Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Jafar di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
DPR RI Jakarta, Bhirawa.
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Marwan Jafar, menegaskan bahwa Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) wajib memprioritaskan kinerjanya pada penciptaan lapangan kerja secara luas. Sebagai lembaga pengelola investasi strategis, Danantara dituntut tidak hanya fokus pada pengelolaan aset dan pembiayaan pembangunan, tetapi juga menjadi penggerak utama kesempatan kerja yang produktif dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Keberadaan Danantara sebagai lembaga keuangan strategis diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Jika persoalan ini tidak ditangani secara serius, maka ancaman terhadap keberhasilan Indonesia dalam mengoptimalkan bonus demografi generasi milenial produktif akan menjadi nyata,” ujar Marwan di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Marwan mengingatkan bahwa persoalan ketenagakerjaan adalah pertaruhan besar bagi masa depan bangsa, terutama dalam memanfaatkan bonus demografi yang kini didominasi generasi muda. Tanpa strategi penyediaan lapangan kerja yang matang, potensi besar angkatan kerja tersebut dikhawatirkan justru akan menjadi beban ekonomi dan sosial bagi negara.
“Tren pemutusan hubungan kerja dalam beberapa waktu terakhir juga harus diwaspadai baik karena disrupsi teknologi maupun stagnasi ekonomi,” katanya.
Lebih lanjut, legislator asal Dapil Jawa Tengah III ini menilai Danantara memiliki peran vital dalam memperkuat struktur ekonomi nasional melalui konsolidasi aset BUMN besar seperti Bank Mandiri, BRI, PLN, dan Pertamina. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan nilai tambah ekonomi bagi negara.
“Danantara juga harus menjadi katalisator investasi jangka panjang dengan menggandeng investor global untuk mengembangkan sektor bernilai tambah tinggi, mulai dari hilirisasi industri hingga ekonomi digital,” katanya.
Marwan juga menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025 yang mencatat angka pengangguran terbuka masih sebesar 4,74 persen atau sekitar 7,35 juta orang, dengan dominasi kelompok usia muda. Ia menekankan bahwa investasi yang masuk melalui Danantara harus diarahkan pada sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi demi menghindarkan Indonesia dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).
“Danantara harus benar-benar hadir sebagai instrumen pembangunan ekonomi yang nyata dirasakan rakyat. Indikator keberhasilannya adalah terciptanya lapangan kerja yang luas, berkualitas, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Marwan. (ira.hel).

