31 C
Sidoarjo
Sunday, February 15, 2026
spot_img

Kritik Sosial dalam Film Budi Pekerti


Oleh :
Yashinta Nur Aulia
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Film, selain sebagai media untuk mencurahkan ekspresi diri, juga merupakan alat komunikator yang efektif. Melalui film kita bisa belajar banyak hal baru hingga memahami makna dari apa yang terjadi dibaliknya. Setiap kejadian banyak pembelajaran positif maupun negatif yang dapat dipetik.

Kritik juga seringkali disampaikan melalui adegan didalam sebuah film, seperti contoh pada film Budi Pekerti. Film ini tayang pada 2 november 2023, mengkisahkan Bu Prani yang merupakan seorang guru BK, mengalami perselisihan hingga adu mulut dengan salah satu pengunjung di pasar. Ketika sedang berdebat ada pihak yang merekam kejadian perselisihan dan video itu tersebar viral di media sosial.

Dalam tayangan video terbentuk framing yang merugikan Bu Prani, dimana beliau mengatakan “ah,suwi” namun dalam video yang beredar terdengar Bu Prani mengatakan “Asu i”. Dari Kisah awal ini, membawa perubahan besar pada kehidupan Bu Prani dan keluarga. Film ini terlihat jelas ingin mengulik kritik sosial yang terjadi terhadap masyarakat di era digital.

Jika dilihat dari pandangan Gramsci, Hegemoni tidak hanya dicapai melalui kekerasan, melainkan melalui pengendalian budaya, norma- normal sosial, dan ideologi. Pengedalian budaya yang dilakukan secara halus oleh kelompok dominan kepada kelompok yang didominasi.

Dari film Budi Pekerti, kita bisa melihat pihak dominan berkuasa mempengaruhi khalayak dan pihak yang menjadi korban tidak bisa berkuasa dan melawan. Efek dari kesalahpahaman yang timbul di media sosial, membuat Bu Prani di cap bahwa tidak layak menjadi seorang guru. Framing yang tersebar menjadikan Bu Prani seorang guru yang tidak bisa memberikan contoh sopan santun untuk anak didiknya.

Berita Terkait :  Kampung Haji di Saudi

Menurut pandangan Stuart Hall, konsep representasi merupakan sebuah kerangka konseptual yang digunakan untuk memahami makna yang ada. Makna diciptakan, dikomunikasikan, dan dipertahankan dalam bentuk simbol, gambar, atau tanda. Akibatnya, representasi yang diciptakan membentuk persepsi, identitas, dan hubungan sosial.

Dalam potongan video yang tersebar di media sosial , merepresentasikan Bu Prani sebagai seorang guru yang galak, kejam dan tidak beretika. Sehingga, identitas nya yang terbuka di publik sebagai seorang guru berdampak besar dalam kehidupannya. Citra positif yang selama ini terbentuk terhadap murid serta wali muird, kini berubah menjadi negatif. Representasi yang ada di publik bukanlah cerminan dari realitas Bu Prani, melainkan hasil dari konstruksi makna dari pihak dominan.

Dilihat dari konteks feminisme media culutral studies, karaktek Bu Prani dalam film Budi Pekerti terlihat jelas, bahwa perempuan tidak diperbolehkan untuk marah hingga membentak seorang laki-laki. Perempuan dianggap harus lemah lembut dan berutur kata yang sopan, sedangkan laki – laki diperbolehkan dan dianggap biasa saja jika membentak perempuan. Kepribadian perempuan seringkali dikontrol untuk selalu bersikap lemah lembut, sabar, tidak emosional.

Dari film Budi Pekerti, kita bisa melihat bahwa framing yang terjadi di media sosial sangatlah mengerikan. Kaum dominan bisa dengan mudah mengambil alih dengan membuat narasi baru untuk kepentingan pribadi mereka dan berakibat merugikan para korban. Jahatnya framing bisa merubah citra baik pada seseorang menjadi negatif dengan mudah, hanya karna kesalapahaman makna dan kontruksi makna baru yang dilakukan oleh pihak dominan.

Berita Terkait :  Gairahkan Bursa Lesu

Dari karakter Bu Prani, kita dapat melihat bahwa di Indonesia masyarakat masih banyak melakukan standar ganda. Seorang perempuan dan profesi guru masih sering menjadi korban diskriminasi oleh masyarakat. Ketika mereka melakukan satu kesalahan yang konteksnya seperti yang dialami Bu Parni, maka semua orang seakan akan menutup mata dan terus menggunjing hingga korban harus mengalah demi ketenangan batin dan mental.

Terkadang mengalah bukan berarti kalah, namun melawan kaum kelas atas yang mendominasi kehidupan bukanlah hal yang mudah. Seperti yang kita ketahui, di Indonesia yang berkuasa akan mudah bebas dan malah memutarbalikan fakta yang ada. Karena pesan apa yang ingin tersebar di media sosial bisa di atur sesuai pihak – pihak yang berkepentingan. [*]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru