27 C
Sidoarjo
Monday, March 30, 2026
spot_img

Kolaborasi UK Petra-Ubaya Gelar NMT 2026, Membangun Pemimpin Perguruan Tinggi Adaptif di Era Digital


Surabaya, Bhirawa
Universitas Kristen (UK) Petra bersama Universitas Surabaya (Ubaya) menjadi tuan rumah kegiatan National Multiplication Training (NMT) 2026 pada program Dies Nmt Leap (Leadership Enhancement Through Awareness and Peer-Learning) for Transformational Change di Ruang Matthew, Gedung Radius Prawiro lantai 10, Kampus UK Petra, Surabaya.

Program ini bertujuan mengembangkan kapabilitas kepemimpinan dari para pemimpin perguruan tinggi, didasari oleh fenomena pendidikan tinggi di Indonesia yang sedang menghadapi transformasi besar dengan pesatnya perkembangan teknologi dan pergeseran demografi mahasiswa, Senin (30/3).

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M mengatakan Acara ini jadi momentum penting bagi perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat integritas dan mutu akademik di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

“Terdapat 25 perguruan tinggi terpilih di seluruh Indonesia yang mengikuti pelatihan ini, program ini memberikan dampak luas di mana setiap institusi terpilih ditargetkan mampu memberikan kontribusi sertifikasi kepada 100 dosen, sehingga total sasaran mencapai 2.500 peserta di wilayah masing-masing,” jelasnya.

Lanjut Prof. Dyah mengukapkan Artificial Intelligence (AI) harus dijadikan pondasi meningkatkan inovasi dan kreativitas di lingkungan kampus, perguruan tinggi memiliki program studi berbasis AI dianggap memiliki keunggulan strategis dalam menghadapi era digital.

“AI harus konstruktif, inovatif, dan kreatif, kita membangun komitmen bersama melalui AI untuk integritas dan mutu yang lebih bagus, sehingga menjadi multiplier effect bagi mahasiswa,” ujarnya.

Berita Terkait :  Wagub Emil Temukan Anak Mencuri untuk Judol dan Masuk RSJ Menur

Prof. Dyah menyampaikan kurikulum perguruan tinggi didorong melakukan rekonstruksi supaya relevan dengan kebutuhan Generasi Z (Gen Z), Perguruan tinggi diharapkan bertindak sebagai agent of change yang responsif terhadap perubahan sosial dan teknologi.

Sementara itu, ketua panitia, Josua Tarigan, Ph.D menjelaskan bahwa program ini menekankan kepemimpinan adaptif dan kolaboratif berbasis agility, empati, serta pemanfaatan digital serta AI supaya pemimpin perguruan tinggi mampu merespon perubahan.

“Para peserta akan melihat secara langsung pengalaman belajar berbasis AI melalui peer consulting, serta kesempatan berkontribusi pada buku ber-ISBN yang memuat pemikiran dan pengalaman kepemimpinan para peserta workshop,” ucap Josua.

Dosen Biotechnology Ubaya, Prof. Dr.rer.nat. Maria Goretti M. Purwanto menambahkan bahwa institusi pendidikan tidak bisa melarang penggunaan AI, Sebaliknya, dosen dan mahasiswa harus diajarkan cara memanfaatkannya secara positif.

“AI sudah pasti bisa menjadi tools of learning dan tools of productivity, terpenting AI tidak menggantikan manusia untuk belajar, melainkan menjadi penunjang regulasi mengenai hal ini masih menjadi tantangan global yang tengah dihadapi berbagai negara,” imbuhnya. [ren.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!