25 C
Sidoarjo
Thursday, February 19, 2026
spot_img

Gen Z Enggan jadi Manajer, Dosen FBE Ubaya Soroti Fenomena “Management Gap”


Surabaya, Bhirawa
Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (FBE Ubaya) menagapai fenomena Generasi Z yang menghindari posisi manajerial pada suatu perusahaan.

Terdapat pembahasan ramai dimana banyak anak-anak muda terutama generasi Z menghindari mempunyai kedudukan atau jabatan, dimana mereka beranggapan menjadi beban, Kamis (19/2).

Dosen FBE Ubaya, Dr. Elsye Tandelilin mengatakan fenomenal tersebut tidak hanya di Indonesia, tetapi berbagai riset membuktikan bahwa fenomena sedang bergejolak pada berbagai negara lain.

“Pada dunia manajemen, fenomena tersebut disebut sebagai The Management Gap atau Conscious Uncoupling from Management, yang mana bagi Gen Z menduduki sebuah jabatan manajerial bukanlah sebuah prestasi, melainkan beban yang tidak seimbang dengan imbalan yang diterima,” Jelasnya.

Lanjut Elsye mengukapkan bahwa pada aspek operasional jangka pendek, fenomena dapat menyebabkan kekosongan kepemimpinan serta peningkatan angka pengunduran diri karyawan (turnover) pada level middle manager, lebih jauh, fenomena dapat memicu krisis suksesi kepemimpinan pada level atas dalam jangka panjang.

“Kondisi finansial perusahaan dapat terguncang karena membutuhkan biaya tambahan guna melakukan rekrutmen eksternal dan pelatihan, dan terjadi penurunan inovasi organisasi akibat tidak adanya ‘jembatan’ yang menghubungkan visi strategis dan eksekusi teknis dalam perusahaan,” ucapnya.

Elsye menyampaikan bahwa untuk menghadapi permasalahan tersebut memerlukan pendekatan Individual Contributor (IC) untuk ciptakan kondisi yang imbang antara kontribusi dengan insentif yang diterima.

Berita Terkait :  Kisah Disabilitas Tuli yang kini Bekerja di PT Neo Sarana Medika Surabaya

“Jangan memaksa karyawan yang kompeten untuk menerima kenaikan jabatan hanya demi kenaikan gaji, tapi hadirkan sistem kompensasi yang didasarkan atas kinerja, kontribusi, atau prestasi, mengingat Gen Z menghindari pekerjaan administrasi, lakukan otomatisasi dengan bantuan kemajuan teknologi,” tutur Elsye.

Elsye menambahkan pentingnya kepemimpinan yang empati serta dibentuk melalui pelatihan supaya wajah manajemen dapat berubah dari pengawas menjadi fasilitator. “Pemimpin yang terbuka dinilai dapat memancing potensi kreativitas dan inovasi yang dapat mendukung keberlangsungan perusahaan,” katanya.

Elsye mengingatkan bagi perusahaan ciptakan komunikasi dua arah karena Gen Z, tidak cuman ingin diperintah, tapi juga didengar, mereka akan lebih termotivasi pendapat mereka dianggap relevan dan diterima pimpinan. [ren.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru