Oleh :
Mukhlis Mustofa
Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Slamet Riyadi ( UNISRI ) Solo
Imbauan perayaan tahun baru 2026 tanpa ada kembang api sebagai bentuk keprihatinan bencana alam besar di Sumatera penghujung 2025 menjadi ikhtiar cerdas toleransi edukasi tersendiri. Pembahasanmitigasi di negeri ini seakan tanpa henti dengan beragam diamikanya. Dampak banjir dengan lumpuhnya aktifitas ekonomi seperti terlansir di beragam media Menyadarkan betapa rentannya negeri ini dengan potensi kebencanaan. Banjir, Erupsihingga erupsi selayaknya menjadi refleksi penyelenggaraan tanggap bencana secara proporsional agar potensi bahaya besar ini dapat diantisipasi. Secara Geografis terlait sebaranpotensi kebencanaan di negeri ini termasuk kawasan rentan dimana pola penanganannya memerlukan penangangan proporsional.
Beragamnya potensi kebencanaan ini tidak sesederhana idiom Indonesia sebagai wilayah supermarket bencana. Antisipasi kebencanaan dengan mitigasi bencana melalui memerlukan orientasi teknis dalam realisasinya. Beragamnya Potensi bencana ini menyisakan keprihatinan dan kewaspadaan dalam beragam aspek muncul pula warning potensi bencana ini semakin rumit manakala bencana ini berdampingan dengan masa pasca pendemi Covid-19 dimana seluruh energy harus dibangan dengan penuh kehati-hatian. Dibalik tindakan hiruk pikuk antisipasi penanganan bencana ini patut diperhatikan pula bagaimanakah penanganan sisi edukasi kebencanaan ini.
Elemen pendidikan hingga saat ini manakala menyikapi fenomena kebencanaan masih meraba-raba bagaimanakah pola ketanggapan bencana diberlakukan. Kesiapan dunia pendidikan menghadapi bencana saat ini terasa masih berlangsung sporadis dan parsial sehingga optimalisasi penanganan belum sepenuhnya proporsional.Sekolah sebagai sebuah sistem pendidikan menjadikan Bencana alam dan fenomenan sosial pembangunan sebagai sebuah fenomena alamiah tidak sekedar menyisakan kepasrahan namun memunculkan beragam asa untuk menanganinya dengan beragam aspek pelaksanaan.
Penyelesaian pendidikan pada wilayah rentan bencana memunculkan beragam asa penyelesaian edukatif. Sekedar membandingkan pada bencana pada pada masa non pandemi penanganan permasalahan pendidikan tidak serumit bencana diakibatkan elemen udara, banjir maupun tanah longsor manakala sudah selesai titik kulminasinya maka segala aktivitas sesegera mungkin aktivitas keseharian dimulai. Pengaruh pada pembelajaran sendiri pada akhirnya sedemikian terasa manakala mempersepsikan beragam bencana ini..Menyesakkannya penonaktifan pembelajaran manakala ada sebuah bencana terjadi tanpa ada kepastian.
Bagaimanakah mempersepsikan bencana sebagai sebuah realitas alamiah tanpa mengesampingkan aktivitas pendidikan menjadi sebuah pertanyaan besar ditengah derita panjang tak berkesudahan. Permasalahan elementer penyelenggaraan pendidikan dengan tingkat keramahan memadai pada bencana alam menjadi perhatian tak terlupakan pada kondisi alamiah negeri ini. sehingga kompleksitas penanganan kebencanaan tidak bisa dikerjakan sebatas pencitraan.
Pembelajaran terbarukan
Roem topatimasang dalam bukunya sekolah itu candu berujar sekolah secara harafiah berasal dari kata yunani schoola yaitu waktu luang dengan persepsi sekolah sebauah oase pendidikan setelah anak melaksanakan tugas – tugas domestiknya. Persepsi ini menyiratkan sekolah sebagai lembaga menyenangkan dalam mengemban misi pencerdasan generasi mendatang. Potret sekolah menyenangkan saat ini masih menjadi impian ditengah beragamnya tuntutan pencerdasan publik.
Publik masih memposisikan sekolah sedemikian serius sehingga perhatian lebih berkaitan pengembangan lingkungan sosial dibandingkan optimalisasi lingkungan alam. Konsekuensi inilah yang selama ini terlupakan oleh pegiat pendidikan dan mengesampingkan elemen lingkungan fisik dimana sekolah tersebut berada. Sekolah saat ini sebatas menjadi lembaga formal untuk transfer ilmu sekaligus ikhtiar penumbuhan mental bagi generasi mendatang namun tidak mencerdaskan secara sosial.
