ini menerapkan prinsip circular economy (SDG 12) dengan mengubah limbah biomassa yang melimpah menjadi produk bernilai tambah tinggi, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca (SDG 13).
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Teknik Kimia UB tidak hanya mumpuni dalam riset teoritis, namun juga mampu menghadirkan solusi konkret bagi masa depan energi berkelanjutan di tanah air. [mut.wwn]


