26 C
Sidoarjo
Sunday, April 12, 2026
spot_img

Kendali Gejolak Tempe

Pengrajin tempe kelimpungan diguncang harga kedelai impor yang melonjak lagi. Awal pekan ketiga April, harganya sudah mencapai Rp 12 ribu di pengrajin. Menyebabkan pengrajin tempe dan pabrik tahu menempuh “siasat,” agar tidak merugi dan menjaga stabilitas omzet. Terutama memperkecil ukuran.Indonesia menjadi importir terbesar kedua kedelai (sebagai bahan baku tempe dan tahu),mencapai2,7 juta ton. Sedangkan kebutuhan total hampir mencapai 3 juta ton.

Tahu dan tempe telah menjadi menu utama seluruh keluarga Indonesia. Juga tersedia di setiap warung makan. Tak terkecuali di restoran dan hotel berbintang lima. Tetapi yang dikonsumsi ternyata tergolong “barang mewah.” Karena harus diimpor dari Amerika Serikat (AS) dan dari berbagai negara di benua Amerika. Sehingga olok-olok”bangsa tempe” (populer pada dekade 1950-1960-an), sudah tidak tepat. Realitanya, bahan bakunya sama-sama di-impor, setara dengan gandum.

Harus diakui ladang di Indonesia kurang cocok ditanami kedelai. Produktifitas tanam juga rendah, hanya sekitar 1,6 ton per-hektar. Bentuk buah kedelai lokal tergolong kecil. Bahakn tidak di-minati pengrajin tempe dan tahu. Karena produktifitas rendah. Satu kilogram kedelai lokal, menghasilkan 1,4 kilogram tempe (dengan indeks 1,4). Sedangkan kedelai impor bentuk bungkil jauh lebih besar. Sangat diminati pengrajin. Karena bisa menghasilkan sebanyak 1,8 kilogram tempe (indeks 1,8).

Niscaya pengrajin lebih memilih kedelai impor, karena lebih menguntungkan. Ironisnya lebih dari 90% kebutuhan kedelai nasional dipenuhi melalui impor.Tidak bisa “dipaksakan” Indonesia harus swa-sembada kedelai.Karena harga kedelai impor lebih murah, dibanding ongkos ke-pertani-an kedelai lokal. Bahkan patut dipertimbangkan impor lebih besar untuk menjaga stabilitas HAP (Harga Acuan Penjualan). Sekaligus menghindari spekulasi ke-liar-an harga.

Berita Terkait :  Kaji Hasil Sidak SPBU, Polresta Batu Pastikan Stok BBM Mudik Lebaran Bersih dari Kecurangan

Seperti saat ini, seharusnya tidak terjadi kenaikan harga kedelai.Karena petani pada negara asal impor tidak terdampak perang Teluk.Kenaikan harga kedelai disebabkan kurs dolar Amerika Serikat yang makin menekan rupiah. Saat ini sudah tembus Rp 17 ribu per-US$. Melampaui patokan APBN yang meng-asumsi dolar AS sebesar Rp 16.500,-. Kurs rupiah yang merosot tidak bisa dianggap sepele.

Berdasarkan perhitungan terbaru (dalam Buku Nota Keuangan RAPBN 2026), setiap pelemahan rupiah Rp100 per dolar AS di atas asumsi akan menambah defisit anggaran sekitar Rp800 miliar. Gampangnya, penurunan setiap rupiah harus ditebus dengan Rp 8 milyar. Kemerosotan nilai rupiah juga berdampak pada harga berbagai komoditas impor. Terutama minyak, daging, susu, dan bawang putih.

Kementerian Pertanian coba memfasilitasi kesepakatan antara importir dan pengrajin tahu tempe, untuk stabilitas harga kedelai. Disepakati Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp11.500,- per-kilogram di tingkat importir.Serta harga di tingkat pengrajin sebesar Rp 12 ribu per-kilogram (semula Rp 10 ribu). Nilai impor kedelai lingkup nasional diperkirakan mencapai US$1,6 milyar.

Saat ini diperkirakan terdapat usaha mikro dan kecil pengrajin tempe sebanyak 30 ribu unit. Umumnya pengrajin dengan kapasitas di bawah 20 kilogram, memilih jeda produksi. Sedangkan pengrajin dengan kapasitas lebih dari 50 kilogram per-hari, harus pintar “bersiasat,” dengan tetap mempertahankan pelanggan tetap. Kedelai tergolong sering bergejolak. Sehingga Pemerintah patut memberi fasilitasi usaha,terutama subsidi selisih harga.

Berita Terkait :  Jaga Stabilitas Pangan Ramadan, Perum Bulog Bondowoso Intensifkan Operasi Pasar dan Pemantauan Harga

Undang-Undang (UU) Nomor 20 tahun 2008 Tentang UMKM, meng-amanatkan fasilitasi. Tercantum pada pasal 17 huruf b, dinyatakan,”memberikankemudahandalampengadaansaranadanprasarana, produksidanpengolahan, bahanbaku, bahanpenolong, dankemasanbagiproduk Usaha Mikro, Kecil, danMenengah.”Menjadi kewajiban pemerintah memenuhi pasokan bahan pangan.

——— 000 ———

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!