Surabaya, Bhirawa
Universitas Ciputra (UC) Surabaya luncurkan program baru bertajuk “Halo UC Dok”. Platform ini merupakan wadah konsultasi kesehatan interaktif yang terbuka untuk masyarakat umum. UC mengejarnya melalui siaran do media sosial TikTok Official Universitas Ciputra Surabaya.
Vice Rector for Operations, Technology, and Resources Universitas Ciputra, Michael Hery Tera mengungkapkan inovasi ini hadir karena banyak masyarakat yang minim informasi soal tanda awal kanker rongga mulut. Salah satu gejala utamanya adalah luka di mulut yang tak kunjung sembuh sering dianggap sariawan biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal kanker rongga mulut yang kerap terlambat terdiagnosis di Indonesia.
Berdasarkan Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN), kanker bibir dan rongga mulut masih termasuk dalam kasus kanker yang ditemukan di Indonesia. Sejumlah studi klinis juga menunjukkan banyak pasien baru memeriksakan diri ketika kondisi sudah memasuki stadium lanjut karena gejala awal sering dianggap sepele.
Ditambahkan Michael, UC tidak hanya menghadirkan edukasi, tetapi juga membuka akses konsultasi yang lebih mudah, cepat, dan relevan dengan kebiasaan masyarakat di era digital. “Halo UC Dok adalah wujud komitmen Universitas Ciputra dalam memperluas literasi kesehatan masyarakat Indonesia. Kami ingin berperan aktif bukan hanya dalam pendidikan formal, tetapi juga dalam memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan publik melalui akses konsultasi yang mudah dan terpercaya,” terangnya.
Program ini diharapkan menjadi jembatan antara tenaga medis dan publik, sekaligus mendorong budaya deteksi dini sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat.
Ia juga menambahkan, program ini hadir secara rutin setiap minggu tepatnya, hari Rabu untuk konsultasi kesehatan gigi dan mulut dan Kamis untuk konsultasi kesehatan umum.
Dalam format live selama satu jam 15.30 – 16.30 WIB di Tiktok, masyarakat dapat bertanya langsung kepada dokter secara real-time tanpa biaya. “Pada edisi perdana konsultasi gigi, dua dokter spesialis penyakit mulut, drg. Karlina Puspasari dan drg. Nurfitri Amaliah, membahas tanda bahaya luka di rongga mulut yang sering diabaikan,” ucap Michael.
Dijelaskan drg. Karlina Puspasari, sariawan normal biasanya sembuh dalam 7-14 hari. Jika lebih dari dua minggu tidak membaik, kata dia, apalagi disertai perubahan warna atau jaringan terasa keras, hal tersebut perlu diperiksakan.
Sementara menurut drg. Nurfitri, keterlambatan pemeriksaan sering terjadi karena masyarakat tidak merasakan nyeri pada tahap awal.
“Kanker rongga mulut pada stadium awal sering tidak terasa sakit. Justru karena tidak nyeri, orang menunda pemeriksaan. Edukasi seperti ini penting agar masyarakat lebih peka terhadap perubahan di tubuhnya sendiri,” ujarnya. [ina.wwn]


