Surabaya, Bhirawa
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menegaskan komitmen dan upaya menuju Top 300 World Class University (WCU) melalui penguatan riset, inovasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia akademik yang berkelanjutan.
Langkah-langkah strategis dilakukan secara komprehensif, mulai dari peningkatan pendanaan riset, hilirisasi inovasi, hingga penguatan internasionalisasi dan tata kelola akademik, Rabu (18/2).
Rektor ITS, Prof. Dr. (HC). Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., mengukapkan bahwa penguatan riset jadi salah satu fokus utama mencapai target tersebut, pada tahun ini ITS menyalurkan pendanaan riset internal sebesar Rp83 miliar difokuskan pada pengembangan produk inovasi, publikasi ilmiah, serta riset yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Pendanaan diharapkan mampu mengatasi kendala klasik di perguruan tinggi, yakni keterbatasan publikasi dosen akibat minimnya dukungan riset, dan dengan pendanaan tidak ada lagi dosen yang tidak memiliki publikasi, meski yang mendapat dana kecil, kolaborasi tetap diizinkan sehingga produktivitas riset dan publikasi bisa meningkat,” jelas Prof. Bambang.
Lanjut Prof. Bambang menyampaikan budaya kolaborasi riset didorong dengan melibatkan mahasiswa magister (S2) dan doktoral (S3) dalam setiap skema penelitian. “Tidak hanya menghasilkan publikasi dan produk inovasi, tapi meningkatkan jumlah mahasiswa pascasarjana yang berkontribusi dalam ekosistem riset kampus, secara keseluruhan dana riset ITS yang dikelola pada tahun sebelumnya mencapai hampir Rp300 miliar, termasuk berbagai skema pendanaan di luar anggaran internal, seperti pendanaan berbasis equity dan program strategis lainnya,” katanya.
Pada hal hilirisasi riset, tambah Prof. Bambang, ITS menjalankan skema produk terhilirisasi melalui program HETI (Higher Education for Technology and Innovation) yang telah berjalan selama dua tahun terakhir, pada Skema tersebut mendorong lahirnya riset berbasis kewirausahaan dan startup teknologi sebagai bentuk konkret dampak inovasi ITS terhadap industri dan masyarakat, walapun jumlah pasti produk terhilirisasi masih dalam pendataan, program dinilai efektif memperkuat ekosistem inovasi kampus menuju standar universitas kelas dunia.
Selain penguatan riset, ITS juga berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dosen guna mempercepat capaian akademik, termasuk peningkatan jumlah guru besar, sekarang jumlah profesor di ITS masih sekitar 20 persen atau sekitar 200-an dari total lebih dari seribu dosen.
“Untuk mengatasi hal tersebut, ITS mendorong dosen muda melanjutkan studi doktoral (S3), memperkuat publikasi ilmiah, serta memfasilitasi pendanaan riset supaya tidak ada lagi kendala kenaikan jabatan akademik akibat minim publikasi, adanya pendanaan riset yang merata dan kolaboratif, setiap dosen diharapkan memiliki publikasi yang cukup sehingga lebih mudah mencapai jenjang guru besar,” pungkas Rektor ITS.
Prof. Bambang mengatakan komitmen menuju Top 300 dunia diwujudkan melalui inovasi pada sektor pendidikan dan penjaringan talenta unggul, ITS memperkenalkan skema Golden Ticket sebagai jalur masuk berbasis prestasi non-akademik, mencakup bidang olahraga, wirausaha, content creator, hingga pengurus OSIS.
“Peserta Golden Ticket diarahkan pada program studi yang relevan, seperti Sains Komunikasi, Desain Produk, dan Desain Komunikasi Visual (DKV), sehingga potensi mereka dapat berkembang secara optimal di lingkungan akademik,” ungkapnya.
Prof. Bambang menjelaskan bahwa ITS turut memperkuat aspek inklusivitas pendidikan dengan menjangkau siswa dari daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), upaya ini dilakukan melalui kolaborasi dengan dinas pendidikan daerah untuk memetakan sekolah-sekolah unggulan yang memiliki potensi namun keterbatasan akses pendidikan tinggi berkualitas.
Melalui penguatan pendanaan riset, hilirisasi inovasi, peningkatan kualitas dosen, serta sistem penerimaan mahasiswa yang inklusif dan adaptif, ITS optimistis dapat mempercepat transformasi menuju perguruan tinggi berkelas dunia. [ren.wwn]

