Kabupaten Malang, Bhirawa
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah untuk meningkatkan gizi anak sekolah, mengatasi stunting, dan meningkatkan konsentrasi belajar, ternyata belum merata di semua sekolah.
Salah satu yang hingga kini belum mendapatkan fasilitas tersebut adalah sekolah di bawah naungan Yayasan Pendidikan Al-Khoiriyah, Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi.
Hal ini diungkapkan oleh wali murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Khoiriyah sekaligus mantan Komandan Banser Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur, H. Mudjib Idris atau Gus Mudjib, pada Selasa (7/4).
Menurutnya, sekolah-sekolah lain yang lokasinya tidak jauh dari MI Al-Khoiriyah sudah menerima MBG setiap hari, namun sekolah anaknya belum. Padahal, banyak wali murid yang telah menanyakan hal ini kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.
“Kami berharap siswa di bawah naungan yayasan ini bisa mendapatkan MBG seperti siswa lainnya. Kenapa harus ada diskriminasi? Siswa Al-Khoiriyah memiliki hak yang sama sebagai anak bangsa,” ujarnya dengan nada kesal.
Gus Mudjib juga menyoroti fakta bahwa lokasi Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) atau dapur MBG tidak jauh dari sekolah tersebut. Ia pun mempertanyakan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) terkait proses survei awal yang membuat sekolahnya tidak tercantum sebagai penerima.
“Jika benar ada diskriminasi, apa alasan BGN tidak mendaftarkan sekolah ini sebagai penerima program MBG?” tanyanya.
Sementara itu, di tempat terpisah, Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) MBG Kabupaten Malang yang juga Sekretaris Daerah (Sekda), Budiar Anwar, menyatakan bahwa seharusnya sekolah tersebut sudah mendapatkan MBG. Kemungkinan besar, sekolah tersebut belum masuk dalam peta penerima program.
“Saya akan mempertanyakan hal ini kepada Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang karena dinas itulah yang memegang data sekolah penerima MBG,” ujarnya.
Budiar juga mengucapkan terima kasih atas informasi yang disampaikan, sehingga pihaknya bisa segera menindaklanjuti kasus ini. [cyn.kt]


