29 C
Sidoarjo
Tuesday, April 7, 2026
spot_img

Krisis Energi Dunia, ITS Buat Inovasi Bahan Bakar dari Sawit


Surabaya, Bhirawa
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya membuat inovasi bahan bakar terbaru yang disebut “Benwit” (Bensin Biogasoline Sawit), langkah diambil sebagai respons strategis terhadap krisis energi yang tengah melanda dunia.

Produk tersebut sebenarnya telah dikembangkan dan diuji coba pada berbagai peralatan selama beberapa waktu, Namun momentum krisis energi saat ini dinilai paling tepat untuk memperkenalkan Benwit kepada publik. Selasa, (7/4/2026)

Rektor ITS, Prof. Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D, mengatakan bahwa momentum yang tepat sebab adanya krisis energi global, semoga Benwit bisa membantu menjadi salah satu solusi, khususnya dalam penyediaan bahan bakar alternatif.

“Pengembangan Benwit dipimpin oleh tim ahli ITS yang bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), menekankan bahwa ITS secara konsisten menerima dukungan pendanaan besar dari BPDPKS selama beberapa tahun terakhir untuk riset berbasis sawit,” jelasnya.

Guru Besar Teknik Material dan Metalurgi ITS Prof Hosta Ardhynanta mengukapkan inovasi dikembangkan dari riset konversi CPO jadi BBM menggunakan metode catalytic cracking, dimana proses memanfaatkan katalis untuk memecah molekul besar dalam minyak sawit menjadi molekul kecil yang setara bahan bakar.

“Mengembangkan teknologi pengolahan minyak mentah kelapa sawit menjadi bahan bakar minyak dengan metode catalytic cracking, Benwit tidak dimaksudkan untuk langsung menggantikan BBM fosil, tetapi sebagai alternatif bertujuan memperluas pilihan energi, mengingat energi fosil bersifat tidak terbarukan, sementara bahan bakar dari sawit dapat diproduksi berkelanjutan, nantinya masyarakat memiliki opsi energi yang lebih ramah lingkungan,” katanya.

Berita Terkait :  KPAI Minta Prosedur Program CKG Klaster Anak Dipermudah

Prof Hosta menjelaskan riset dirancang untuk ciptakan siklus tertutup energi di sektor pertanian, para Petani sawit diharapkan memproduksi bahan bakar sendiri dari hasil kebunnya, selanjutnya digunakan kembali untuk operasional pertanian.

“Benwit digunakan berbagai mesin pertanian seperti traktor dan alat panen, hasilnya menunjukkan bahan bakar dapat digunakan secara langsung tanpa modifikasi signifikan, untuk penggunaan lebih luas, pihaknya menyarankan pencampuran dengan bahan bakar konvensional agar transisi berjalan bertahap,” pungkasnya.

Pengujian juga telah dilakukan pada kendaraan roda dua, tambah Prof Hosta, khususnya sepeda motor tipe karburator, ternyata hasil menunjukkan bahan bakar itu mampu bekerja dengan baik pada mesin tersebut, dari uji penelitian Benwit memiliki nilai oktan tinggi yang menjadi salah satu keunggulan utama.

“Nilai oktannya 110 sampai 115 cukup tinggi, konversi CPO menjadi bahan bakar mencapai sekitar 50 hingga 55 persen, berarti satu kilogram bahan baku dapat dihasilkan sekitar 550 mililiter BBM. penelitian berfokus pada penggunaan CPO sebagai bahan utama, sementara potensi bahan lain masih terus dikaji,”imbuhnya.

Beliau berharap inovasi Benwit langkah strategis mengurangi ketergantungan terhadap energi impor, selain ramah lingkungan, juga dikembangkan anak bangsa, nantinya pihaknha dapat diadopsi dalam skala industri maupun kebijakan nasional. [ren.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!