Kota Malang, Bhirawa
Suasana khidmat sekaligus haru menyelimuti Kartini Imperial Building, Kota Malang, pada Kamis (26/2) petang. Peringatan 100 hari berpulangnya Hj Hanik Andriani Wahyu Hidayat, istri tercinta Wali Kota Malang, Dr Ir Wahyu Hidayat MM, berlangsung penuh empati dengan dihadiri ribuan jamaah yang memadati ruangan menjelang waktu berbuka puasa.
Di hadapan para tamu undangan, orang nomor satu di Pemerintah Kota Malang tersebut tak kuasa menahan emosi. Saat memberikan sambutan keluarga, tangis Wahyu Hidayat pecah, mencerminkan kehilangan mendalam atas sosok pendamping setianya.
Dengan suara yang sesekali terbata-bata karena menahan isak, Wahyu menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh kerabat, kolega, dan masyarakat yang menyempatkan hadir untuk mengirimkan doa.
”Kami atas nama keluarga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kehadiran Bapak dan Ibu sekalian, terutama di waktu menjelang berbuka puasa ini, adalah penguat bagi kami. Semoga Allah SWT membalas ketulusan doa dan langkah kaki Bapak Ibu dengan pahala yang berlipat ganda,” ujar Wahyu dengan nada bergetar.
Bagi Wahyu, mendiang istrinya bukan sekadar pendamping hidup, melainkan pilar kekuatan dalam menjalankan tugas negara. Almarhumah dikenal sebagai sosok yang sangat bertanggung jawab, baik dalam mengurus keluarga maupun perannya sebagai Ketua TP PKK Kota Malang.
”Almarhumah merupakan pribadi yang luar biasa. Beliau selalu mendampingi dengan penuh kasih dan menjadi support system utama dalam pengabdian kami kepada masyarakat. Kenangan akan dedikasi beliau menjadi kekuatan bagi kami untuk terus melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan,” tambahnya.
Momentum 100 hari ini juga menjadi ajang silaturahmi para tokoh penting di Jawa Timur. Tampak hadir Bupati Malang HM Sanusi, mantan Bupati Malang Rendra Kresna, mantan Wali Kota Malang Sutiaji, jajaran Forkopimda Malang Raya, tokoh masyarakat, hingga jajaran OPD di lingkungan Pemkot Malang.
Tokoh pendidikan, Prof Maskuri Bakri, dalam kesaksiannya menyebut Wahyu Hidayat adalah sosok yang sangat mencintai istrinya. Ia menilai almarhumah memiliki ciri-ciri penghuni surga karena kerendahhatian dan empatinya yang tinggi terhadap rakyat kecil (wong cilik).
””Beliau sangat empati terhadap orang miskin. Orang yang senantiasa mengingat kematian adalah orang yang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Almarhumah Hj Hanik Andriani Insya Allah sudah berbahagia di alam sana dengan amal yang telah ditorehkannya,” tutur Prof. Maskuri.
Hal senada dikatakan, Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa membeludaknya jamaah yang hadir merupakan indikator amalan luar biasa almarhumah semasa hidup.
””Kematian bukanlah akhir kehidupan, melainkan ketentuan yang sudah dicatat. Kehadiran jamaah yang sangat banyak ini menandakan roh almarhumah masih mendapatkan rezeki dan kemuliaan dari Allah SWT melalui doa-doa yang dipanjatkan,” terang Gus Kikin.
Acara yang berlangsung penuh kekeluargaan tersebut diisi dengan pembacaan Yasin, Tahlil, dan doa bersama, dari sejumlah kiyai yang hadir.
Wahyu Hidayat pun menutup sambutannya dengan memohon maaf atas segala kekhilafan almarhumah semasa hidup, berharap momentum ini menjadi jalan terang bagi sang istri di sisi Allah SWT. [mut.fen]


