Gresik, Bhirawa
Untuk menguranggi angka pengangguran Dinas Tenaga Kerja ( Dianaker ), terus berbenah, sebanyak 40 peserta terbagi ke dalam dua jenis pelatihan. Yakni 20 peserta pelatihan teknisi perawatan AC, dan 20 peserta pelatihan menjahit. Dari beberapa desa, juga dari siswa sekolah menengah kejuruan ( SMK ) dan sekolah menengah atas ( SMA ).
Kepala Disnaker Gresik Zainul Arifin, bahwa kegiatan pelatihan dari pemuda desa dan siswa sekolah. Merupakan bagian dari ikhtiar jangka panjang, dalam membangun ikatan sumber daya manusia unggul dan berdaya saing.
Peserta tersebut berasal dari Desa Manyarejo, Manyar Sidomukti, Manyar Sidorukun, Karangrejo, Banyuwangi, Bedanten, Tajungwidoro, Kramat, dan Leran, serta tiga sekolah yaitu SMK Yasmu, SMA Yasmu, dan SMK As Sa’adah.
Dalam pelatihan tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga dibekali dengan dasar-dasar kewirausahaan guna menumbuhkan wirausahawan baru di lingkungan sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik. Peserta, nanti juga akan memperoleh sertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Alhamdulillah, kegiatan ini akhirnya bisa terlaksana. Ini merupakan bagian dari ikhtiar jangka panjang kami dalam membangun ikatan sumber daya manusia, melalui pelatihan kewirausahaan dan peningkatan kompetensi,”ujarnya.
Peran Disnaker tidak berhenti pada penyelenggaraan pelatihan semata, setelah pelatihan selesai pendampingan lanjutan tetap dilakukan. Agar para alumni benar-benar memiliki arah yang jelas, baik untuk terserap di dunia kerja maupun untuk mandiri sebagai wirausahawan.
Capaian positif dari program pelatihan yang telah dijalankan sebelumnya, berdasarkan data alumni pelatihan Disnaker Kabupaten Gresik tahun 2024. Sekitar 90 persen peserta telah terserap di dunia kerja, dan tidak melepas peserta begitu saja setelah pelatihan. Disnaker tetap melakukan pendampingan, agar mereka bisa terserap di dunia kerja atau mampu berdiri sendiri membuka usaha.
“Dari data yang kami miliki, sekitar 90 persen alumni pelatihan tahun 2024 sudah terserap di dunia kerja. Sisanya masih kami pantau secara intensif, sementara tahun 2025, data masih berjalan,”ungkapnya.
Ditambahkan Zainul, bahwa pentingnya sertifikasi kompetensi. Sebagai bekal utama tenaga kerja, di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Sebab dunia usaha dan industri lebih mengutamakan sertifikat keahlian, sebagai bukti kompetensi dibandingkan hanya mengandalkan ijazah pendidikan formal.
Sementara Kepala Balai Diklat Industri Surabaya Wido Eko Wardiono mengatakan, bahwa program ini sebagai bukti nyata sinergi antara pemerintah dan sektor industri. Pelatihan industri bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga bertujuan menciptakan lapangan kerja baru. Menumbuhkan wirausaha mandiri, serta menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan industri. [kim.wwn]

