26 C
Sidoarjo
Sunday, March 15, 2026
spot_img

Dari Sentuhan Jadi Lantunan, Semangat Siswa Tunanetra Pelajari Al-Qur’an Braille


Oleh:
Rendy Agung Prakoso, Kota Surabaya

Jari-jari para siswa tunanetra bergerak perlahan menyusuri lembaran Al-Qur’an Braille, mereka membaca bukan dengan mata, melainkan dengan sentuhan, setiap titik timbul pada halaman kitab suci itu diraba dengan penuh konsentrasi, kemudian dilafalkan menjadi ayat-ayat Al-Qur’an yang mengalun pelan dari bibir mereka, proses membaca membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta latihan yang tidak sedikit.

Keistimewaan itulah membuat kemampuan membaca Al-Qur’an Braille menjadi sesuatu yang luar biasa, para siswa harus menghafal pola titik-titik Braille sekaligus memahami tajwid dan makna bacaan.

Dan , walapun keterbatasan penglihatan, semangat mereka untuk belajar justru tidak surut, mereka Ramadan jadi momen istimewa untuk semakin mendekatkan diri dengan Al-Qur’an melalui cara yang berbeda melalui sentuhan dan pendengaran yang lebih tajam. Rabu, (11/3/2026)

Kepala Sekolah SLB A YPAB Surabaya, Oktavia eka kusumaningtiyas, mengukapkan program ini difokuskan pada pembelajaran Al-Qur’an dan Iqro Braille, walapun memiliki keterbatasan penglihatan, semangat mereka untuk belajar mengaji justru terlihat begitu kuat.

“Semua materi mengaji sekolah siapkan bentuk Braille, media Braille menjadi instrumen utama dalam proses pembelajaran Al-Qur’an bagi para siswa. Seluruh materi pembelajaran, mulai dari tingkat dasar Iqro hingga Al-Qur’an, telah dikonversi ke dalam format Braille agar dapat dipelajari secara mandiri oleh siswa tunanetra,” ucapnya.

Lanjut Oktavia menjelaskan metode pembelajaran diterapkan disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa, bagi siswa tunanetra murni, fokus pembelajaran diarahkan pada kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an Braille secara penuh, sementara siswa yang memiliki hambatan intelektual sehingga kesulitan memahami sistem Braille, pendekatan yang digunakan lebih menitikberatkan pada metode hafalan ayat-ayat suci.

Berita Terkait :  Disnakertrans Jatim Sambut CPC Taiwan, Dorong Kolaborasi Green Productivity

“Adapun siswa dengan multi hambatan atau MDVI, seperti tunanetra yang juga memiliki kondisi autisme atau hambatan fisik lain, pembelajaran dilakukan melalui metode pendengaran, guru memanfaatkan berbagai media, termasuk audio dan video digital, supaya siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran mengaji dengan nyaman,” tuturnya.

Selama Ramadan, kata Oktavia sekolah melakukan penyesuaian kegiatan belajar, jadwal ekstrakurikuler dan olahraga diganti dengan sesi mengaji penuh, program tersebut diikuti oleh seluruh jenjang pendidikan, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga kelas 6 sekolah dasar.

“Tujuannya membaca Al-Qur’an Braille supaya anak-anak tidak tertinggal dengan siswa pada umumnya dalam hal pendalaman agama,” ucapnya.

Oktavia menambahkan bahwa antusiasme para siswa terlihat jelas, di sela waktu bermain, beberapa di antara mereka masih terlihat membawa Al-Qur’an Braille sambil tetap berlatih membaca.

“Melalui kegiatan berharap para siswa tidak hanya terampil secara teknis dalam membaca Braille, tetapi juga mampu meningkatkan amal ibadah dan meraih keberkahan di malam Nuzulul Qur’an,” imbuhnya.

Di antara para siswa, ada kisah inspiratif dari murid kelas 6 bernama Muhammad Akbar Sadewa dan Muhammad Akbar Nakula, mereka begitu menikmati kegiatan mengaji selama Ramadan.

Bagi Sadewa, Ramadan seharusnya diisi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dari pada sekadar menghabiskan waktu untuk tidur.

“Ngaji saat bulan Ramadan itu berpahala, jadi jangan tidur terus, lebih baik ngaji,” kata dengan penuh keceriaan.

Berita Terkait :  Wali Kota Batu Apresiasi Inovasi Smart Farming Poltekad

Kecintaannya terhadap Al-Qur’an telah tumbuh sejak usia dini, Sadewa mengaku mulai belajar mengaji sejak berusia dua tahun. Awalnya ia belajar dengan mendengarkan lantunan ayat suci, sebelum akhirnya mempelajari metode membaca Braille.

“Sebelum membaca Al-Qur’an dulu saya ingat sering di degarkan bunyi ayat-ayat suci oleh orang tua, jadi saat mengaji sekarang lebih mudah karena sudah terbiasa dengan suaranya,” ceritanya.

Sementara itu, Nakula sudah menghapal sampai Al-Qur’an 7 Juz, awal menyukai karena mendegarkan sang kakak sering mengaji.

“Saya suka mengaji sekarang saat mendegarkan kakak mengaji jadi muncul rasa tertarikan, selain di sekolah saat juga setiap hari mengaji di rumah,” ujar Nakula.

Sekarang selain membaca mengunakan huruf Braille, juga mengunakan Al-Qur’an elektronik dengan mengunakan handphone.

“Terkadang selain membaca langsung dengan Al-Qur’an huruf Braille, saya mengunakan Al-Qur’an elektronik nantinya saya mendegar suara audio yang muncul dengan lantunan ayat-ayat suci,” imbuhnya. [ren.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!