Oleh :
Nur Kamilia
Dosen Hukum STAI Nurul Huda Situbondo
Banjir masih menjadi persoalan yang berulang di banyak kota di Indonesia. Setiap musim hujan, berita tentang jalan yang tergenang, permukiman yang terendam, hingga aktivitas ekonomi yang terhenti kembali muncul. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah lain yang mengalami pertumbuhan urbanisasi cepat.
Selama bertahun-tahun, solusi yang sering digunakan untuk mengatasi banjir adalah pembangunan drainase konvensional yang bertujuan mengalirkan air secepat mungkin menuju sungai atau saluran utama. Pendekatan ini memang penting, tetapi dalam banyak kasus belum mampu sepenuhnya mengatasi persoalan banjir perkotaan yang semakin kompleks.
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul sebuah konsep yang mulai banyak dibicarakan dalam perencanaan kota modern, yaitu kota spons. Konsep ini menawarkan pendekatan yang berbeda dalam mengelola air hujan di wilayah perkotaan. Alih-alih hanya mengalirkan air keluar dari kota, konsep kota spons berupaya membuat kota mampu menyerap, menahan, dan memanfaatkan air hujan secara alami.
Namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah konsep kota spons benar-benar dapat menjadi solusi nyata bagi persoalan banjir di kota-kota Indonesia, ataukah masih sebatas ide yang sulit diterapkan dalam praktik?
Memahami Konsep Kota Spons
Istilah kota spons merujuk pada pendekatan perencanaan kota yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan wilayah perkotaan dalam menyerap air hujan. Konsep ini berangkat dari kenyataan bahwa banyak kota modern telah kehilangan kemampuan alaminya untuk menyerap air.
Pembangunan jalan beraspal, gedung beton, dan kawasan permukiman yang padat membuat permukaan tanah semakin tertutup. Akibatnya, air hujan yang turun tidak dapat meresap ke dalam tanah dan akhirnya mengalir di permukaan, menambah beban sistem drainase kota.
Konsep kota spons mencoba mengembalikan sebagian fungsi alami tersebut melalui berbagai strategi, seperti memperbanyak ruang terbuka hijau, membangun taman resapan air, menggunakan material jalan yang lebih permeabel, serta menciptakan sistem drainase yang lebih ramah lingkungan.
Dengan pendekatan ini, air hujan tidak langsung dibuang keluar kota, tetapi sebagian dapat diserap oleh tanah, ditampung sementara, atau dimanfaatkan kembali. Selain mengurangi risiko banjir, pendekatan ini juga dapat membantu menjaga cadangan air tanah dan meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.
Secara teori, konsep ini menawarkan pendekatan yang lebih berkelanjutan dibandingkan sistem drainase konvensional yang hanya berfokus pada pengaliran air.
Tantangan Penerapan di Kota-Kota Indonesia
Meskipun konsep kota spons terdengar menjanjikan, penerapannya di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan yang tidak sederhana.
Pertama adalah persoalan keterbatasan ruang kota. Banyak kota besar telah berkembang dengan kepadatan yang tinggi. Lahan kosong semakin terbatas, sementara kebutuhan pembangunan terus meningkat. Dalam kondisi seperti ini, menyediakan ruang terbuka hijau atau area resapan air sering kali tidak mudah.
Kedua adalah persoalan perencanaan kota yang sudah terlanjur terbentuk. Banyak kawasan permukiman dibangun tanpa memperhitungkan sistem pengelolaan air yang berkelanjutan. Jalan-jalan sempit, drainase yang tidak terintegrasi, serta pembangunan yang tidak terkoordinasi membuat upaya perbaikan membutuhkan investasi besar.
Ketiga adalah koordinasi kebijakan. Konsep kota spons tidak dapat diterapkan hanya melalui satu proyek infrastruktur. Dibutuhkan kerja sama berbagai sektor, mulai dari perencanaan tata ruang, pengelolaan lingkungan, hingga pembangunan infrastruktur kota.
Tanpa koordinasi yang baik, proyek-proyek yang disebut sebagai bagian dari konsep kota spons berisiko hanya menjadi pembangunan simbolis yang tidak memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan banjir.
Dari Proyek Infrastruktur ke Perubahan Cara Merancang Kota
Agar konsep kota spons benar-benar efektif, pendekatan yang digunakan tidak boleh terbatas pada pembangunan infrastruktur baru. Yang lebih penting adalah perubahan cara merancang kota secara keseluruhan.
Misalnya, pembangunan kawasan permukiman baru perlu mempertimbangkan ruang resapan air sebagai bagian dari desain kota. Penggunaan material yang memungkinkan air meresap juga dapat dipertimbangkan dalam pembangunan jalan dan trotoar.
Selain itu, ruang terbuka hijau tidak hanya berfungsi sebagai area rekreasi, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengelolaan air kota. Taman kota, hutan kota, dan area vegetasi dapat membantu memperlambat aliran air hujan dan meningkatkan kemampuan tanah menyerap air.
Pendekatan ini memang membutuhkan perencanaan yang lebih kompleks, tetapi dalam jangka panjang dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi keberlanjutan kota.
Kota yang mampu mengelola air dengan baik tidak hanya lebih tahan terhadap banjir, tetapi juga memiliki kualitas lingkungan yang lebih baik bagi warganya.
Antara Harapan dan Realitas
Konsep kota spons memberikan harapan baru dalam menghadapi persoalan banjir perkotaan yang semakin kompleks. Pendekatan ini mengingatkan bahwa pengelolaan air tidak hanya bergantung pada pembangunan saluran drainase yang besar, tetapi juga pada kemampuan kota untuk bekerja selaras dengan proses alami lingkungan.
Namun penerapan konsep ini memerlukan komitmen yang kuat dalam perencanaan kota. Tanpa perubahan kebijakan yang konsisten, konsep kota spons berisiko hanya menjadi istilah baru dalam diskusi perencanaan kota tanpa implementasi yang nyata.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah, perencana kota, serta berbagai pemangku kepentingan untuk melihat konsep ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang, bukan sekadar proyek sesaat.
Banjir perkotaan adalah masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan satu pendekatan saja. Drainase konvensional tetap diperlukan, tetapi perlu dilengkapi dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam mengelola air hujan.
Konsep kota spons menawarkan perspektif baru yang menempatkan alam sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar hambatan pembangunan. Dengan meningkatkan kemampuan kota untuk menyerap dan menahan air, risiko banjir dapat dikurangi sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan.
Namun pada akhirnya, keberhasilan konsep ini tidak hanya bergantung pada gagasan yang baik, tetapi juga pada konsistensi dalam perencanaan dan pelaksanaannya. Jika diterapkan secara serius, kota spons dapat menjadi langkah penting menuju kota yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Tetapi jika hanya berhenti pada konsep tanpa implementasi yang nyata, gagasan ini bisa saja tetap menjadi mimpi yang indah di atas kertas.
————— *** —————–


