Kabupaten Kediri, Bhirawa
Di tengah menjamurnya kafe modern, sebuah warung bernuansa tradisional berdiri tenang di Desa Doko, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Namanya Arumpala Kopi, tempat yang bukan sekadar ruang makan, melainkan juga ruang pulang bagi mereka yang merindukan suasana pedesaan dan cita rasa Jawa yang otentik.
Begitu memasuki area warung, pengunjung disambut pepohonan rindang serta gubuk-gubuk kecil bergaya tradisional. Suasana yang sejuk dan tenang membuat Arumpala Kopi kerap menjadi pilihan untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.
Arumpala Kopi menyajikan beragam menu tradisional. Namun, nasi jangan deso dan nasi goreng Jawa menjadi sajian andalan yang paling diminati pengunjung. Cita rasa khas rumahan yang berpadu dengan suasana pedesaan menjadikan pengalaman bersantap di tempat ini terasa lebih istimewa.
Salah satu pengunjung, Isa, mengaku terkesan dengan cita rasa masakan yang disajikan. “Lodehnya enak banget, rasanya khas Jawa dan bumbunya terasa. Makan di sini juga nyaman karena suasananya adem dan tenang,” ujar Isa yang datang ke Arumpala Kopi sepulang kerja, Senin (12/1).
Arumpala Kopi berdiri sejak tahun 2021. Pemiliknya, Muhammad Cahya Gumelar, atau yang akrab disapa Agum, mengatakan bahwa tempat ini lahir dari kecintaannya terhadap budaya Jawa yang diwariskan oleh keluarganya.
“Keluarga saya memang sangat menyukai budaya Jawa, mulai dari bangunan sampai nilai-nilainya. Dari situ muncul ide untuk membuat tempat makan dengan konsep Jawa,” tuturnya.
Berbeda dengan kafe kekinian yang identik dengan konsep modern, Arumpala Kopi justru memilih mempertahankan identitas lokal. Bagi Agum, menjaga budaya merupakan bagian dari upaya merawat jati diri.
“Saat ini banyak kafe modern. Padahal kita sebagai orang Jawa punya kearifan sendiri. Jadi di sini bukan soal banyaknya menu, tetapi suasana dan nuansa Jawanya,” ujarnya.
Kesederhanaan kehidupan desa juga tercermin dari menu yang disajikan. Salah satunya adalah nasi jangan deso, sepiring nasi lengkap dengan sayur lodeh tahu, telur dadar, gerih, dan kerupuk. “Menu ini merupakan makanan sehari-hari masyarakat desa. Resepnya diwariskan turun-temurun dari keluarga,” ungkap Agum.
Tak hanya soal rasa, harga yang ditawarkan pun ramah di kantong, mulai dari Rp10.000 hingga Rp25.000. Dalam sehari, Arumpala Kopi bisa dikunjungi sekitar 50 hingga 100 orang, baik dari wilayah Kediri maupun luar daerah seperti Surabaya dan kawasan Karesidenan Kediri.
Selain sebagai tempat makan, Arumpala Kopi juga kerap dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari sesi foto prewedding hingga pop-up market yang melibatkan pelaku UMKM lokal.
“Kami pernah mengadakan pasar dadakan dengan mengajak teman-teman UMKM yang belum punya tempat. Ada yang menjual aksesori, gelang, thrift, hingga makanan. Kadang juga digabung dengan hiburan DJ, tapi konsep tempatnya tetap tradisional,” katanya.
Nama Arumpala sendiri memiliki makna tersendiri. Kata Arum diambil dari Jalan Tegal Arum, lokasi berdirinya warung, sedangkan Pala berasal dari kata palawija yang melambangkan kekayaan rempah-rempah Nusantara.
“Kami ingin menggambarkan Indonesia yang kaya akan rempah dan budaya. Itulah makna dari nama Arumpala,” pungkas Agum.
Dengan perpaduan cita rasa tradisional, suasana alami, dan nilai budaya yang kental, Arumpala Kopi menjadi salah satu destinasi kuliner yang layak dikunjungi saat berada di Kabupaten Kediri.[van.nov.ca]

