Kab Malang, Bhirawa
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang menunjukkan optimisme dalam meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan, khususnya sektor persampahan.
Untuk meningkatkan pengelolaan sampah tersebut, maka sejumlah terobosan telah dilakukan, mulai dari pengembangan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) melalui edukatif atau wisata edukasi hingga pemanfaatan teknologi pengolahan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Hal ini disampaikan, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kabupaten Malang Ahmad Dzulfikar Nurrahman, Minggu (4/1), kepada wartawan, saat ini di Kabupaten Malang sudah ada TPA Wisata Edukasi Talangagung, Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, yang selama ini telah menjadi rujukan banyak daerah-daerah di Indonesia dalam mempelajari sistem pengelolaan sampah terpadu.
“Tidak berhenti di situ, pengembangan sistem pengelolaan terpadu juga dilakukan di TPA Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo,” tuturnya.
Djulfikar optimis bahwa DLH Kabupaten Malang senantiasa berkomitmen untuk meningkatkan kinerjanya. Selama ini TPA Wisata Edukasi Talangagung merupakan rujukan banyak pihak untuk belajar terkait penanganan sampah. Sedangkan di TPA Paras telah membangun berbagai fasilitas pengelolaan sampah, termasuk mesin Refuse Derived Fuel (RDF).
Produk RDF tersebut kini telah dipasarkan ke PT Semen Indonesia Group melalui Solusi Bangun Indonesia, sebagai bentuk pemanfaatan sampah menjadi energi alternatif. Sehingga untuk mencapai itu semua dibutuhkan dukungan anggaran yang tidak kecil.
“Tidak hanya dibutuhkan anggaran saja, tapi juga adanya kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci keberlanjutan program DLH. Dan upaya-upaya tersebut juga harus didukung masyarakat Kabupaten Malang yakni melalui Program Bersih Indonesia,” ujarnya.
Zulfikar menegaskan, pihaknya kini menekankan pentingnya untuk menjadikan penghargaan lingkungan sebagai instrumen perubahan perilaku, bukan sekadar capaian seremonial. Oleh karena itu, pihaknya terus berkomitmen penghargaan yang didapat DLH Kabupaten Malang sebagai instrumen perubahan perilaku, mendorong keberlanjutan program setelah penilaian selesai, dan mengintegrasikan capaian lingkungan ke dalam perencanaan pembangunan daerah.
Dalam kesempatan itu, dia menambahkan, DLH Kabupaten Malang sangat terbuka terhadap kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari komunitas, akademisi, dunia usaha, hingga media. Ia menyebut pengelolaan lingkungan hidup harus memerlukan kerja sama dengan berbagai lintas sektor.
“Kami mengarahkan kolaborasi pada inovasi pengelolaan lingkungan dari komunitas dan masyarakat, riset terapan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait penanaman pohon di lahan bekas tambang, penguatan pembiayaan melalui CSR sektor usaha, hingga penyediaan bibit tanaman untuk penghijauan TPA,” tandas Djulfikar. [cyn.kt]

