Kota Batu, Bhirawa.
Keberadaan destinasi wisata baru di Kota Batu kini menjadi sorotan dan bahan evaluasi Pemerintah Kota Batu. Dan salah satu sorotan dilakukan terhadap tempat wisata Mikutopia yang merupakan destinasi baru di kawasan Agrowisata Bumiaji. Lonjakan pengunjung yang tak terkendali memicu kemacetan akibat masih lemahnya manajemen akses dan tempat parkir wisatawan. Sementara keberadaan distinasi legendaris di kota ini mampu menunjukkan eksistensi dan mampu menarik ribuan wisatawan.
Lonjakan kunjungan wisata di Mikutopia mulai terjadi sejak masa trial opening atau uji coba operasional pada 14 Maret 2026. Tingginya antusiasme masyarakat membuat jumlah pengunjung membludak, dan ini berlanjut setelah masa uji coba berakhir pada 20 Maret lalu.
Namun ramainya kunjungan wisatawan justru membuka persoalan baru. Karena padatnya arus kendaraan menuju lokasi wisata belum diimbangi dengan penataan parkir yang memadai. Akibatnya seringkali terjadi penumpukan di jalur masuk. Apalagi akses yang mengandalkan satu pintu untuk keluar-masuk kendaraan wisatawan sehingga menjadi titik krusial kemacetan.
Kondisi ini langsung menjadi sorotan Pemkot. Dikatakan Wali Kota Batu, Nurochman bahwa desain akses di lokasi wisata baru ini belum ideal sehingga menjadi penyebab utama krodit di lapangan.”Pintu masuknya belum ideal, masih in-out satu jalur. Ini akan kami masukkan dalam rekomendasi Amdal lalin,” tegasnya, Rabu (1/4).
Tak hanya akses, kapasitas parkir yang terbatas memperparah buruknya kondisi penataan kendaraan. Bahkan tak sedikitkendaraan roda empat terpaksa parkir di bahu jalan sehingga mempersempit ruang gerak kendaraan dan memperlambat arus lalu lintas.
Selain soal tata ruang, ternyata dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) serta Amdal Lalu Lintas (Amdal Lalin) masih dalam tahap proses. Destinasi wisata ini memang telah membuka masa uji coba kepada masyarakat. Namun harus dipastikan bahwa hasil kajian teknis tersebut benar-benar dijadikan pedoman dalam operasional wisata.
“Amdal Lalin dan Amdal lingkungan itu sebenarnya masih berproses. Hasilnya nanti, termasuk soal akses jalan menuju lokasi wisata, harus diperbaiki. Karena kalau tidak memenuhi, tentu melanggar analisa dampak lingkungan maupun lalu lintasnya,” jelas Nurochman.
Ia menegaskan bahwa Pemkot Batu memiliki aturan main yang jelas dalam pembangunan di kawasan Agrowisata Batu. Setiap rencana pembangunan wisata harus memperhatikan keseimbangan antara pembangunan fisik dan kelestarian alam.
Berdasarkan koordinasi yang dilakukan Pemkot Batu bersama Pemerintah Desa Tulungrejo, terdapat kesepakatan pemanfaatan lahan di kawasan tersebut. Proporsinya, hanya 30 persen yang boleh digunakan untuk bangunan, sementara 70 persen sisanya wajib dipertahankan sebagai kawasan hijau. “Karena itu siapapun pengusaha yang berinvestasi di Kota Batu, komitmen itu harus dipenuhi bersama dan ditaati bersama sehingga tidak membahayakan masa depan kawasan Wisata Kota Batu,” tambah Nurochman.
Keberadaan kawasan hijau sangat penting untuk menjaga daya dukung lingkungan Kota Batu. Karena Batu selama ini dikenal sebagai kota wisata sekaligus daerah tangkapan air bagi wilayah di sekitarnya. Jika pembangunan tidak terkendali, dikhawatirkan akan berdampak pada keseimbangan ekologis.
Pemerintah daerah saat ini tidak hanya memandang investasi dari sisi kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah kepatuhan terhadap regulasi serta komitmen menjaga kelestarian lingkungan.
Sebagai tindak lanjut, Pemkot Batu berencana melakukan pengecekan langsung ke lapangan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan realisasi pembangunan di kawasan Desa Tulungrejo benar-benar sesuai dengan komitmen awal. Khususnya, terkait pembagian lahan 30 persen untuk bangunan dan 70 persen kawasan hijau.
Pemkot berharap investasi baru di sektor pariwisata tetap dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam. Dengan begitu, perkembangan pariwisata di Kota Batu tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga tetap menjaga keberlanjutan lingkungan di masa depan.
Di sisi lain, keberadaan distinasi wisata baru di Kota Batu tak membuat destinasi lama sepi pengunjung. Mereka mampu menunjukkan eksistensinya sehingga mereka tak kehilangan pangsa pasar. Salah satunya adalah Taman Rekreasi (TR) Selecta yang berhasil menjaga eksistensinya sebagai destinasi wisata legendaris di Kota Batu.
Destinasi wisata yang telah berdiri sejak jaman Kolonial Belanda ini tetap diminati banyak wisata di tanah air. Bahkan di tahun ini, khususnya di musim libur Lebaran destinasi ini mulai menunjukkan peningkatan pengunjung di banding tahun sebelumnya.
“Khusus kunjungan wisatawan di libur Lebaran tahun ini mengalami peningkatan sekitar 10- 15 persen di banding libur Lebaran tahun lalu. Padahal saat ini daya beli masyaraka belum sepenuhnya pulih,” ujar Sujud Hariyadi, Direktur Utama TR Selecta.
Bahkan, di puncak libur Lebaran kali ini kunjungan wisata di TR Selecta mencapai 4000 wisatawan dalam sehari. Peningkatan ini menjadi penyemangat bagi TR Selecta untuk terus berbenah dan tampil lebih baik. Untuk itu manajemen telah mempersiapkan pembuatan wahana- wahana baru sebagaivmenjadi daya magnet untuk wisatawan datang berkunjung. “Kita telah siapkan beberapa wahana baru untuk lebih menarik wisatawan. Tapi kita masih merahasiakannya agar pada saat lounching bisa lebih surprisse,” tandas Sujud.[nas.ca]


