Indonesia gabung Trump dalam Dewan Perdamaian Gaza, yang di-inisiasi Amerika Serikat (AS). Walau sebenarnya banyak negara sangat meragukan netralitas Trump, berkait dengan menantunya (Jared Corey Kushner, keturunan Israel, dan Yahudi ortodoks). Beberapa negara utama di Eropa, masih “diam” (belum menjawab ajaan Trump). Beberapa negara (Prancis, Denmark, Swedia, Noerwegia, dan Slovenia) bahkan menolak. Sedangkan negara di jazirah arab sekitar Palestina, umumnya langsung turut bergabung.
Selain Indonesia, dan AS, terdapat 19 negara yang turut dalam “Board of Peace,” yang ditadantangani pada kesempatan annual meeting di Davos, Swiss. Ketika sedang menandatangani kesepakatan, pundak Presiden Prabowo Subianto, ditepuk-tepuk oleh Trump. Tanda ke-suka-an yang besar. Trump sebagai pimpinan dewan, menyampaikan pidato. Kata-katanya mirip “The Saint” (orang suci), dengan menyatakan, terbuka untuk kesertaan banyak negara, serta kerjasama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Trump menyatakan, “Board of Peace,” ber-komitmen memastikan dilakukannya de-militerisasi di Gaza. Walau realitanya, tentara Israel masih meng-gempur Gaza dengan bom, dan tembakan dari senapan otomatis. Bahkan Trump, menyatakan, “Dengan kombinasi orang-orang dalam Dewan Perdamaian Gaza, dan PBB, akan sangat unik bagi dunia.” Artinya, sangat mugkin dilakukan kerjasama dengan PBB. Seolah menjawab (dan menepis) ke-khawatir-an bahwa “Board of Peace,” akan menjadi pesaing PBB.
Keraguan dunia sangat beralasan. Karena Trump belum terbukti bisa menundukkan Netanyahu. Yang terbukti malah sebaliknya, Netanyahu (Israel) dibiarkan melanjutkan upaya genosida terhadap warga Palestina, khususnya di Gaza. Dalam catatan Pemerintah Gaza, dalam 100 hari genjatan, terjadi 1.300 rupa pelanggaran oleh Israel. Rincianyya, 600 lebih insiden pengeboman, 430 insiden penembakan (sampai tewas), dan 66 penyerbuan kendaraan militer ke permukiman. Sampai 200 kasus penghancuran rumah dan bangunan sipil.
Publikasi global mencatat, sebanyak lebih dari 70 ribu warga Palestina telah tewas, selama perang, sejak 8 Oktober 2023. Separuhnya merupakan anak-anak, dan perempuan, dan lansia yang diam di dalam rumah. Kementerian Kesehatan Palestina, mencatat sebanyak lebih 171 ribu rakyat mengalami luka. Termasuk luka berat, dan cacat permanen. Trutama di derita anak-anak. Bahkan selama gencatan senjata, sejak Oktober 2025, masih terdapat 386 warga Palestina yang ditembak mati tentara Isreal. Serta 980 lainnya terluka.
Maka segenap negara anggota Dewan Perdamaian Gaza, wajib “menagih” ketegasan (dan netralitas) Trump, disertai konsekuensi menarik dukungan. Terutama mencegah genosida (pembunuhan) terhadap warga sipil Palestina. Karena di dalam Dewan Perdamaian Gaza, terdapat Divisi Stabilisasi Internasional untuk Gaza (ISF), yang dipimpin Mayor Jenderal Jasper Jeffers. Juga terdapat penasihat senior untuk Dewan Perdamaian yang mengawasi “strategi dan operasional sehari-hari,” yang dipimpin Josh Gruenbaum.
Tetapi pembentukan Dewan Perdamaian Gaza, oleh Trump, bukan kaleng-kaleng. Karena setiap anggota permanen harus menyetor biaya operasional sebesar US$ 1 milyar. Begitu pula personel pengurus (Dewan Eksekutif), terdiri tokoh-tokoh kesoroh, dan kaya. Antara lain, mantan PM Inggirs Tony Blair, dan miliarder AS dan CEO Apollo Global Management, Marc Rowan. Tercantum pula Kepala World Bank Group, Ajay Banga. Serta menantu Trump, Jared Corey Kushner.
Presiden Prabowo Subianto, memilih bergabung pada awal, karena dianggap sesuai dengan amanat pembukaan UUD 1945. Tercantum dalam alenia ke-4 pembukaan UUD, dinyatakan, “… ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarka kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.” Tetapi yang dimaksud oleh UUD, ketertiban dunia yang dibawahkan berdasar mandat lembaga internasional yang diakui sedunia (PBB). Bukan oleh suatu negara yang memiliki visi blok politik.
——— 000 ———

