29 C
Sidoarjo
Wednesday, March 25, 2026
spot_img

Jalan Aman “Tidak Memuaskan”

Oleh:
Zainal Muttaqin
Kabag Humas Kantor Gubernur Jawa Timur

Belakangan ini, ruang publik kita kerap diisi potongan siaran televisi, video singkat di media sosial, hingga kutipan mediagram yang menampilkan pernyataan juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam banyak kesempatan, pertanyaan yang diajukan wartawan terasa jelas, tajam, bahkan mendesak.

Namun jawaban yang diberikan sering kali terdengar hati-hati, normatif, dan belum sepenuhnya menjawab rasa ingin tahu publik. Di titik itulah muncul satu respons yang sama: gregetan.

Menariknya, rasa ini tidak hadir sekali dua kali. Dari masa ke masa, meskipun juru bicara KPK berganti, kesan yang muncul relatif serupa. Seolah ada pola komunikasi yang konsisten: terukur, berhati-hati dan dalam banyak situasi terasa belum memuaskan.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menilai benar atau salah. Sebaliknya, ini adalah upaya memahami fenomena tersebut dari sudut pandang ilmu komunikasi, sekaligus melihat apa yang sebenarnya bisa dipelajari dari gaya komunikasi yang kerap memantik respons publik tersebut.

Dua Cara Pandang
Bagi publik, komunikasi yang baik adalah yang jelas, lugas, dan memberi kepastian. Orang ingin jawaban yang langsung menjawab pertanyaan, tidak berputar, dan memberikan rasa selesai.

Namun bagi institusi penegak hukum seperti KPK, komunikasi tidak sesederhana itu. Setiap pernyataan harus mempertimbangkan banyak hal: proses hukum yang sedang berjalan, risiko kesalahan informasi, hingga dampak yang mungkin timbul.

Berita Terkait :  Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Desa Berpotensi Saling Menyingkirkan

Di sinilah terjadi perbedaan cara pandang. Apa yang bagi publik terasa “muter-muter”, bagi institusi bisa jadi adalah bentuk kehati-hatian. Apa yang dianggap “tidak menjawab”, bisa jadi adalah upaya menjaga batas agar tidak melampaui kewenangan.Dalam ilmu komunikasi, kondisi ini dikenal sebagai expectation gap: kesenjangan antara harapan audiens dan cara institusi berkomunikasi. Dan di sinilah akar dari rasa gregetan itu.

Aman Tak Selalu Nyaman
Gaya komunikasi juru bicara KPK pada dasarnya dirancang untuk satu hal utama: aman.Aman dari kesalahan, aman dari pelanggaran prosedur, dan aman dari potensi dampak hukum. Namun dalam praktiknya, komunikasi yang aman tidak selalu terasa nyaman bagi publik.

Karena publik tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga kejelasan dan kepastian. Ketika jawaban terasa menggantung, muncul perasaan bahwa sesuatu “belum selesai”. Padahal, dalam banyak kasus, justru di situlah batas yang harus dijaga.

Inilah paradoks dalam komunikasi publik: apa yang benar secara institusional belum tentu terasa memuaskan secara psikologis.

Di Balik Rasa Gregetan
Jika dilihat lebih jernih, gaya komunikasi ini justru menyimpan banyak pelajaran penting.Pertama, konsistensi dalam tekanan. Juru bicara KPK tetap berada dalam koridor pesan yang sama, meskipun menghadapi pertanyaan berulang dan tekanan publik. Ini menunjukkan disiplin komunikasi yang kuat.

Kedua, kemampuan menjaga batas. Tidak semua hal harus disampaikan. Mengetahui kapan harus berhenti berbicara adalah bagian penting dari komunikasi yang bertanggung jawab.Ketiga, mengutamakan akurasi. Di tengah tuntutan serba cepat, juru bicara KPK memilih berhati-hati. Jawaban mungkin terasa kering, tetapi kecil kemungkinan menimbulkan kesalahan.

Berita Terkait :  Dunia Masih Membutuhkan Koran

Keempat, pengendalian emosi. Dalam situasi yang sering kali tegang, respons tetap terjaga, tidak reaktif, dan tidak terpancing. Ini adalah keterampilan komunikasi yang tidak mudah dimiliki.Kelima, ketahanan terhadap distorsi. Di era digital, setiap pernyataan bisa dipotong dan disebarluaskan. Gaya komunikasi yang ringkas dan hati-hati justru lebih aman dari salah tafsir.

Dari sini kita bisa melihat, bahwa apa yang terasa “tidak memuaskan” ternyata menyimpan kekuatan tersendiri.

Memahami, Bukan Menghakimi
Rasa gregetan publik sebenarnya wajar. Manusia pada dasarnya ingin kepastian, ingin jawaban yang jelas, dan ingin merasa dipahami.Namun di sisi lain, kita juga perlu memahami bahwa tidak semua komunikasi bisa memenuhi kebutuhan tersebut secara langsung.

Ada situasi di mana kehati-hatian harus diutamakan. Ada konteks di mana informasi tidak bisa disampaikan secara terbuka. Dan ada kondisi di mana “tidak menjawab sepenuhnya” justru merupakan bentuk tanggung jawab.Maka, alih-alih melihat fenomena ini sebagai kekurangan, kita bisa membacanya sebagai cerminan kompleksitas komunikasi publik di era modern.

Bahwa tidak semua komunikasi harus menyenangkan. Bahwa dalam konteks tertentu, menjaga akurasi, konsistensi, dan kehati-hatian justru lebih penting daripada memenuhi ekspektasi emosional audiens.

Memilih “Jalan Aman”
Gaya komunikasi juru bicara KPK dapat dipahami sebagai sebuah pilihan: memilih jalan aman, meskipun tidak selalu memuaskan.Sebuah pilihan komunikasi yang mungkin tidak selalu memberikan rasa lega bagi publik, tetapi memiliki tingkat keamanan yang tinggi bagi institusi. Sebuah strategi yang tidak selalu populer, tetapi sering kali paling rasional dalam konteksnya.

Berita Terkait :  Akurasi DTSEN Faktor Utama Penyaluran Bantuan Sosial dan Penegentasan Kemiskinan

Dalam dunia komunikasi publik, memuaskan audiens memang penting. Namun dalam situasi tertentu, menjadi tepat meski terasa tidak memuaskan, justru merupakan bentuk tanggung jawab yang lebih mendasar.

Dan dari situ, kita belajar satu hal penting: dalam komunikasi publik, menjadi memuaskan itu ideal, tetapi menjadi tepat dan bertanggung jawab jauh lebih esensial.

Bukan karena tidak menyadari reaksi publik, tetapi karena dalam konteks tertentu, menjadi “tidak memuaskan” justru adalah pilihan komunikasi yang paling aman.

———— *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!