Kebijakan pemerintah dalam menggenjot hilirisasi sumber daya alam (SDA), terutama nikel dan hasil tambang lainnya, patut diapresiasi sebagai langkah berani untuk melepaskan diri dari ketergantungan ekspor bahan mentah. Dengan adanya pengolahan di dalam negeri, nilai tambah produk meningkat, pendapatan negara bertambah, dan potensi lapangan kerja terbuka luas.
Namun, di balik narasi kesuksesan ekonomi yang digaungkan, kita tidak boleh menutup mata terhadap dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan di lokasi hilirisasi. Beberapa laporan menunjukkan adanya isu lingkungan serius, seperti pencemaran air, deforestasi masif, dan kerusakan ekosistem pesisir akibat aktivitas smelter.
Selain itu, manfaat ekonomi seringkali belum dirasakan secara merata oleh masyarakat lokal. Masih ada kesenjangan ekonomi, di mana masyarakat sekitar justru kesusahan mencari nafkah seperti nelayan yang hasil tangkapannya menurun, sementara pertumbuhan ekonomi daerah hanya dinikmati oleh korporasi besar atau tenaga kerja asing.
Hilirisasi seharusnya tidak hanya fokus pada “menaikkan nilai jual”, tetapi juga “menaikkan taraf hidup” warga lokal. Pemerintah harus memperketat pengawasan terhadap standar lingkungan (ESG – Environmental, Social, and Governance) dan memastikan transfer teknologi serta pemberdayaan tenaga kerja lokal berjalan optimal.
Semoga hilirisasi pertambangan dapat benar-benar berjalan dengan baik, menjadi warisan berharga bagi generasi masa depan, bukan malah menyisakan duka lingkungan dan sosial.
Hormat saya,
Mohammad Sobirin
Bangkalan, Madura

