Malang, Bhirawa
Masjid Raden Patah (MRP) Universitas Brawijaya (UB) kembali menorehkan inovasi dalam mengisi bulan suci Ramadhan. Melalui kegiatan bertajuk “Ngabuburun”, MRP UB mengajak civitas akademika dan masyarakat umum untuk menjalani rutinitas ngabuburit yang lebih sehat dan produktif dengan konsep fun run, Selasa (24/2).
Penanggung jawab panitia Ngabuburun MRP UB, Habibi, mengungkapkan bahwa agenda ini lahir dari keinginan untuk mengubah pola kebiasaan ngabuburit yang selama ini dinilai kurang produktif. Menurutnya, Ramadhan seharusnya menjadi momentum penguatan diri, baik secara fisik maupun spiritual.
“Ngabuburun adalah wadah syiar Ramadhan melalui aktivitas positif. Kami menghadirkan konsep lari santai menjelang berbuka yang tidak hanya menyehatkan jasmani, tetapi juga memiliki nilai ibadah dan kebersamaan,” ujar Habibi di sela-sela kegiatan.
Kegiatan yang terbuka untuk umum ini memulai rutenya dari halaman timur Masjid Raden Patah. Para peserta menyusuri jalur ikonik di dalam kampus, mulai dari Gedung Layanan Bersama (GLB), melintasi berbagai fakultas seperti FEB, FILKOM, hingga Fakultas Teknik, dan berakhir kembali di titik start untuk melaksanakan buka puasa bersama.
Dukungan penuh juga datang dari Ketua Yayasan UB, Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S., IPU., ASEAN Eng. Ia menegaskan bahwa ibadah puasa tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan.
“Puasa itu bukan untuk tidur-tiduran. Para runner tetap bisa berlari dengan cara yang benar di waktu yang tepat, yaitu sore hari menjelang berbuka. Ini adalah wujud kreativitas mahasiswa UB yang perlu terus dipupuk,” tegas Prof. Sasmito.
Ia menambahkan, proses pendidikan di UB tidak hanya terjadi di dalam ruang kelas melalui buku teks, tetapi juga melalui kegiatan luar ruang yang mampu membentuk karakter, kedewasaan, dan solidaritas sosial mahasiswa.
Antusiasme peserta tahun ini pun meningkat signifikan. Nasriani Purba, mahasiswa FEB angkatan 2023 yang turut menjadi peserta, mengapresiasi manajemen acara yang semakin profesional. “Tahun ini jauh lebih rapi karena sistem registrasinya sudah terorganisir, tidak hanya lewat grup WhatsApp seperti sebelumnya. Harapannya kedepan ada dukungan resmi yang lebih luas dari pihak universitas,” tuturnya.
Melalui Ngabuburun, MRP UB sukses memposisikan diri bukan sekadar tempat ibadah ritual, namun juga sebagai pusat aktivitas pemuda yang inklusif dan mampu membangun budaya hidup sehat di lingkungan kampus. [mut.wwn]


