Peringatan Haul Ke-77 Tan Malaka di pusaranya Desa Selopagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Sabtu (14/02/2026).
Kab Kediri, Bhirawa.
Peringatan haul Ke-77 Tan Malaka di pusaranya di Desa Selopagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Sabtu (14/2), berlangsung khidmat dan penuh refleksi. Puluhan mahasiswa bersama masyarakat dari berbagai komunitas mengikuti rangkaian doa bersama, orasi kebangsaan, serta pembacaan puisi sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pemikiran tokoh pergerakan nasional tersebut.
Kegiatan ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai perjuangan Tan Malaka, terutama semangat republik, kedaulatan rakyat, dan keberanian berpikir kritis di tengah tantangan zaman.
Ketua Tan Malaka Institute, Imam Mubarok, mengatakan haul ini merupakan bagian penting dari upaya merawat ingatan kolektif bangsa terhadap sosok Tan Malaka. Ia menegaskan, Tan Malaka tidak hanya dikenang sebagai pahlawan nasional, tetapi juga sebagai pemikir besar yang gagasannya masih relevan hingga saat ini.
“Negara telah mengakui Tan Malaka sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963. Namun, yang lebih penting adalah melanjutkan semangat perjuangan dan nilai-nilai yang diwariskannya,” ujar pria yang akrab disapa Gus Barok itu.
Menurutnya, Tan Malaka kerap disebut sebagai “Bapak Republik” karena gagasannya tentang Republik Indonesia telah ia rumuskan jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan 1945. Dalam berbagai karya tulisnya, Tan menekankan pentingnya pemerintahan yang berpihak pada rakyat, kemerdekaan yang substansial, serta perjuangan melawan segala bentuk penindasan.
Selain itu, pemikiran kritis Tan Malaka yang tertuang dalam buku Madilog, akronim dari Materialisme, Dialektika, dan Logika, dinilai penting untuk membentuk cara berpikir rasional dan ilmiah, khususnya di kalangan generasi muda.
“Madilog mengajarkan keberanian berpikir kritis dan sikap rasional dalam menyikapi realitas sosial. Ini sangat relevan untuk membangun kesadaran intelektual dan politik yang matang,” katanya.
Gus Barok menambahkan, mengenang Tan Malaka tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial semata, melainkan juga dengan membaca, mengkaji, dan mengamalkan gagasan-gagasannya dalam kehidupan sehari-hari.
Terpisah, Ketua Yayasan Ibrahim Tan Malaka (IBRATA) di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, Ferizal Sultan Purnama Agung, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya haul di Kediri. Ia menyebut, peringatan serupa juga akan digelar di daerah kelahiran Tan Malaka pada 21 Februari 2026 mendatang.
“Atas nama keluarga dan yayasan, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya. Semoga kegiatan ini menjadi amal kebaikan dan mempererat silaturahmi antar-keluarga besar Tan Malaka,” ucapnya.(van,nov.hel)

