26 C
Sidoarjo
Monday, March 30, 2026
spot_img

Dishut Antisipasi Potensi Peningkatan Karhutla pada Kemarau 2026


Pemprov, Bhirawa
Dinas Kehutanan Jawa Timur memproyeksikan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau 2026. Potensi tersebut dipengaruhi fenomena El Nino Lemah yang diperkirakan terjadi pada periode Juni-Agustus dan berlanjut hingga akhir tahun.

Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur, Jumadi, mengungkapkan berdasarkan proyeksi bersama Kementerian Kehutanan dan BMKG, risiko karhutla tahun ini diperkirakan lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

“Risiko kebakaran hutan tahun ini diproyeksikan meningkat seiring pengaruh El Nino lemah yang berpotensi berkembang hingga kategori moderat pada akhir 2026,” ujarnya, Senin (30/3).

Meski demikian, pihaknya memastikan berbagai langkah antisipasi telah disiapkan untuk menekan potensi kebakaran, termasuk melalui deteksi dini dan penguatan patroli di wilayah rawan.

Disebutkan Jumadi, sejumlah daerah yang masuk kategori rawan karhutla di Jawa Timur antara lain Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Bondowoso, dan Kabupaten Madiun. Terutama pada kawasan yang berbatasan langsung dengan lahan masyarakat.

“Dalam mengantisipasi ini, kami telah menyiapkan berbagai strategi, mulai dari deteksi dini dan pemetaan risiko menggunakan sistem pemantauan hotspot melalui sistem Sipongi Kementerian Kehutanan dan membuat pemetaan wilayah rawan, hingga patroli terpadu bersama Polisi Kehutanan, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api (MPA), “jelas Jumadi.

Lebih lanjut, penguatan sarana dan prasarana juga dilakukan, seperti pengecekan peralatan pemadaman, kendaraan operasional, serta pembangunan dan pemeliharaan sekat bakar. Hingga akhir 2025, tercatat sekat bakar sepanjang 21,2 kilometer telah dibangun di kawasan Tahura Raden Soerjo.

Berita Terkait :  Kris Dayanti Jawab Keraguan, Akhirnya Daftar Cawali Kota Batu ke KPU

“Kami juga secara masif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat guna mencegah praktik pembakaran lahan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia, termasuk penambahan personel pengendalian karhutla dan pembentukan MPA di wilayah sekitar hutan,”tambahnya.

Dalam penanganan di lapangan, Jumadi menyebut pihaknya juga mengandalkan sinergi patroli terpadu dan sistem peringatan dini (early warning system/EWS). Sistem ini dinilai efektif dalam mendeteksi titik panas secara cepat, memprediksi tingkat kerawanan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

“Patroli terpadu mampu menekan kejadian kebakaran besar karena titik api bisa terdeteksi sejak dini dan segera ditangani sebelum meluas,” jelas Jumadi.

Di samping itu, Dinas Kehutanan juga melakukan perekrutan pertugas, pembentukan MPA dan peningkatan kapasitas penambahan sumber daya manusia (SDM) dalkarhutla di UPT Tahura Raden Soerjo sebanyak 118 personel.

Jumlah tersebut terdiri dari Polisi Kehutanan sebanyak 63 orang, tenaga PPPK Manggala Agni 53 orang dan pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) di sekitar kawasan Tahura Raden Soerjo dan pada areal Kelompok Pemegang Persetujuan Perhutanan Sosial dengan jumlah total anggota sebanyak 215 orang.

“Kami juga rutin melaksanakan pembinaan serta peningkatan kapasitas petugas dan masyarakat untuk memastikan kesiapan dalam melaksanakan tugas dalam pengendalian kebakaran hutan,”terangnya.

Terkait respons cepat, Jumadi menegaskan bahwa setiap informasi titik api yang terdeteksi akan langsung ditindaklanjuti oleh petugas di lapangan untuk dilakukan verifikasi dan pemadaman. Waktu penanganan disesuaikan dengan kondisi lokasi, mulai dari beberapa jam di daerah sulit dijangkau hingga lebih cepat di wilayah yang mudah diakses.

Berita Terkait :  Ternyata Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer Mantan Driver Ojol

Sebagai informasi, tren karhutla di Jawa Timur sendiri dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penurunan signifikan. Pada 2023, luas kebakaran tercatat mencapai 12.328,8 hektare, kemudian turun menjadi 3.687,24 hektare pada 2024, dan kembali menurun menjadi 1.162,67 hektare pada 2025.

Meski tren menurun, Dinas Kehutanan menegaskan kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat potensi peningkatan risiko pada musim kemarau tahun ini.

Sementara itu, usai menghadiri eakor bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah di gedung Grahadi Kota Surabaya, Jumat (27/3), Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suhariyanto mengatakan mitigasi dini dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi dan musim kemarau perlu dilakukan.

Sebab, di Riau sudah terjadi kebakaran hutan dan lahan hampir 3.000 hektare, lalu di Natuna yang dulu-dulu tidak pernah terjadi kebakaran hutan dan lahan juga terjadi.

“Maka dari itu, bukan sesuatu yang berlebihan apabila hari ini kami BNPB dengan Jawa Timur meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi musim kemarau atau musim kekeringan,” terangnya.

Untuk mengatasi kekeringan kebakaran, Suharyanto mengatakan tidak bisa diatasi salah satu institusi. Melainkan pemerintah pusat berkolaborasi dengan desa, kecamatan kabupaten, provinsi sampai pemerintah pusat.

Dalam rapat tersebut, disepakati sejumlah langkah strategis, antara lain penguatan satuan tugas (satgas) darat untuk penanganan dini kebakaran, percepatan penyediaan sumber air melalui pembangunan sumur dan distribusi air bersih, serta kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca apabila diperlukan.

Berita Terkait :  Pj. Bupati Madiun Monev Pelaksananan Pekerjaan Kontruksi Tahab 6 TA 2024

“Tadi kami sepakat bersama Provinsi Jatim akan segera menggelar apel di semua kabupaten kota termasuk juga peralatan-peralatan yang dibutuhkan,” katanya.

Kemudian, mengatasi kekurangan air melalui pembuatan sumur untuk mengalirkan air dari puncak-puncak atau sumber-sumber air yang jauh. Jika memang diperlukan operasi modifikasi cuaca untuk mengisi umbung-umbung serta mengisi kolam-kolam renang karena di satu titik kebakaran sumber airnya juga bisa diambil dari kolam renang.

Selain itu, kesiapan sarana pendukung seperti helikopter water bombing juga menjadi perhatian. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, keterlambatan mobilisasi armada udara dapat memperbesar skala kebakaran. Oleh karena itu, direncanakan penempatan armada di wilayah strategis seperti Bandara Iswahyudi Madiun dan Bandara Juanda Surabaya.

“Karena prediksi BMKG puncak kemarau Agustus 2026 itu merah semua mulai Madiun sampai Banyuwangi sehingga kita antisipasinya dua pesawat. Sedangkan untuk jumlah unit tergantung kebutuhan nanti di lapangan, tapi intinya berapapun kami siapkan sebagai catatan kalau musim El Nino seluruh Indonesia kita siapkan 50,” pungkasnya. [ina.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!