DPRD Kota Batu, Bhirawa
Penguatan sektor pariwisata di Kota Batu sebagai langkah strategis dalam menghadapi dampak kebijakan transfer ke daerah menjadi sorotan DPRD setempat.
Karena itu Komisi B DPRD Kota Batu menggelar rapat kerja bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) bersama Paguyuban Vila kota ini untuk membahas perkembangan kunjungan wisata, Senin (13/4) di ruang rapat komisi.
Tingkat okupansi hotel dan vila merupakan potensi untuk mengoptimalkan pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Dan di Kota Batu pendapatan dari sektor pariwisata sangat berpengaruh terhadap kemampuan fiskal daerah.
Karena itu, salah satu dalam upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batu berfokus pada sektor pariwisata khususnya terjaganya tingkat kunjungan wisata.
Dalam rapat, berbagai masukan dan data disampaikan oleh para pelaku usaha terkait tren kunjungan wisatawan. Di antaranya, peningkatan angka hunian hotel dan vila hingga strategi peningkatan daya tarik wisata Kota Batu.
“Selain itu, dibahas pula upaya kolaboratif antara pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata untuk mendorong peningkatan PAD,” ujar Asmadi, Ketua Komisi B DPRD Kita Batu.
Komisi B menekankan pentingnya sinergi dan inovasi dalam menghadapi dinamika sektor pariwisata. Hal ini termasuk penguatan promosi, peningkatan kualitas layanan, serta penataan regulasi yang adaptif dan berkelanjutan.
“Melalui rapat kerja ini, diharapkan tercipta langkah strategis yang mampu meningkatkan kunjungan wisata untuk mendorong okupansi hotel dan vila, sehingga dapat mengoptimalkan potensi pendapatan daerah demi kemajuan Kota Batu,” harap Asmadi.
Dalam catatan PHRI Kota Batu, masa libur Lebaran 2026 telah menjadi angin segar bagi industri pariwisata di Kota Batu. Karena sebelumnya industri wisata di kota ini sempat mengalami sepi kunjungan selama bulan Ramadan. Sejak Lebaran hingga saat ini tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel mulai naik dan menunjukkan tren bagus.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengungkapkan bahwa kenaikan mulai terasa sejak H+1 Lebaran.
Jika pada malam Lebaran okupansi masih berada di angka 50%, kini jumlahnya telah menyentuh angka 70%. “H+1 itu (naik). Justru malam Lebarannya itu masih belum, masih 50% gitu,” ungkapnya.
Menariknya, Sujud menyebut bahwa data reservasi awal tahun kemarin tidak bisa menjadi tolok ukur utama. Banyak wisatawan yang tampaknya memilih untuk melakukan pemesanan secara mendadak atau last minute booking.
PHRI Kota Batu telah memprediksi bahwa peningkatan kunjungan yang terjadi sejak libur Lebaran tidak hanya terjadi di akhir pekan saja. Tren positif ini bisa bertahan hingga masa libur Lebaran berakhir. [nas.dre]


