Beijing, Bhirawa
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing memperkuat kerja sama di bidang pendidikan dan kecerdasan buatan (AI) dengan Daerah Otonomi Khusus Guangxi, China termasuk meningkatkan kapasitas teknis sekolah vokasi di Indonesia.
Pada 2024, Indonesia dan Guangxi menandatangani kerja sama bidang pendidikan vokasi antara berbagai universitas dan politeknik di Indonesia dengan perusahaan asal Guangxi yang telah berinvestasi di Indonesia untuk meningkatkan kapasitas teknis vokasi khususnya yang mendukung industri di Indonesia.
“Guangxi memiliki potensi besar di bidang AI yang tidak hanya dapat dimanfaatkan dalam pengembangan pertanian cerdas, tapi juga bidang kesehatan dan budaya serta pariwisata. Karena itu, ke depan, saya ingin terus mendorong penguatan kemitraan di bidang-bidang tersebut dengan Guangxi,” kata Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA, Senin.
Dalam keterangan tersebut disampaikan Dubes Djauhari bertemu dengan delegasi Daerah Otonomi Khusus Guangxi yang dipimpin Sekretaris Komite Partai Komunis China Daerah Otonomi Khusus Guangxi Chen Gang pada Jumat (13/3).
Didampingi oleh Wakil Duta Besar RI, Irene, Dubes menyampaikan bahwa sejauh ini kerja sama Indonesia dengan Guangxi terus meningkat.
“Tahun lalu misalnya, perdagangan Indonesia dan Guangxi meningkat 40 persen, mencapai 4,73 miliar dolar AS. Banyak juga perusahaan dari Guangxi yang telah berinvestasi di Indonesia, seperti di bidang transportasi hijau dan juga produksi mesin alat konstruksi dan alat berat,” tambahnya.
Djauhari juga menyampaikan bahwa Guangxi menjadi penghubung penting China dan ASEAN.
“Guangxi merupakan pintu gerbang utama hubungan ASEAN-China, termasuk melalui penyelenggaraan ASEAN-China Expo (CA Expo) setiap tahun di ibu kota Guangxi, Nanning. CA Expo telah memainkan peran strategis dalam mendukung penguatan kerja sama perdagangan ASEAN-China,” tambah Dubes.
Ia mengaku telah beberapa kali menghadiri CA-Expo di Nanning dan menilai kegiatan tersebut mendukung diversifikasi ekspor ASEAN, termasuk Indonesia, ke China.
Sementara Chen Gang mengatakan sektor AI berkembang pesat di Guangxi yang pemanfaatannya bukan hanya untuk industri tapi juga pertanian.
“AI telah dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan produksi pertanian, identifikasi hama penyakit dan pemberantasan penyakit tanaman secara cepat. Pemanfaatan ini akan dapat mendukung ketahanan pangan,” kata Chen Gang.
Di kota Nanning telah didirikan Pusat Aplikasi AI ASEAN-China yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kemitraan di bidang AI, baik dengan Indonesia maupun ASEAN.
Terkait CA Expo, Chen Gang menyampaikan acara tahunan itu terus berinovasi, antara lain dengan mendorong perdagangan produk-produk berteknologi tinggi.
“Selain menghadiri CA-Expo, saya juga ingin mengundang Duta Besar bersama Wakil Duta Besar untuk mengunjungi berbagai kawasan industri dan juga pertanian cerdas di Guangxi, sehingga kerja sama di bidang tersebut dapat terealisasikan,” tambahnya.
ASEAN merupakan mitra dagang terbesar China. Pada 2025, volume perdagangan ASEAN-China mencapai 1 triliun dolar AS sedangkan nilai investasi dua arah keduanya mencapai 450 miliar dolar AS.
Daerah Otonomi Khusus Guangxi yang berbatasan langsung dengan Vietnam menjadi salah satu pintu masuk penting kerja sama perdagangan ASEAN-China. [ant.kt]


