Empat mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSura) kembangkan inovasi dalam pengelolaan diabetes melitus. Dibimbing Dr. dr. Nurma Yuliyanasari, M.Si dan dr. Detti Nur Irawati, Sp.PD-FINASIM inovasi yang dikembangkan Indra Bayu Suta, Nabila Sarah Shafira, Aurellya Shafa Helsana dan Mochamad Reza Irwansyah, bahkan sukses meraih dia medali emas pada kompetisi Japan, Design, Idea, and Invention Expo (JDIE) 2025 beberapa waktu lalu.
Inovasi yang dimaksud adalah GENDHIS (Glucose Easy Non-Invasive Daily Checker and Insight System). Alat ini dirancang untuk menghadirkan sistem pemantauan kadar glukosa darah berbasis aplikasi mobile yang terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT).
Anggota tim, Nabila Sarah Shafira, menjelaskan GENDHIS dikembangkan untuk menjawab tantangan kepatuhan pasien diabetes dalam melakukan pemantauan rutin. Menurutnya, banyak pasien masih kesulitan melakukan kontrol harian karena metode pemeriksaan yang tidak praktis dan minimnya sistem pencatatan yang terintegrasi.
“GENDHIS kami rancang agar pasien bisa memantau kadar glukosa secara real-time melalui ponsel. Harapannya, pasien lebih sadar terhadap kondisi kesehatannya dan tidak menunda kontrol karena prosesnya dibuat sederhana dan nyaman,” ujar Nabila, Senin (12/1).
Ia menjelaskan, aplikasi GENDHIS tidak hanya menampilkan angka glukosa, tetapi juga menyajikan grafik tren, pengingat obat, serta fitur edukasi yang membantu pengguna memahami kondisi tubuhnya. Dengan pendekatan ini, GENDHIS diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku menuju manajemen diabetes yang lebih disiplin dan berkelanjutan.
Sementara itu, dosen pembimbing, dr Nurma, menilai GENDHIS sebagai bentuk inovasi kesehatan digital yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Menurutnya, integrasi antara teknologi medis dan aplikasi berbasis IoT menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya untuk penyakit kronis seperti diabetes.
“GENDHIS dikembangkan dengan pendekatan patient-centered care. Aplikasi ini memudahkan pasien, sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan keluarga dan tenaga medis melalui data yang terdokumentasi dengan baik dan aman,” jelas dr. Nurma.
Ia menambahkan, keunggulan GENDHIS terletak pada kemampuannya menghubungkan perangkat sensor glukosa dengan aplikasi melalui sistem nirkabel berbasis IoT. Data hasil pemeriksaan dapat dikirim dan ditampilkan secara real-time, sehingga memungkinkan deteksi dini serta pengambilan keputusan medis yang lebih cepat.
“Inovasi seperti ini penting untuk menjawab tantangan tingginya angka diabetes di Indonesia. Harapannya, GENDHIS tidak berhenti sebagai produk inovasi kampus, tetapi bisa terus dikembangkan hingga memiliki dampak nyata di masyarakat,” imbuhnya.
Melalui inovasi ini, tim berharap GENDHIS dapat menjadi solusi digital yang membantu pasien diabetes menjalani pemantauan kesehatan secara mandiri, modern, dan berkelanjutan.[ina.ca]

