- Oleh Aditya Ramadhan
“Saya ingin jadi pembalap Indonesia pertama di MotoGP dan menjadi juara dunia”
Jakarta, Bhirawa
Sirkuit Internasional Chang, Buriram, Thailand, menjadi saksi lahirnya sejarah baru bagi dunia balap motor Indonesia. Pada seri pembuka Moto3 musim 2026 yang berlangsung Minggu (1/3), pembalap muda berbakat Veda Ega Pratama resmi melakoni debut kompetitifnya di level Grand Prix.
Tidak sekadar tampil, remaja asal Gunungkidul ini langsung menggebrak dengan finis di posisi kelima, sebuah pencapaian tertinggi yang pernah diraih pembalap Indonesia di kelas Moto3.
Hasil ini bukan sekadar keberuntungan pemula. Sepanjang 19 putaran yang melelahkan, Veda membuktikan bahwa dirinya bukan rookie sembarangan, tapi penantang serius yang siap mengacak-acak pembalap senior Moto3 asal Eropa.
Barangkali ada keraguan, apakah bocah Gunung Kidul itu akan goyah di panggung sebesar Grand Prix. Namun, performanya sejak Jumat (27/2) menjawab keraguan tersebut.
Memperkuat Honda Team Asia, Veda memulai akhir pekan dengan pendekatan yang sangat metodis. Pada sesi Latihan Bebas 1 (FP1), ia mencatatkan waktu 1 menit 41,854 detik yang menempatkannya di posisi keenam. Ketajaman Veda semakin terlihat di sesi berikutnya, di mana ia mempertajam catatan waktunya menjadi 1 menit 41,508 detik.
Konsistensi ini menjadi kunci keberhasilannya mengamankan tiket langsung ke kualifikasi kedua (Q2) tanpa harus melalui Q1 yang penuh risiko.
Puncaknya terjadi pada sesi Q2, Sabtu (28/2). Veda sempat menyengat di fase awal dengan menduduki posisi ketiga. Meski persaingan memanas di menit-menit akhir, ia berhasil mengunci waktu terbaik 1 menit 40,877 detik.
Hasil ini menempatkannya di grid kelima, hanya terpaut 0,789 detik dari peraih pole position, David Almansa. Memulai balapan dari baris kedua di debut perdana adalah pesan jelas bagi rival-rivalnya.
Saat lampu hijau menyala pada Minggu siang, tekanan mental benar-benar diuji. Veda sempat mengalami kesulitan di lap-lap awal, sebuah fenomena wajar bagi debutan yang harus berhadapan dengan agresi puluhan pembalap senior. Ia sempat tercecer hingga posisi ketujuh.
Namun, di sinilah letak keistimewaan Veda. Alih-alih panik, ia menunjukkan manajemen ban dan kontrol ritme yang luar biasa.
Memasuki lap ketujuh hingga kesembilan, pembalap berusia 17 tahun ini melakukan rangkaian manuver overtake yang klinis di tikungan-tikungan sempit Buriram. Ia kembali merangsek ke rombongan terdepan, bersaing ketat dengan nama-nama besar seperti Alvaro Carpe dan Adrian Fernandez.
Duel di lintasan lurus Buriram yang terkenal menuntut slipstream sempurna dimainkan Veda dengan cerdik. Ia beberapa kali sempat mencicipi posisi ketiga (zona podium). Namun, pengalaman berbicara di lap terakhir. David Almansa (Liqui Moly Dynavolt Intact GP) keluar sebagai pemenang dengan waktu 32 menit 14,186 detik, disusul Maximo Quiles yang hanya terpaut tipis 0,003 detik.
Veda akhirnya menyentuh garis finis di posisi kelima dengan selisih 9,687 detik dari pemenang. Meski gagal naik podium, raihan 11 poin di balapan perdana adalah modal yang sangat masif untuk klasemen kejuaraan dunia.
Bukan hasil instan
Keberhasilan Veda di Buriram bukan hasil instan. Di balik debut itu, ada proses belasan tahun yang sudah dilaluinya sejak kecil.
Fondasi terkuatnya adalah di tahun 2025. Sebagai runner-up Red Bull Rookies Cup 2025 dengan total 181 poin dan tiga kemenangan (dua di Mugello, satu di Sachsenring), Veda sudah terbiasa dengan karakter sirkuit Eropa dan tekanan tinggi.
Secara teknis, Veda memiliki gaya balap yang agresif namun terukur. Di Buriram, terlihat bagaimana ia mampu menjaga stabilitas motor saat pengereman keras (hard braking), yang menjadi titik kekuatannya sejak di Asia Talent Cup.
