27 C
Sidoarjo
Sunday, February 22, 2026
spot_img

ISTTS Gelar FlutterFusion Conference, Pakar Google Bedah AI dan Cloud


Surabaya, Bhirawa
Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS) menggelar FlutterFusion Conference 2026 sebagai pertemukan pakar Google dunia untuk bedah masa depan AI, Cloud, dan Flutter bagi developer lokal di Auditorium Institut STTS (ISTTS) Surabaya.

Acara kolaborasi GDGoC ISTTS, GDG Surabaya, dan komunitas Flutter Surabaya ini mengusung tema “The Vibe: Connection & Community”, konferensi menjadi titik temu ratusan developer, mahasiswa, dan praktisi industri merespons cepatnya evolusi Artificial Intelligence (AI) dan pengembangan aplikasi mobile,Sabtu (21/2).

GDE AI dan Cloud, Professor Institusi STTS, Esther Irawati Setiawan, mengatakan pendekatan menempatkan teknologi komputasi awan sebagai fondasi utama, sekaligus memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi, personalisasi layanan, serta kecepatan pengambilan keputusan berbasis data.

“Sinergi antara akademisi dan praktisi seperti ini sangat krusial, melalui kehadiran para pakar membahas implementasi model AI pada perangkat (on-device ML) hingga mengulas Server Driven UI, peserta mendapatkan gambaran utuh mengenai standar industri saat ini,”

Lanjut Esther mengukapkan ke depan integrasi cloud, AI, serta platform pengembangan modern diprediksi menjadi standar baru dalam industri teknologi, pendekatan tidak hanya mempercepat transformasi digital, tapi memperkuat daya saing organisasi di era ekonomi berbasis teknologi dan data.

Sementara itu, Senior Software Engineer dan Flutter GDE, Joshua De Guzman, menyampaikan dunia teknologi memasuki era baru dalam pengembangan perangkat lunak dengan diperkenalkannya Anti Gravity oleh Google.

Berita Terkait :  341.165 Anak Sekolah di Kabupaten Sidoarjo jadi Sasaran CKG

“Alat ini merupakan sebuah lingkungan pengembangan terpadu (IDE) berbasis agen atau agent-first IDE yang dirancang khusus untuk membantu para insinyur perangkat lunak membangun proyek dan menulis kode menggunakan bantuan kecerdasan buatan (AI), Berbeda dengan metode konvensional yang mana pengembang harus menulis kode secara manual dan menghafal sintaksis yang rumit, AI ini memberikan instruksi dengan menggunakan prompt,” ceritanya.

Joshua menambahkan kehadiran teknologi “Agent-First” diharapkan dapat membantu para pengembang dan perusahaan untuk lebih fokus pada inovasi serta pemecahan masalah bisnis tanpa harus terhambat oleh proses teknis penulisan kode yang memakan waktu lama. [ren.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru