Kadindik Tegaskan Implementasi Lewat Lintas Mapel dan Ekskul
Dindik Jatim, Bhirawa
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) RI perkuat Program Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN). Kolaborasi dan kerjasama ini sebagai upaya dalam membangun karakter bangsa dan melindungi peserta didik dari bahaya narkoba.
Program ini merupakan bagian dari gerakan Ananda Bersinar yang diinisiasi BNN RI dan mulai diimplementasikan di satuan pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa IKAN bukan kurikulum baru, melainkan penguatan pada mata pelajaran yang sudah ada.
“Program ini diintegrasikan dalam mapel yang berjalan, dengan penekanan pada sosialisasi bahaya narkoba di lingkungan sekolah, termasuk pengenalan jenis-jenis narkoba yang berkembang,” ujarnya, Rabu (25/2).
Menurut Aries, perkembangan narkoba saat ini semakin kompleks karena banyak yang menyerupai makanan dan minuman sehingga berisiko tinggi dikonsumsi tanpa disadari bahkan hingga ketagihan. Oleh sebab itu, penguatan pengetahuan menjadi benteng utama agar peserta didik memahami dampak narkoba terhadap fisik, mental, dan masa depan siswa.
Karenanya, Aries berkomitmen mendorong mendorong pelatihan bagi guru agar mampu menyampaikan materi bahaya narkoba secara tepat dan berkelanjutan. “Implementasi IKAN dilakukan lintas mata pelajaran dan kegiatan sekolah. Selain pembelajaran di kelas, sosialisasi juga diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler. Ini perlu dilakukan sebagai langkah nyata pencegahan dan penyuluhan pengetahuan tentang narkoba,”terang Aries .
Kadindik lulusan IPDN ini juga menegaskan upaya pengawasan turut dilakukan melalui inspeksi mendadak (sidak) di kantin sekolah, pemantauan perilaku siswa, serta kerja sama dengan puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan dini, termasuk tes urine bila diperlukan.
Program IKAN sendiri merupakan kebijakan yang sejalan dengan program nasional 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) serta visi Presiden membangun budaya sekolah ASRI (Aman, Sehat, Ramah, dan Indah).
Aries juga menyebut sekolah aman dan nyaman tidak hanya bebas dari kekerasan fisik, tetapi juga terlindungi dari perilaku yang merusak fisik, mental, dan spiritual murid.
Sementara itu, Kepala SMAN 4 Sidoarjo, Karyanto, menyatakan bahwa integrasi IKAN di sekolahnya telah berjalan melalui mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Biologi, serta kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, PMR, dan Paskibra.
“Bentuk kegiatannya meliputi sosialisasi, workshop, dan pelatihan. Di Biologi dilakukan melalui kajian laboratorium, sementara di Penjas ditekankan dampak narkoba terhadap kebugaran dan organ tubuh,” jelasnya.
Kemudian untuk PMR konsernya pada gejala awal dan saat anak terkena narkoba. Sementara di Pramuka, hal ini tertuang dalam pandu Dasa Dharma Pramuka. Terakhir di Paskibra, pencegahan ini dideteksi dengan menjaga kefokusk dalam baris berbaris.
“Jadi program IKAN ini implementsinya di kategori multidisiplin ilmu dan inter disiplin ilmu,”ujar Karyanto yang juga menjabat Ketua MKKS SMA Sidoarjo ini.
Ia juga menambahkan, sekolah menyambut baik pengawasan dan pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari implementasi IKAN yang rencananya akan dilakukan Dindik Jatim. “Deteksi dini penting karena gejala awal seperti mengantuk, kurang fokus, dan perubahan perilaku dapat memengaruhi proses belajar. Dengan penguatan ini, kami berharap lingkungan sekolah semakin terlindungi dari bahaya narkoba,” pungkasnya. [ina.wwn]