Kekalahan tipisnya dari peraih podium kali ini murni karena faktor jam terbang di kelas Moto3 yang menggunakan mesin berbeda dengan motor Rookies Cup. Namun, secara kecepatan murni, Veda sudah setara dengan para penghuni lima besar dunia.
Performa impresif Veda di Rookies Cup 2025 bahkan tak luput dari pantauan para petinggi tim besar. Nama Veda kini menjadi buah bibir di paddock MotoGP. Direktur Pemasaran dan Komersial Gresini Racing Carlo Merlini secara terang-terangan menyebut Veda sebagai talenta Asia paling kuat saat ini.
Bahkan, pembalap MotoGP Alex Marquez pun memberikan pengakuan spontan mengenai bakat Veda. Menariknya, terdapat rumor yang berhembus mengenai kedekatan personal antara manajemen Veda dengan pihak Gresini, mengingat anak dari Merlini dikabarkan menjadi asisten pribadi Veda.
Apakah ini sinyal bahwa Veda adalah aset masa depan yang akan “dibajak” ke keluarga besar Ducati atau Gresini di masa depan? Waktu yang akan menjawab.
Jejak langkah dari Gunungkidul
Jika kita menengok ke belakang, perjalanan karier Veda adalah bukti nyata dari proses pembinaan yang sehat. Dibimbing langsung oleh sang ayah, Sudarmono, yang merupakan mantan pembalap nasional, Veda sudah mengenal sirkuit sejak usia enam tahun.
”Ini semua bermula saat saya berusia enam tahun. Saya suka balapan karena sering menonton ayah saya latihan dan balapan,” ungkap Veda.
“Sirkuit” latihan pertama Veda adalah area parkir pasar sapi, Pasar Hewan Siyonoharjo di Gunung Kidul, Yogyakarta. Dilatih langsung oleh sang ayah.
Veda memulai dari balapan tingkat nasional lebih dulu, lalu secara perlahan naik bertahap ke level-level selanjutnya. Awal penting kariernya bermula pada 2023 ketika ia menjuarai Asia Talent Cup dengan sembilan kemenangan dari 12 balapan, sekaligus menjadi pembalap Indonesia pertama yang merebut gelar tersebut. Ia menyebut keberhasilan itu sebagai pencapaian terbesar dalam karier awalnya.
Di tahun 2024, Veda menjajal kompetisi RedBull Rookies Cup pertamanya yang berakhir di peringkat delapan. Pada 2025, Veda menutup musim sebagai runner-up di kompetisi yang sama dengan total 181 poin. Ia mencatatkan tiga kemenangan, dua di Mugello dan satu di Sachsenring, serta enam podium sepanjang musim.
Konsistensinya menjadikannya satu-satunya pembalap yang mampu memberi tekanan rutin kepada pemuncak klasemen Brian Uriarte. Selisih akhir antara keduanya mencapai 55 poin, sementara Veda unggul 10 poin atas Hakim Danish yang finis ketiga di RedBull Rookies Cup 2025.
Performa di Rookies Cup menjadi faktor utama promosi Veda ke Moto3 musim 2026.
Dalam satu kesempatan wawancara, Veda pernah mengungkapkan cita-citanya.
“Saya ingin jadi pembalap Indonesia pertama di MotoGP dan menjadi juara dunia.”
Perjalanan Karier Veda Ega Pratama
2016
Top 4 National Motocross 50cc (Indonesia)
2017
Top 15 National Motocross 65cc (Indonesia)
2018
Juara Honda Dream Cup – Honda Sonic 150R (Indonesia)
Juara Motoprix Championship – Honda Sonic 150R (Indonesia)
Top 15 Motoprix MP6 – Honda Blade 125
2019
Juara One Prix Championship Beginner Class – Honda Sonic 150R
Juara Honda Dream Cup Rookie Class – Honda Sonic 150R
Juara Astra Honda Racing School – Honda NSF 100
2021
Top 10 Indonesian One Prix – Honda Supra GTR150
Asia Talent Cup (Wild Card, Top 10)
2022
Juara Indonesian One Prix Rookie Class – Honda Supra GTR150
Peringkat 3 Asia Talent Cup – 3 kemenangan
2023
Juara Asia Talent Cup – 9 kemenangan dari 12 balapan
Peringkat 3 Asia Road Racing Championship – Honda CBR250RR
2024
Peringkat 8 Red Bull MotoGP Rookies Cup
2025
Runner-up Red Bull MotoGP Rookies Cup (181 poin)
Peringkat 10 FIM JuniorGP World Championship
2026
Debut Moto3 bersama Honda Team Asia – finis posisi kelima pada seri pembuka di Buriram, Thailand. [ant.kt]