Pencerdasan sosial yang harus dikembangkan pada sebuah sekolah selayaknya didasarkan bagaimanakah mempersepsikan lingkungan sosial dimana sekolah tersebut berada. Pengembangan kecerdasan sosialpun secara mutlak harus memperhitungkan lingkungan alamiah dimana siswa tinggal. Saya pernah melakukan pengamatan kecil- kecilan bahwa ternyata pada siswa sekolah dasar mayoritas masih mengalami kesulitan menentukan arah suatu wilayah.
Kesulitan pemahaman arah inipun terabaikan dan pada akhirnya dibawa siswa bersangkutan dalam menjalankan pendidikan formal sehingga banyak ditemukan pada orang dewasa kebingungan arah ini berlangsung terus menerus tanpa ada tindakan konkrit untuk mengatasinya secara praktis. Minimnya perhatian tentang arah ini penjadikan spatial quetion (kecerdasan spasial) menjadi teramat mahal dan menumpulkan ranah ilmiah berbasis lingkungan sekitar.
Persepsi ini harus ditentang mengingat keberadaan sekolah pada akhirnya menjadikan formalitas pendidikan yang pada akhirnya mematikan kreativitas pembelajaran. Sekolah sedemikian serius mempelajari materi secara formal sehingga mematikan daya kreasi siswa bahkan muncul idiom bahwa masuk sekolah berarti menambah rumit permasalahan hidup. Persespi negarapun setali tiga uang, pendidikan terjangkiti latahisme sehingga mematikan pola pendidikan alternatif. Menyibak realitas kebencanaan di negeri ini menjadikan mindset baru pembelajaran, rumitnya permasalahan evaluasi yang terganggu kabut asap hingga munculnta potensi bencana lain menjadikan pola baru mendesak diberlakukan.
Pemecahan permasalahan sekolah ramah bencana tidak serta merta terhenti pada tataran wacana cerdas semata melainkan memerlukan kesiapan proporsional memadai dalam pengatasannya. Teknis pembelajaranpun harus selayaknya dirubah, pola pembelajaran dengan mengedepankan pendidikan konvensional tidak selayaknya dikedepankan manakala pendidikan kebencanaan ini akan berlangsung dengan efektif.
Efisiensi Pembelajaran
Salah satu pola pembelajaran yakni Contextual Teaching and Learning ( CTL) digaungkan untuk kebermaknaan pembelajaran. Pemberlakukan CTL ini selayaknya harus betul – betul diungkapkan demi permberdayaan pembelajaran keseluruhan. Menyibak besarnya potensi kebencanaan termasuk ancaman Megatrush di negeri ini dapat terkontribusi positif memafaatkan pola pembelajaran ini. Pemaknaan Pendidikan kebencanaan berbasis pembelajaran CTL ini memiliki dua sisi mata uang saling menguntungkan, disatu sisi kritikan Pendidikan selama ini dianggap tidak membumi terbantahkan dengan pelaksanaan pembelajaran dengan konteks kekinian, disisi lain penanaman kebencanaan tumbuh related dengan kondisi kekinian dengan penyikapan potensi kegempaan dahsyat ini.
Penguatan penyikapan potensi kegempaaan ini semkian kuat dengan pemanfaatan Aplikasi teknologi dalam pembelajaran. Massifya penggunaan Google map namun Masyarakat belum teredukasi keterbacaan peta sedikit banyak terbantu dengan aplikasi teknologi ini. Pemanfaatan pptensi media pembelajaran berbasis peta digital ini sedemikian efektif dalam pembelajaran kebencanaan karena siswa tidak sekedar mempelajari peta secara digital namun bisa memprediksi implilkasi kebencaan yang berpotensi muncul dalam kasus ini ancaman gempa megatrust,
Pembelajaran dengan memperhatikan potensi alamiah sekitar lingkungan sekolah haruslah berjalan linier dengan konteks pengalaman pembelajaran. Julukan Jawa sebagai supermarket bencana alam secara edukatif selayaknya bukan menjadi hambatan tersendiri melainkan menjadi sarana pengembangan diri pembelajaran agar pemberdayaan manusia seutuhnya bagi semua pihak yang terlibat didalamnya. Erupsi lewotobi bukanlah akhir segalanya namun menjadi inpirasi kaum cerdik pandai negeri untuk merefleksikan pencerdasan berkelanjutan berbasis ketangguhan menghadapi bencana.
————- *** —————

