25 C
Sidoarjo
Wednesday, February 4, 2026
spot_img

ISNU Surabaya dan Unusa Bekali Guru dengan Metode Pemetaan Sosial untuk Cegah Perundungan


Surabaya, Bhirawa
Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Surabaya bersama Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengelar workshop nasional di Gedung Unusa Tower. Workshop nasional tersebut di ikuti ratusan guru SD hingga SMA se Surabaya dibekali metode pemetaan hubungan sosial siswa, teknik ini bertujuan mengubah pola penanganan sekolah yang selama ini cenderung pasif, Selasa (13/1).

Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN.Eng mengatakan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang tanpa kekerasan, sebagai akademisi harus sadar sekolah ialah sebuah mikrososial, disitulah analisa sosiometri menjadi krusial.

“Selama penangan kasus bullying bersifat pemadam kebakaran, ditindak setelah ada laporan masuk, Sedagkan kekuatan data sosiometri mampu memberikan gambaran prediktif mengenai struktur kekuasaan di dalam kelas,” jelasnya.

Lanjut Tri Yogi menjelaskan bahwa dengan memetakan hubungan antara siswa, kita bisa melihat siapa yang terasing sebelum menjadi korban, dan siapa yang mendominasi secara negatif sebelum menjadi pelaku. “Tugas kita tidak hanya mengajar matematika atau sejarah, namun memastikan tidak ada satupun anak-anak kita yang merasa sendirian di tengah keramaian,” tuturnya.

Rektor Unusa menegaskan bahwa analisa sosiometri memiliki tiga kekuatan dalam mengatasi kasus perundungan, yakni mengidentifikasi resiko dini, memahami struktur kekuasaan, juga memungkinkan intervensi cerdas.

Sementara itu, Pakar Sosiologi Universitas Negeri Jember (UNEJ), Dr. Rojabi Azharghany mengukapkan penelitian pada boarding school tingkat SMP dan SMA, menemukan akar dari perundungan terjadi di sekolah, yaitu beban aktivitas mental yang berlebihan pada anak.

Berita Terkait :  Pemkab Bojonegoro Bangun Embung dan Normalisasi atasi Kekeringan Sawah

“Biasanya pengasuh atau pengurus menumpahkan satu tanggung jawab besar pada satu anak untuk membuat Keputusan, dari tanggung jawab inilah seringkali menjadi awal mula perundungan terjadi, ketika salah satu siswa melakukan kesalahan, dengan ‘tanggung jawab’ yang dimiliki satu anak tersebut dia membuat keputusan yang didasari dengan memberikan pendidikan mental,” pungkas Rojabi.

Rojabi menambahkan pada usia anak yang memberikan ‘pendidikan mental’ masih berada di usia yang perlu dididik mentalnya, banyak pula orang dewasa di lingkungan tersebut yang menganggap tindakan perundungan itu sebagai ‘pendidikan mental’.

“Sosiometri fokus penanganan pada yang terlibat baik pelaku maupun korban, mengakui sebuah tindakan perundungan adalah salah secara tegas jadi langkah awal, tidak ada cara instan dalam menangani perundungan, menumbuhkan empati pada anak didik, jadi poin yang perlu diperhatikan oleh setiap pengajar,” imbuhnya. [ren.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru