Mojokerto, Bhirawa
Desa Pandanarum kini memiliki cerita baru tentang bagaimana limbah bisa berubah menjadi peluang bernilai ekonomi. Melalui sebuah program pengabdian masyarakat, limbah jamu yang semula di anggap tidak bernilai berhasil diolah menjadi produk aroma terapi alami yang ramah lingkungan dan bernilai jual.
Program ini digagas oleh mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan di dampingi dosen langsung yakni Thesna Widya Fandhyta, SIP., M.A.P , yang tergabung dalam sub kelompok 4 (empat), dengan menggandeng UMKM Yuk Ieta sebagai mitra utama. Kolaborasi ini menjadi langkah konkret dalam mengatasi permasalahan limbah jamu sekaligus mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal desa.
Anggota subkelompok 4 KKN Reguler 1 Untag Surabaya Berliana Mai Putri mengungkapkan selama ini, sisa ampas jamu dari proses produksi jamu tradisional di Desa pandan arum seringkali dibuang begitu saja atau di lempar ketanah dengan tujuan agar di makan oleh ayam. Padahal, ampas tersebut masih mengandung aroma khas dari rempah-rempah seperti jahe, kunyit, sereh, dan temulawak.
Melihat potensi tersebut, jelas Berliana, sub kelompok 4 (empat) bersama UMKM Yuk Ieta menghadirkan inovasi pengelola limbah jamu menjadi produk aroma terapi alami, seperti pengharum ruangan, lilin aroma terapi, dan minyak aroma terapi.
Proses pengelolaan dilakukan dengan pendekatan sederhana dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Limbah jamu dikeringkan, diolah kembali, lalu di kombinasikan dengan bahan pendukung alami sehingga menghasilkan aroma yang menenangkan dan aman digunakan. Selain bertujuan untuk menjaga keberlanjutan yang ramah lingkungan, produk ini juga memiliki nilai estetika melalui kemasan yang menarik dan bernuansa lokal.
Pemilik UMKM Yuk Ieta menyambut baik kerjasama ini memberikan pengetahuan baru tentang pentingnya pengelolaan limbah dan kreativitas dalam memanfaatkan peluang.warga dilibatkan secara langsung dalam proses produksi, mulai dari pengumpulan limbah jamu hingga tahap pembuatan, dan pengemasan. Sehingga tercipta produk yang layak dan estetik untuk di pasarkan secara langsung.
Melalui program pengabdian masyarakat ini, seb kelompok 4 bersama UMKM Yuk Ieta membuktikan bahwa limbah bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari inovasi baru. Limbah jamu yang dulunya terbuang kini menjelma menjadi produk aroma terapialami yang membawa manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial bagi Desa Pandanarum. [why]

