25 C
Sidoarjo
Tuesday, January 27, 2026
spot_img

Duka Bencana Ekologi

Berulang lagi banjir dan longsor di Cisarua, Bandung, dengan korban jiwa sebanyak 30 orang. Termasuk 23 personel Batalyon Infanteri 9 Marinir/ Beruang Hitam. Masih sekitar 100 orang lagi yang belum ditemukan, diduga tertimbun tanah longsor yang sangat tebal. Bencana ekologi semakin sering terjadi, disebabkan alih fungsi lahan. Terutama area lindung (dan konservasi) berubah menjadi perkebunan. Gubernur Jawa Barat, menduga kuat, kawasan Cisarua, Bandung Barat, telah lama berubah fungsi.

Bencana ekologi selalu menimbulkan kehancuran lebih mendalam. Kerugian harta benda, ke-pilu-an lahir batin. Menghancurkan segala harta, dan segenap jiwa. Kini, rumah tiada, sawah tiada, ternak (kambing, kerbau, dan lembu) juga tiada. Masjid dan mushala juga hancur. Semakin terasa pedih mendalam, karena banyak sanak kerabat menjadi korban jiwa. Bahkan yang bukan penduduk lokal, juga menjadi korban. Seperti dialami personel TNI-AL, yang sedang Latihan sebagai Satgas Pengamanan Perbatasan RI-Papua Nugini.

Tim SAR (Search and Rescue) gabungan yang mencari korban, juga wajib ekstra waspada. Karena Lokasi bencana di kampung Pasir Kuning, desa Pasirlangu, Cisarua, tergolong genting (rawan). Tanah merah yang gembur, sekaligus dengan ke-miring-an bervariasi. Area longsor bagai menjadi “bubur pasir.” Setiap saat bisa berubah menjadi longsor, manakala terguyur hujan deras lagi.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sepakat, dugaan kuat penyebab bencana longsor, adalah alih fungsi lahan. Penampakan area di lereng gunung Burangrang, sudah sangat mencemaskan. Banyak yang gundul, karena ditebangi. Termasuk hutan di sekitar desa yang melanda desa Pasirlangu, Cisarua. Semula kawasan hutan berubah menjadi areal Perkebunan, dan Pertanian. Terutama kebun sayur, kebun kopi, dan kebun teh. Sehingga longsor, hanya tinggal tunggu waktu.

Berita Terkait :  Kekalahan PDIP dan PKB di Pilgub Jatim, Surokim: Kualitas Figur Menjadi Faktor Utama

Bencana ekologi menjadi realita. Sebagian masyarakat mendengar suara gemuruh, pada akhir pekan ke-empat Januari 2026. Terjadi pada dinihari, pukul 03.00, masih jauh dari waktu subuh. Sehingga mayoritas warga desa masih terlelap. Namun suara gemuruh dan getaran gelombang longsor, membangunkan warga. Tetapi terlambat. Longsor segera menerjang menimbun kelelap sekitar 30 rumah. Sebagian lainnya, mengalami kerusakan berat, tetapi masih terlihat sisa puing.

Korban jiwa yang berhasil di-identifiksi tim DVI (Disaster Victim Identification) sebanyak 17 jasad. Termasuk personel TNI-AL (6 jenazah) yang kelelap lumpur tebal. Susahnya, tim Basarnas (dan BPBD) tidak bisa bekerja 24 jam. Disebabkan hujan deras, dan tanah genting yang telah menjadi “bubur pasir” sangat rawan. Juga tidak bisa diturunkan alat berat. Karena sering terjadi, pemerintah perlu mulai menyediakan alat pantau (teknologi) yang bisa menembus ketebalan lumpur.

Pemerintah propinsi Jawa Barat sudah mencanangkan relokasi warga, ke area lebih aman. Sedangkan kawasan akan kembali di-hutan-kan. Sebelum longsor, kawasan kampung Pasir Kuning, Cisarua, berupa kebun sayur, dan pusat bunga-bungaan. Nampak indah, namun sangat rawan longsor. Pemprop akan mencarikan lahan pengganti untuk kebun sayur dan bunga di bagian bawah.

Semakin banyak tragedi ekologi, hanya dalam dua bulan! Dimulai pekan akhir November 2025 sampai pekan ketiga Januari 2026. Menjadi pertanda bahwa catchment area (resapan air) semakin menyusut, khususnya di kawasan hulu. Seharusnya dipahami sebagai warning alamiyah. Terutama pada masa perubahan iklim. Padahal bencana ekologi bisa dicegah.

Berita Terkait :  Pemkot Malang Beri Pemulihan Trauma bagi Korban Ponpes Al Khoziny

UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, meng-amanat-kan mitigasi. Pada pasal 38 huruf a, diwajibkan adanya “identifikasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana.” Sangat mudah mengenali potensi bencana, karena pasti menampakkan tanda-tanda awal, tetapi sering diabaikan.

——— 000 ———

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru