29 C
Sidoarjo
Wednesday, April 1, 2026
spot_img

Idul Fitri, Selat Hormuz dan Semangat Persatuan

Oleh:
Sihabuddin
Penulis adalah Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.

Bulan suci Ramadhan yang selalu ditunggu kedatangannya oleh umat Islam di seluruh dunia sudah berakhir. Berakhirnya bulan Ramadhan ditandai setelah tampaknya hilal yang menandakan bahwasannya sudah memasuki bulan syawal, dimana pada tanggal 1 syawal seluruh umat Islam merayakan Idul Fitri sebagai salah satu hari besar dalam Islam. Pada hari raya Idul Fitri umat Islam menyambut dengan bersuka cita dengan takbir dan sholat Idul Fitri. Moment Idul Fitri memiliki makna tersendiri bagi umat Islam. Pertama, Idul Fitri sering dimaknai sebagai momen di mana umat Muslim kembali suci atau bersih dari dosa setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan dan menunaikan zakat fitrah. Kedua, kemenangan dalam melawan hawa nafsu dan keburukan diri sendiri selama bulan Ramadan. Ketiga, bukan sekadar berpakaian baru, hakikat Idul Fitri adalah peningkatan iman dan ketaatan kepada Allah SWT setelah digembleng selama bulan puasa. Keempat, momen untuk mempererat tali persaudaraan, saling memaafkan, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Perayaan Idul Fitri di seluruh dirayakan pada tanggal 1 Syawal 1447 Hijriyah yang mana dalam kalender masehi tahun ini perayaan Idul Fitri 20 Maret 2026 dan 21 Maret 2026. Meski ada negara atau kelompok yang merayakan tanggal 19 Maret 2026 berdasarkan keyakinan masing-masing. Namun, secara umum perayaan Idul Fitri di berbagai negara di seluruh dunia tahun 2026 ini pada tanggal 20 Maret dan 21 Maret. Pemerintah Indonesia sendiri melalui Kementerian Agama menetapkan hari raya Idul Fitri pada tanggal Sabtu 21 Maret 2026 setelah melalui sidang Isbat. Perbedaan penetapan Idul Fitri yang secara umum pada tanggal 20 maret dan 21 maret 2026 ini dipengaruhi oleh perbedaan faktor geografis dan sistem penanggalan hijriyah yang berbeda dengan penanggalan masehi.

Berita Terkait :  Idul Fitri, Halal Bi Halal, dan Warisan Mbah Wahab

Perbedaan penetapan Idul Fitri (1 Syawal) yang dipengaruhi oleh faktor geografis terjadi karena posisi bulan sabit muda (hilal) berbeda-beda di setiap wilayah permukaan bumi pada waktu yang bersamaan. Faktor geografis memengaruhi visibilitas hilal, di mana negara yang berada lebih ke barat atau lebih selatan/utara sering kali memiliki peluang hilal terlihat berbeda dengan wilayah lainnya. Secara umum rotasi bulan dari barat ke timur. Itulah kenapa negara-negara di belahan bumi bagian barat akan melihat hilal terlebih dahulu dan bumi bagian timur setelahnya. Maka tidak heran negara-negara di Jazirah Arab ke barat merayakan Idul Fitri di tanggal 20 Maret 2026 sedangkan negara-negara di Timur Jazirah Arab merayakan Idul Fitri di tanggal 21 Maret 2026.

Sebenarnya perbedaan penetapan hari yang berbeda dalam perayaan Idul Fitri itu masih dalam waktu 24 jam, jadi bumi belahan barat yang merayakan Idul Fitri di tanggal 20 dan bumi belahan timur yang merayakan Idul Fitri di tanggal 21 masih di hari dan tanggal yang sama dalam Kalender hijriyahyaitu masih 1syawal. Anggapandi hari yang berbeda antara bumi bagian barat dan bumi bagian timur dalam penetapan Idul Fitri ini karena saat ini mayoritas umat Islam terbiasa dengan kalender masehi sehingga banyak yang lupa bahkan tidak tahu atau asing dengan kalender hijriyah. Padahal semua hari besar Islam mengikuti kalender hijiriyah. Kalender hijriyah awal mulainya mengikuti rotasi bulan yang dihitung sejak matahari terbenam atau waktu magrib, sedangkan kalender masehi mengikuti rotasi matahari yang dihitung setelah melewati jam 24:00 atau dini hari.

Berita Terkait :  Ikuti Arahan Nasional, Kota Probolinggo Tiadakan Pesta Kembang Api Tahun Baru

Selain itu, banyak umat Islam yang menyamakan masuknya bulan baru dalam Kalender hijriyah disamakan dengan waktu sholat yang ikut rotasi matahari dari timur ke barat. Maka tidak heran banyak yang bingung kenapa negara-negara jazirah Arab Idul Fitri 20 Maret dan negara-negara Asia termasuk Indonesia 21 maret karena terpaku pada waktu sholat. Waktu sholat memang lebih awal Indonesia 4 Jam dengan Arab Saudi karena ikut rotasi matahari, tapi waktu masuknya bulan baru dalam Kalender hijriyah bisa lebih awal Arab Saudi 20 jam karena ikut rotasi bulan. Perbedaan 20 jam-an dalam posisi hilal saat maghrib di Indonesia dibanding Arab Saudi pada tanggal 29 Hijriyah sering kali membuat hilal belum memenuhi kriteria di Indonesia, namun sudah memenuhi kriteria di Arab Saudi.

Menariknya titik letak geografis yang membedakan negara-negara yang merayakan Idul Fitri di tanggal 20 Maret 2026 dengan negara-negara yang merayakan Idul Fitri 21 Maret 2026 terletak di Selat Hormuz. Selat Hormuz yang menjadi satu-satunya jalur laut dari Teluk Persia ke samudra lepas dan merupakan salah satu titik rawan stategis terpenting di dunia akhir-akhir ini menjadi perbicangan hangat sejak penutupan Selat Hormuz oleh Iran pada awal Maret 2026, sebagai respons atas serangan Israel-AS yang memicu lonjakan harga minyak global dan ketegangan geopolitik. Negara-negara di sebelah barat Selat Hormuz seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, negara-negara Afrika, negara-negara Eropa dan negara-negara Amerika merayakan Idul Fitri di 20 Maret 2026.Sedangkan negara-negara Asia dari Iran ke Timur seperti Pakistan, India, Bangladesh, China, Taiwan, Hongkong Jepang, Sri Lanka, Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina, Kamboja, Thailand dan lainnya sama dengan pemerintah Indonesia yang menetapkan Idul Fitri pada tanggal 21 Maret 2026.

Berita Terkait :  Gelar Natal Bersama Parlemen 2024, Panitia: Untuk Indonesia Aman, Damai, dan Sejahtera

Berbeda dengan kebanyakan negara-negara di seluruh dunia, Afghanistan, Niger dan Mali menetapkan Idul Fitri pada tanggal 19 Maret 2026. Penetapan ini tentunya setelah terlihatnya hilal di wilayah tersebut, meskipun banyak yang meragukan penampakan hilal di daerah tersebut. Muncul pendapat dalam diskusi astronomi bahwa objek yang terlihat di atas matahari saat itu bisa jadi adalah planet Venus, bukan hilal yang sesungguhnya. Selain ketiga negara tersebut beberapa kelompok atau organisasi masyarakat menetapkan Idul Fitri di hari yang berbeda dengan pemerintah Indonesia. Namun, Pemerintah tidak bersikap otoriter terkait perbedaan ini dan mengimbau masyarakat untuk saling menghormati perbedaan penetapan Idul Fitri. Maka dari itu, di moment Idul Fitri hendaknya setiap warga negara mengedapankan toleransi dan saling menghargai atas perbedaan demi semangat persatuan. Kesampingkan perbedaan dan carilah kesamaan untuk keutuhan persaudaraan.

———— *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!