Surabaya, Bhirawa
Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya mengubah pengolahan kopi menjadi moderen dan ramah lingkungan di Desa Sumberdem, Kabupaten Malang.
Berkat dukungan program United Kingdom-Indonesia Social Action Grant 2025 dari British Council, kelompok tani Berkah Tani Nyawiji (BTN) beranggotakan 26 orang resmi menerima beberapa fasilitas dukungan melalui untuk peningkatan kapasitas pngolahan Kopi berkelanjutan.
Program tersebut dilaksanakan oleh 3 dosen dipimpin oleh Iwan Halim Sahputra, S.T., M.Sc., Ph.D., dosen Teknik Industri Universitas Kristen Petra, bersama dua dosen lainnya, yakni Dr. Ing. Indar Sugiarto, S.T., M.Sc., dari Teknik Elektro, dan Hariyo Priambudi Setyo Pratomo, S.T., M.Phil., dari Teknik Mesin, Kamis (29/1).
Dosen Teknik Industri UK Petra Surabaya, Iwan Halim Sahputra, S.T., M.Sc., Ph.D., mengukapkan bahwa kegiatan merupakan keberlanjutan dari program tahun sebelumnya, yang telah membangun rumah jemur kopi dan mesin pengupas biji kopi bertenaga surya, tahap kedua kali tim memperluas kapasitas rumah jemur kopi menjadi 8 kuintal – 1 ton ceri kopi basah dalam satu kali proses, dengan menambahkan mesin penyortir biji kopi serta alat ukur kadar air (moisture meter), serta penambahan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik dari peralatan.
“Semua inovasi dirancang bertujuan mengatasi tantangan pasca panen yang dihadapi oleh petani, ke ingin kami membantu petani supaya proses pengolahan kopi tidak lagi bergantung pada perkiraan dan proses manual, tapi berbasis alat dan sistem yang lebih konsisten,” jelasnya.
Lanjut Iwan mengatakan mesin sortasi didesain oleh Hariyo Priambudi memungkinkan biji kopi dipisahkan berdasarkan ukuran dengan lebih cepat dan rapi, sehingga menghasilkan kualitas panen yang lebih seragam, penambahan panel surya oleh Indar Sugiarto membantu operasional mesin supaya berjalan dengan optimal dan menjadi alternatif sumber listrik selain PLN, serta alat ukur kadar air membantu petani menentukan standar kelembaban biji kopi sebelum roasting, yang penting untuk menjaga kualitas rasa.
Sementara itu, Wakil Ketua Kelompok Tani BTN, Wasis, menyampaikan proses sebelumnya dilakukan secara manual kini jauh lebih mudah. “Sekarang kerja lebih cepat dan hasilnya juga lebih rapi, jadi lebih percaya diri dengan kualitas kopi yang dihasilkan, bahkan dua tahun terakhir, kelompok petani mencatat mengalami kenaikan minat pembeli terhadap kopi bubuk, serta peningkatan harga produk jadi,” pungkas Wasis.
Wasis berharap menjadi landasan bagi para petani untuk lanjut seluruh rantai pasca panen, mulai dari pengeringan, sortasi, hingga produk akhir. [ren.wwn]

