DPRD Jatim, Bhirawa
DPRD Jawa Timur melalui Komisi D turun langsung meninjau amblesnya Jembatan Sentong yang menjadi jalur utama penghubung Bondowoso–Jember, Selasa (3/3).
Infrastruktur vital itu ambles sejak 23 Februari lalu setelah fondasi sisi hilir tergerus derasnya aliran Sungai Sampean, menyebabkan hampir sepertiga badan jalan longsor dan arus kendaraan terputus total.
Ketua Komisi D DPRD Jatim, Agung Mulyono yang akrab disapa Dokter Agung bersama anggota Komisi bidang Pembangunan yakni Satib tampak memeriksa langsung retakan dan penurunan badan jalan akibat erosi fondasi.
Keduanya didampingi Kepala UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Jember, Tutug Putro, yang membawahi wilayah Bondowoso–Jember.
Di lokasi, Dokter Agung langsung menghubungi Kepala Bidang Bina Teknik Dinas PU Bina Marga Jatim, Netty Herawati, untuk memastikan percepatan penanganan. Ia menekankan urgensi perbaikan mengingat arus mudik Lebaran semakin dekat.
“Ini sudah mau menjelang Lebaran. Yang drum itu segera diagendakan. Jatim sudah merencanakan kirim, kalau bisa secepatnya,” tegasnya.
Percakapan berlangsung intens. Politisi Demokrat ini menanyakan kepastian pengiriman material dan kesiapan tim lapangan. “Pak Tutug, kapan bisa ngirim? Artinya masyarakat pulang ketika mudik Lebaran itu jalannya enak ya?” ujarnya.
Sementara proses perbaikan berjalan, warga diarahkan melalui jalur alternatif. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menurunkan bantuan berupa aspal drum untuk penanganan darurat, sembari menyiapkan pemasangan jembatan bailey guna memulihkan konektivitas sementara.
Dokter Agung juga meminta sosialisasi pengalihan arus segera dilakukan hingga tingkat kecamatan dan desa.
“Sampaikan ada pengalihan dan ada aspal dari provinsi untuk kenyamanan. Salam untuk warga,” katanya.
Amblesnya jembatan membuat kendaraan roda empat dan truk dialihkan ke jalur yang lebih sempit. Antrean panjang kerap terjadi pada jam padat. Warga setempat menyebut kawasan tersebut memang rawan erosi saat debit sungai meningkat.
Pemprov Jatim bersama Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) telah menurunkan tim teknis untuk memastikan kelayakan struktur.
Pemasangan jembatan bailey kini dipersiapkan sebagai solusi sementara sebelum pembangunan permanen rampung.
Kepala UPT PJJ Jember, Tutug Putro, mengungkapkan bahwa proyek penggantian jembatan sebenarnya sudah siap dilaksanakan sebelum insiden terjadi.
“Desain sudah selesai. Lelang juga sudah. Pemenang sudah ada. Kita tinggal tanda tangan kontrak saat longsor terjadi,” ujarnya.
Setelah ambles, keputusan penutupan total langsung diambil demi keselamatan. “Tidak aman kalau dipaksa. Karena itu kami tutup total. Tidak ada pilihan lain,” tegas Tutug.
Ia memastikan pembangunan jembatan baru membutuhkan waktu sekitar delapan bulan karena dilakukan penggantian total.
“Ini bukan perbaikan kecil. Harus kuat, harus aman,” jelasnya.
Koordinasi dengan kepolisian dan pemerintah daerah terus dilakukan untuk mengurai kemacetan di jalur alternatif. Meski dalam masa darurat, konektivitas Bondowoso–Jember diupayakan tetap berjalan.
Dokter Agung berharap percepatan penanganan benar-benar terealisasi agar masyarakat dapat melintas dengan aman dan nyaman saat mudik. “Kita harus pastikan pekerjaan cepat, rapi, dan aman. Masyarakat harus bisa lewat tanpa khawatir,” pungkasnya. [geh.kt]


